Berita

SUBSCRIBE HERE!

Enter your email address. It;s free!

SUKRETANING PAMANGKU

On Senin, April 27, 2026



Olih:

Ida Pandita Mpu Jaya Acharyãnanda

(Dr.Drs. Wayan Miartha, M.Ag)

 

A. PENGANTAR

          Kehadiran Pamangku  merupakan suatu kebutuhan bagi umat Hindu di manapun ia berada. Kapasitas dan fungsinya menjadi sangat  penting atau  vital  seperti halnya kehadiran Pandita.  Keberadaan dan perannya sangat dibutuhkan tatkala umat Hindu  melaksanakan kehidupan keberagamaan dalam dimensi sosial atau keberagamaan dalam aspek komunal. Dalam tindakan ritual yang bersifat vertikal,ia hadir sebagai  media perantara bagi umat untuk berkomunikasi dengan Hyang Widhi dengan kata lain sebagai Imam Upacara atau Manggala Upacara. Kemudian dalam aspek sosial horisontal perannya diharapkan dapat menjadi panutan dapat memberi teladan serta contoh yang baik bagi masyarakat sekitarnya, bahkan jika mungkin harus dapat menuntun dan membina warga masyarakat untuk dapat melakoni kehidupan dan mencapai kemuliaan sekaligus pembebasan sesuai dengan petunjuk sastra agama.

            Sama halnya dengan Pandita, untuk menjadi Pamangku yang idial tidaklah mudah, ia merupakan ikon dari realitas yang suci, yang hidupnya selalu melaksanakan urusan dengan mengikuti pola-pola yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Semua prilakunya dikontrol oleh otoritas yang sacral, artinya struktur dan kontruksi dari Pamangku dibangun di atas fondasi yang sacral/kesucian. Hanya dengan cara demikian  keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya akan dicapai.

            Seorang Pamangku sebagai media perantara sekaligus tangga penghubung ataupun poros dunia (axis mundi) merupakan “simbol kenaikan dan menurunkan” yang vertical, yang menghubungkan Hyang Widhi dengan umat Hindu, yang sacral dengan yang profan, dan sekaligus sebagai “simbol perjumpaan” untuk menyatu dengan Tuhan.          

Untuk itu sosok Pamangku merupakan sebuah cosmos atau hierofani yakni pusat keteraturan dimana Tuhan merealisasi dan sekaligus sebagai teofani atau manusia dewa.

 

B. KONSEP.

          Secara etimologi, kata Pamangku berasal dari bahasa Jawa Kuna dari kata “Pangku”, yang artinya menyangga atau menopang. Kata menyangga atau menopang rupanya parallel dengan arti kata dharma dari kata dhr” menjadi “dhara” yang artinya juga menyangga. Kata pangku ini mendapat awalan ‘pa” mengalami nasalisasi menjadi Pamangku dalam lidah Bali diucapkan Pemangku. Dihubungkan dengan kata dharma yang memiliki arti sama, maka seorang Pamangku adalah penyangga dharma sekaligus  figur dari perwujudan dharma itu sendiri (Sang Paragan Dharma).

Menurut Lontar Widhisastra kata Pamangku, diuraikan menjadi “ PA” bermakna “Pastika pasti” yang artinya paham akan hakekat kesucian diri. “MANG” bermakna “Wruh ring tata-titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran agama. “MANG” juga merupakan aksara suci untuk “Iswara” atau Siwa. Menurut pustaka Purgamasasana, Dewa Iswara merupakan Guru Niskala bagi warga desa pakraman, Baliau Sang Hyang Iswara juga dijuluki Sang Hyang Ramadesa.  KU” bermakna “kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada aturan-aturan kebenaran yang berasal dari  Tuhan atau Hyang Widhi Wasa

            Kemudian Lontar Sukretaning Pamangku, menguraikan bahwa, Pamangku adalah perwujudan I Rare Angon, yakni manifes personal dari Dewa Siwa dalam fungsinya sebagai Dewa Gembala, seperti dinyatakan sebagai berikut;

“Iki sukretaning Pamangku ring kahyangan, wenang tegesing Pamangku kawruhakna kang mawak Pamangku ring sariranta, I Rare Angon mawak Pamangku ring sariranta.”

Terjemahannya

Ini tata tertib tentang Pamangku di suatu pura, yang dimaksud dengan Pamangku untuk diketahui, yang berwujud Pamangku dalam dirimu, sesungguhnya I Rare Angonlah yang berwujud Pamangku dalam dirimu.

 

Sesuai dengan ketetapan Maha Sabha II Parisada Hindu Dharma tanggal 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan Pamangku adalah mereka yang telah melaksanakan upacara yajna Pawintenan sampai dengan adiksa widhi tanpa ditapak dan amari aran.  Dengan demikian pamangku adalah rohaniawan yang statusnya masih tergolong ekajati.  Selain itu rohaniawan yang masih berstatus ekajati adalah Wasi, Mangku Balian, Mangku Dalang, Pengemban, Dharma Acarya,. Beliau-beliau ini tidak memiliki ikatan dengan suatu tempat suci tertentu. Oleh karena itu rohaniawan ini dalam melaksanakan tugasnya lebih bersifat umum, seperti; menyelesaikan upacara perkawinan, upacara manusa yadnya lainnya, upacara kematian. Semua rohaniawan yang tergolong ekajati ini diberi sebutan Pinandita, yang artinya dipanditakan atau wakil dari Pandita.

 

C. PROSEDUR MENJADI PAMANGKU

          Eksistensi seorang Pamangku sangat ditentukan oleh suatu kebutuhan atau tuntutan. Apakah itu kebutuhan pribadi, kelompok maupun umum. Untuk kebutuhan pribadi seseorang menjadi Pamangku tidak didasarkan pada pemilihan public, melainkan atas dasar kesadaran pribadi yang bersangkutan untuk menjadi Pamangku. Kesadaran pribadi sering dilatar belakangi oleh sakit yang mendahului karena dipilih oleh kekuatan  niskala walaupun yang bersangkutan tidak ngemong suatu pura.

             Untuk memenuhi kebutuhan kelompok atau umum prosedur pemilihannya atau pengangkatannya dapat mengikuti beberapa cara.

1.      Pemilihan Pamangku secara langsung dan demokratis berdasarkan penunjukkan atas dasar suara terbanyak dari suatu komunitas tertentu yang membutuhkan adanya Pamangku tersebut. Cara inipun harus pula memenuhi berbagai persyaratan di atas. Terlebih dahulu tenttu ditetapkan beberapa calon yang telah memenuhi persyaratan. Kemudian calon dipilih secara demokratis dalam suatau paruman. Calon yang memperoleh suara terbanyak itulah yang ditetapkan menjadi Pamangku.

2.      Pemilihan Pamangku berdasarkan keturunan. Pemilihan model ini tidak banyak mengalami hambatan, mengingat para keturunan dari Pamangku itu telah menyadari sebelumnya pada waktunya nanti akan melanjutkan pengabdian leluhurnya/orang tuanya untuk ngayah sebagai Pamangku. Walaupun pemilihan ini tinggal menunjuk saja dari keturunan seorang Pamangku oleh masyarakat, namundemikian siapa yang ditunjuk tidak boleh tergolong ke dalam cedaangga atau cacat fisik maupun cacat moralitas dan kepribadiannya.

3.      Pemilihan Pamangku dengan cara nyanjan, yakni dengan menggunakan mediator seorang Mangku Lancuban atau Balian Katakson. Prosesinya diawali dengan matur piuning di Pura dimana Pamangku tersebut akan melaksanakan tugasnya. Kemudian mediator tersebut akan kerauhan, jika tidak ada hambatan, maka mediator tersebut akan menyebut nama  seseorang yang dipilih untuk jadi Pamangku. Pemilihan dengan cara ini bisa diulang bilamana dipandang kurang tepat dan tidak sesuai dengan harapan. 

4.      Pemilihan dengan membagikan lekesan, cara seperti ini lebih mendekati seperti undian yang dilakukan secara tradisional. Lekesan yang akan dibagi atau diundi terlebih dahulu dipermaklumkan melalui penyucian kepada Hyang Widhi yang berstana di pura yang memerlukan Pamangku. Dari sekian banyak lekesan tersebut ada satu yang diberi kode berbeda di dalamnya. Setelah dibagikan bagi yang memperoleh  kode berbeda di dalamnya ialah terpilih menjadi Pamangku. 

     

       Setelah calon Pamangku ditetapkan maka dilanjutkan dengan pengukuhan melalui upacara pawintenan Pamangku. Yakni upacara ritual penyucian diri secara lahir dan batin  bagi seseorang untuk memasuki swadharmanya sebagai pamangku atau Pinandita, dan memiliki konsenkwensi kewenangan untuk memimpin pelaksanaan upacara. Mengenai upacara pawintenan ini dinyatakan dalam lontar Tattwa Sivapurana sebagai beriikut

            “Iti tingkahing krama desa, banjar, dadya ngadegang pamangku, mangda maupakara rumuhun patut tingkahing pangupakaraning pamangku. Apang tetep parikramanya mawinten, pawintenannya marajah Ghana, kajaya-jaya olih pandita Buddha yadyapin Siwa…”

 

            Terjemahannya.

             Ini tatacara masyarakat desa, banjar, pura keluarga mengangkat pamangku, supaya diupacarai terlebih dahulu sesuai dengan upacara pengangkatan pamangku, agar lengkap upacara pawintenannya. Pawintenannya digambar Ghana, dipuput/diselesaikan oleh pandita Buddha dan Siva.

 

            Walaupun secara institusi formal seorang Pamangku tidak memasuki silakramaning aguron-guron, namun  agar tidak terjadi pelanggaran dalam melaksanakan tugas sebaiknya seorang Pamangku mengangkat Guru Pembimbing dalam hal ini siapa yang menyelesaikan upacara pawintenan tersebut, seperti yang dinyatakan dalam lontar Purwagamasasana sebagai berikut.

Iki ling ing Purwwa-Gama-Sesana; Yan hana wwang kengin kumewruha ri kahananing Sanghyag aji Aksara, yogya ngupadhyaya awak sariranta ruhun, lamakana tan keharananing letuh, lamakana weruh rijatining manusa, wenang sira mawinten rumuhun mwang katapak denira Sang Guru Nabe, apan sira Sang Guru Nabe bipraya angupadhyaya nuntun sang sisya kayeng kawekas, mawastu mjiil sakeng aksara ngaranya.

 

Yan hana wwang kumewruha rikahananing sanghyang aji-aksara, tan pangupadyaya / maupacara mwah tan katapak, tan paguru, papa ikang wwang yan mangkana, babinjat wwang mangkana ngaranya, apan mijilnya tan paguru, kweh prabhedanya, idepnya dawak, yan benjangan padhem wwang mangkna, atmanya manados entiping kawah candra ghomukha. Yan manresti malih matemahan tiryak yoni, amangguhaken kasangsaran.

 

        Malih hana piteketku ri kita kabeh, sang mahyun kumawruha ring kahananing Aji-aksara mwang kapemangkuan, yan hana wwang durung Dwijati/ abhodgala, tan kawenang wehana gumelaraken Sodasa-Mudra, kopadrawa sira denira Sang Hyang Asta-dewata. Kewala ikang amusthi juga kawenangan wehana ri wwang durung Adhiksa Dwijati, ri sang harep anembah Dewa, amreyogakna Sang Hyang ri daleming sarira. Mangkana piteket-Ku ri wwang kabeh, haywa marlupa, hila-hila dahat.

 

          Terjemahannya.

            Ini ucapan sastra Adhi Purwwagama sasana;”Jika ada seseorang bermaksud mengetahui segala keberadaan ilmu pengetahuan kesucian, sebaiknya terlebih dahulu bergurulah kamu, agar tidak disebut cemar, agar tahu hakikat sebagai manusia, wajib kamu melaksanakan pawintenan, serta mendapat pengesahan/pembaptisan oleh Guru Rohani, karena Guru Rohanilah yang akan memberi pelajaran serta menuntun siswa rohani samapai di kemudian hari, yang menyebabkan dirimu lahir dalam dunia spiritual.

 

            Jika ada seseorang bermaksud mengetahui segala keberadaan ilmu pengetahuan kesucian, namun tidak berguru, tanpa upacara pengesahan tanpa dibaptis serta tanpa pembimbing spiritual, ternodalah orang yang demikian itu, ibarat anak jadahlah orang yang demikian itu, karena lahir tanpa bimbingan guru rohani tanpa upacara penyucian, banyak cacatnya orang yang demikian itu, pikiran pendek, prilakunya tidak terpuji tak ubahnya seperti binatang termasuk kecerdasannya. Saat kematiannya nanti roh orang yang demikian itu akan disiksa oleh algojo naraka menjadi kerak kawah naraka, jika menjelma dikemudian menjadilah ia binatang rendahan  serta senantiasa menemui penderitaan.

 

            Sekarang ada nasihat-Ku lagi kepadamu jika ada seseorang belum dibaptis menjadi Pandita, jangan diberikan memperagakan Sodasa Mudra, akan kena kutuk mereka oleh Sanghyang Astadewata, hanya dengan mamusti saja hakmu bagi yang belum menjadi Pandita pada saat kamu hendak memuja Tuhan, dan menyatukan Nya dalam dirimu. Demikian nasihat-Ku kepada manusia semua, jangan sampai lupa sangat berbahaya hukumnya.     

         


D. JENIS PAMANGKU

            Menurut Lontar Raja Purana Gama, Ekajati yang tergolong pamangku ini  dibedakan menjadi 12 ( dua belas ) jenis, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu ;

 

1. Pamangku Kahyangan

Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang  meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku.pemucuk dan mengemban tugas  dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang di emongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta Dangkahyangan.

 

2. Pamangku Pamongmong

            Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang  memiliki tugas sebagai pebantu dari Pemangku Gde di suatu pura, yang sering juga disebut Pamangku alit, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara, dan hal-hal lainnya sesuai dengan perintah Pemangku Gde.

 

3.  Pamangku Jan Banggul

                Pamangku Jan Banggul juga disebut dengan sebutan Jro Bahu,  disebut juga Pamangku alit, yang bertugas sebagai pembantu Pemangku Gde, dalam menghaturkan atau ngunggahang bebanten, menurunkan arca pratima, memasang bhusana pada pelinggih, nyiratan wangsuh pada dan memberikan bija kepada umat yang sembahyang serta hal-hal lainnya  sesuai dengan perintah / waranugraha Pemangku Gde pada pura tersebut.

 

4.  Pamangku Cungkub

            Pamangku Cungkub yaitu Pamangku yang bertugas di Mrajan Gde yang memiliki jumlah Palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.

5.      Pamangku Nilarta

            Pamangku Nilarta adalah Pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai pura Kawitan atau pura Kawitan dari keluarga tertentu.

 

6. Pamangku Pandita

         Pamangku Pandita memiliki tugas muput yadnya seperti Pandita. Adanya Pemangku jenis ini didasarkan atas adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yadnya diselesaikan oleh pemangku tersebut, dengan mohon tirtha pamuput dengan jalan nyelumbung.

 

7. Pamangku Bhujangga

         Pamangku Bhujangga adalah pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai paibon. 

 

8.  Pamangku Balian

         Pamangku ini hanya bertugas melaksanakan swadharma Balian, dapat nganteb upacara atau upakara hanya yang berhubungan pengobatan terhadap pasiennya.

 

9. Pamangku Dalang

         Pamangku yang melaksanakan swadharma sebagai Dalang, dapat nganteb upacara atau upakara yang hanya berhubungan dengan swadharma Pedalangannya saja, seperti mabayuh pawetonan atau Nyapuh Leger.

 

10. Pamangku Tapakan /Lancuban

         Pamangku ini hanya bertugas apabila pada suatu pura melaksanakan kegiatan nyanjan atau nedunan Bhatara nunas bawos, untuk kepentingan pura tersebut untuk memohon petunjuk dari dunia niskala.

11.  Pamangku Tukang

Pamangku ini  juga disebut Pamangku Undagi, pamangku yang paham akan ajaran Wiswakarma serta segala pekerjaan tukang, seperti Undagi, Sangging, Pande dan sejenisnya, dapat nganteb upacara atau upakara hanya sebatas yang berhubungan dengan tugas beliau sebagai tukang.

 

12. Pamangku Kortenu, 

            Pamangku Kortenu adalah Pemangku yang bertugas di Pura Prajapati, selain nganteb di Pura yang di emongnya, juga dapat nganteb upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya, seperti Ngulapin Pitra pada saat akan melaksanakan upacara Atiwa-tiwa dan lain sebagainya.

         Selain Pamangku di atas di beberapa daerah di Bali di kenal pula yang namanya Pamangku Sonteng atau Balian Sonteng. Pamangku ini tidak tergolong ke dalam Pamangku Tapakan Widhi yang berugas di tempat suci atau pura . Tugasnya menyelesaikan upacara yang biasa diselenggarakan di luar pura, seperti manusa yajna dari macolongan sampai dengan wiwaha.

         Kemudian sesuai dengan hasil Sabha II Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat tahun 1968, diperkenalkan isitilah Pinandita selaku pembantu mewakili Pandita. Walaupun Pinandita ini ditetapkan selaku pembantu mewakili Pandita namun wewenangnya tidaklah menyamai wewenang Pandita. Hanya dalam keadaan tertentu khususnya di luar daerah Bali Pinandita diperkenankan mewakili Panditra untuk mengantar semua jenis yajna dengan cara yang berlaku bagi seorang Pamangku.   

 

E. ATRIBUT

         Pamangku sebagai rohaniawan yang masih tergolong ekajati atau walaka, dalam hal berbusana hanya diatur pada saat melaksanakan tugas kepemangkuannya saja. Sedangkan dalam keadaan sehari-hari tidak diatur secara khusus. Hal ini disebabkan karena tidak terjadi perubahaan atau penggantian wesa seperti yang berlaku pada seorang Pandita. Pamangku masih dibenarkan untuk agotra atau bercukur sebagai walaka umumnya. Hanya saja saat Pamangku melaksanakan tugasnya sesuai dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu VI tahun 1980, Pamangku diwajibkan berbusana lengkap serba putih, dari bentuk destar mongkos nangka, baju, kain dan kampuh. Bagi yang memelihara rambut  dimasukkan ke dalam destar dengan cara dikonde, sehingga tidak terurai. Kemudian   tidak dibenarkan mengenakan busana pada waktu memuja seperti busana Pandita, termasuk juga dalam hal tatanan dandanan rambut.

         Perlengkapan Pamangku dalam melaksanakan tugasnya tidak memakai perlengkapan sebagaimana yang dipergunakan oleh Pandita. Yang dipergunakan oleh Pamangku adalah genta, dupa sasirat, sangku atau payuk, serta dulang sebagai alasnya. 

           

F. FUNGSI

1. FUNGSI SPIRITUAL

            Pamangku adalah rohaniawan dan sekaligus seorang spiritualis. Sebagai seorang rohaniawan dia dituntut melaksanakan fungsi manifesnya. Fungsi manifest ini akan dapat berjalan secara maksimal apabila pamangku memiliki spiritualitas yang mantap. Spiritualitas yang mantap akan terwujud apabila pamangku melaksanakan fungsi latennya, artinya dimana setiap langkah dan tindakannya harus mencerminkan pribadi yang dilandasi oleh   kesucian itu. Sebagai media bagi umat untuk Tuhan, pelembagaan  kesucian itu tidak hanya mengalir dari luar dalam bentuk prilaku dan yang paling penting adalah bagaimana pamangku itu membangun kualitas jiwanya dengan terus-menerus membangun kesucian itu. Hanya dengan kesucian, tugas dan pelayanan paripurna dapat terlaksana. Hanya dengan kesucian spiritualitas akan dibangun. Sehubungan dengan kesucian ini  Lontar Kusumadewa menyatakan.

          “Satingkahe dadi pamangku kari undakan Widhi, sabran dina rahayu patut I pamangku mapeningan manyucian dewek. Satingkahe nyuci laksana, saparikramaning apening pelajahin tur nunas tirta ring pura panyiwiania makadi ring Ida Pandita maka panelah-nelah reged ring sarira; luir tirta sane patut tunas; panglukatan, pabersihan, wus mapeningan mangda ke pura mererisak.”         

 

Terjemahannya.

Prilaku sebagai Pamangku Pura setiap hari baik patut menyucikan diri. Tatacara menyucikan diri. Tatacara menyucikan diri, aturan tatacara menyucikan diri patut dipelajari  dan mohon air suci di pura tempatnya bertugas dan juga kepada pandita sebagai penyucian atas segala noda dan kotoran dirinya. Adapun tirta yang patut dimohonkan adalah tirta panglukatan, pabersihan, setelah selesai menyucikan diri, agar ke pura untuk melaksanakan tugas menyapu membersihkan halaman pura.

 

Lebih lanjut Puja Pancaparamartha menyatakan.

“Agni madhye ravis caiva, Ravi madhye ‘ stu candramah

            Candra madhye bhavec suklah, sukla madhye sthitah sivah.”

 

Terjemahaannya.

Di dalam api ada matahari, di dalam matahari ada bulan

Di dalam bulan ada kesucian , dalam kesucian Siwa berstana

 

 

2. FUNGSI RITUAL

            Pamangku memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat Hindu, fungsinya menjadi sangat vital tatkala umat menyelenggarakan upacara yajna.  Sepanjang tidak menggunakan Pandita, maka Pamangkulah yang diminta jasa layanannya sebagai manggala dari upacara yajna tersebut yang lazim disebut dengan nganteb. Terkait fungsinya sebagai pemimpin ritual maka kompentensi yang harus dikuasai walaupun tidak sepenuhnya kecuali Pandita terkait dengan upacara tersebut meliputi;

 

a.Yantra ,

Yantra dimaksud adalah seorang Pamangku seyogyanya memahami arti dan makna simbolis dari berbagai sarana yang dipergunakan dalam kegiatan upacara yang dipimpinnya,  lebih lanjut mengoprasionalkan simbol-simbol tersebut sehingga tercapai suatu tujuan sesuai dengan goal, untuk maksud dan tujuan apa upacara yajna itu dilaksanakan. Dalam hal ini tubuh seorang Pamangkupun merupakan yantra seperti dinyatakan berikut ini.

         “Iki ngaran Kusumadewa, penganggen nira Sang Mangku Kulputih, iki kawruhakna Sang Hyang Rare-Angon maka dewaning Pemangku, maka ngaran Mangku Jagat, kawenang nyuci-adnyana nirmala, ngaran, Nare pinaka raga, Bahu pinaka tripada, Sirah pinaka Siwambha medaging toya/tirtha, selaning Lelata Ong-kara sumungsang, pinaka cendana, Citta pinaka wija, sucining awakta pinaka Dipa, Netra manis pinaka dhupa, ujar tuwi rahayu mangenakin pangrenga pinaka gandha, Agni ring nabhi, pinaka sekar tunjung  kucuping tangan kalih, pinaka ghanta, tutuk  pinaka Hyang ngaran. Ika maka tingkahing Mangku amuja, samangkana sang Mangku jagat, kadi ling ning Kusumadewa.

 

         Terjemahannya.

         Ini namanya Kusumadewa, atribut Pamangku Sangkulputih, Ini pengetahuan tentang Sanghyang Rare Angon sebagai istadewatanya Pamangku, yang disebut dengan Pamangku Jagat, kewajiban menyucikan rohani, tubuhnya Pamangku ibarat talam, bahunya ibaratkan Tripada, kepalanya sebagai siwamba berisi air suci, Omkara terbalik di antara kedua alis sebagai cendana, pikiran murni sebagai wija, sucinya tubuh sebagai lampu penerang, sorot mata yang menyejukkan ibaratkan dupa, wacana yang lebut sebagai wangi-wangian, panasnya nabi/pusar sebagai bunga padma, bersatunya kedua tangan ibarat ghanta, ujungnya ghanta sebagai Yang dipuja, itulah simbol saat Pamangku memuja, demikianlah Pamangku jagat, sesuai petunjuk sastra Kusumadewa.              

Yantra lain yang dipergunakan sebagai piranti adalah Bajra atau lazim disebut Vajra. Dalam kapasitasnya sebagai manggala upacara seorang Pamangku dilengkapi dengan Vajra. Lontar Widhisastra menyebutkan sebagai berikut.

“ yan sampun Adhiksa Widhi katapak dening Sang Pandita putus, wenang sang Mangku mabebajran, mwah ngaloka palasraya, maka walining yadnya, wenang Pamangku nyirating sawangsania ring pakraman, sang Mangku wenang ngawalinin yadnya manut panugrahan sang Guru utawi sang maraga Sulinggih.

Terjemahannya.

 

Jika telah melalui pawintenan adiiksa Widhi mendapat pengesahan dari Pandita, saat memuja berkewajiban Pamangku menyurakan suara ghanta, serta melakukan layanan di bidang upacara yajna, berkewajiban Pamangku mencipratkan air suci terhadap warganya di desa Pakraman, Pamangku patut menyelesaikan upacara sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh  Guru selaku Pandita.   

 

 Lebih jauh dalam lontar Sukretaning Pamangku disebutkan sebagai berikut.

         Hana pawekasing Bhatara ring Pamangku, yan rawuh patatoyan Ida Bhatara ring madhyapada, raris angicen bajra patatoyan, maka wruh ikang Pamangku, kawit kretaning Pamangku. Yang nora angagem bajra, nora wruh ring kretaning Kapamangkuan, angaru-hara dadi Pamangku, angiya-ngiya sira ngaran, kena sapaning Bhatara, meh tumbuh edan, karoga,-rogan, anyolong, angedih ring pisaga.

 

         Terjemahannya

 

         Ada pemberitahuan Bhatara kepada Pamangku, pada saat Pujawali di pura, kemudian patut mempersembahkan suara ghanta pemujaan, sebagai suatu pengetahuan bagi Pamangku awal mula ketertiban bagi Pamangku. Jika tidak memakai bajra/ghanta, tidak mengetahui aturan tentang kepamangkuan, membuat huru-haralah Pamangku itu, membenarkan diri namanya itu, kena kutuk oleh Tuhan, bahkan mungkin menimbulkan kegilaan, kehancuran, mencuri, mengemis pada tetangga.

 

b. Mantra atau pujastawa

         Pamangku wajib  memahami doa-doa yang patut dirafalkan sebagai media pengantar atau komunikasi kepada Hyang Widhi saat upacara berlangsung sehingga upacara itu menjadi tepat guna, berdaya guna serta berhasil guna. Lebih jauh  lontar Sukretaning Pamangku menyebutkan sebagai berikut.

         “Yan ngastawa Bhatara aseha-seha nora turun Ida Bhatara, apan sira tan eling kawit kandaning Pamangku, anganggo lobha angkara, anduracara kita, kalinganya tan menget ring agamaning Bhatara, tuhu sira dusun anggen Ida Pamongmong, ngaran.

 

         Terjemahannya.

 

         Jika memuja Tuhan dengan menggunakan bahasa sehari-hari tidak akan turun Ida Bhatara, karena Pamangku tidak mengetahui prosedur menjadi Pamangku, menerapkan keserakahan, angkaramurka, melakukan tindakan tidak terpuji Pamangku itu, sesungguhnya tidak ingat pada prilaku memuja Bhatara, sunguh sangat kolot Pamangku itu dijadikan hamba pelayan oleh Tuhan.   

 

Selanjutnya Lontar Sangkulpinge menyatakan.

“Iki panugrahan sira Mpu Kuturan, kaunggahang ring Lontar Sang Kulpinge, tingkahing dadi Pamangku, wenang angaduhaken weda, ikang Kusumadewa kawruhakna dening pascat.

 

Terjemahannya

Inilah pemberian Mpu Kuturan, dicantumkan dalam pustaka Sangkulpinge, tatacara menjadi Pamangku, berkewajiban memiliki puja pangastawan, sesungguhnya Kusumadewalah harus diketahui dengan tuntas.

 

2. FUNGSI SOSIAL RELIGIUS 

Bertitik tolak dari konsep yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa seorang Pamangku adalah Penyangga Dharma, sekaligus pelaksana dharma pada front terdepan.. Jika dharma diterapkan dharma pula yang akan melindunginya (dharma raksati raksitah) . Lebih jauh  Atharvaveda XII,1.1, menyatakan bahwa, dharma itu terdiri atas.

“Satyam brhad rtam ugram diksa tapo

  Brahma yajnah prthivim dharayanti.”

 

Terjemahannya.

Sesungguhnya kebenaran, hukum, inisiasi, disiplin,

doa serta persembahan yang menyangga dunia.

Apa yang menjadi isi atau contain dari dharma itu seperti terjabar di atas, seorang Pamangku wajib  merealisasikannya. Lebih lanjut  kitab Slokantara sloka 3. menyatakan .

 

Kalingannya, tan hana dharma lewiha sangkeng kasatyan,

matangyan haywa lupa ring kasatyan ikang wwang”,  

 

Terjemahannya

Tidak ada dharma yang lebih tinggi dari Satya (kebenaran),

Oleh karena itu manusia jangan lupa melaksanakan Satya itu.

Maka dalam konteks ini seorang Pamangku adalah pemegang satya atau kebenaran. Realisasi dari satya ini bermuara pada “katakan kebenaran lakukan kebajikan. 

Dengan merujuk satra di atas, bahwa seorang Pamangku tugas pokoknya tidaklah cukup memberikan pelayanan di bidang ritual dalam bentuk menyelesaikan/nganteb upacara yadnya saja. Beliau wajib melembagakan kesucian setiap hari baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain, mengingat Pamangku adalah perwujudan Siwa Sakala atau Siwaning Pakraman, sekaligus  Sebagai Gembala umat yang bertugas menuntun umat setiap hari dalam rangka pencarian hakekat Sang Diri demi terwujudnya karahayuan jagat.

a. Brata         

Dalam rangka melembagakan kesucian dalam diri, seorang Pamangku wajib melaksanakan brata atau disiplin yang ketat sebagai landasan untuk mencapai Tuhan, sesuai pernyataan Yajurweda XIX.35 sebagai berikut.

            “Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksinam,

            Daksinam sraddham apnoti, sraddhaya satyam apyate.” 

 

Terjemahannya.

Dengan menjalankan brata (disiplin) seseorang mencapai diksa (penyucian)

Dengan diksa seseorang memperoleh daksina (kemuliaan), dengan daksina

seseorang membangun sraddha (keyakinan). Melalui sraddha seseorang

 memperoleh satya (Hyang Widhi).

 

 Selanjutnya tentang bebratan Pemangku dalam rangka menjaga kesucian diri pribadinya selain diupayakan dengan senantiasa berbuat kebajikan dilandasi oleh budhi luhur atau susila ambeking budhi serta menghindari perbuatan yang dursila maupun yang dipandang mencemari dirinya secara lahir dan bathin. Selain itu memahami komponen pembangun kehidupan ini yang membutuhkan cara penyucian ytang berbeda-beda sesuai ucap  Manawa Dharmasastra.V.109. sebagai berikut

“Adbhirgatrani suddhyanti, Manah satyena suddhyanti,

Widya tapobhyam bhutanam, Budhir jñana suddhyanti

 

Terjemahannya:

Tubuh disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran (satya),

Atma disucikan dengan Tapa Brata, Budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan.

 

            Kemudian secara konsisten melaksanakan ajaran yama nyama brata, trikaya parisudha dan ajaran catur paramita sebagai landasan moralitas dan mentalitas membangun kersucian batin .

Yama Brata:

a.  Ahimsa               : Tidak menyakiti  atau membunuh mahluk lain.

b. Brahmacarya       : Tekum memperdalam ilmu keagamaan.

c.  Awyawahara       : Tidak suka bertengkar tidak pamer dan dapat mengekang nafsu

d.  Asteya                : Tidak suka mencuri,  korupsi mengambil milik hak orang lain.

e. Satya                    : Taat dan jujur selalu menjunjung tinggi kebenaran.

 

Niyama Brata :

a. Akrodha        : Mengekang amarah serta mampu mengendalikan diri

 b. Gurususrusa  :   Selalu taat kepada perintah Guru serta mengikuti semua ajarannya

 c.  Sauca            :   Senantiasa melembagakan kesucian dalam kehidupan.

d. Aharalagawa  : Mengatur pola makan secara benar.

e. Apramada    : Tidak menghina atau mencela serta melecehkan pendapat orang lain                         

 

Trikaya Parisuddha:

a,  Manacika :   Selalu menjaga kesucian dalam berpikir.

b,  Wacika    :   Selalu menjaga kesucian dalam berkata-kata.

c, Kayika     :   Selalu menjga kesucian dalam segala perbuatan.

 

Catur Paramitta:

a. Metri       :   Mempunyai sifat bersahabat dengan   semua mahluk.

b. Karuna    :  Mempunyai sifat welas asih terhadap sesamanya.

c. Mudita     :  Mempunyai rasa simpati terhadap sesamanya dalam suka dan duka.

d. Upeksa    :  Mempunyai sifat waspada dan teliti didalam segala hal, tidak gegabah.

Secara khusus bebratan tentang kepemangkuan ini juga termuat dalam lontar Tattwadewa yang berbunyi sebagi berikut;

            Pemangku tan amisesa gelah anakke juang, tembe-tembe ring niskala.”

            Terjemahannya.

            Pamangku tidak dibenarkan mengambil milik orang lain, lebih-lebih milik pura

 

            Hal ini mengingatkan agar para Pemangku tidak rakus terhadap drewe pura seperti sesari maupun barang-barang lainnya yang dipersembahkan oleh umat.

            Selanjutnya tentang babratan pamangku dalam rangka menjaga kesucian diri, secara khusus dituangkan dalam lontar Tattwadewa yang disebut dengan Brata Amurti Wisnu yang berbunyi sebagai berikut .

           Nihan aji kreta ngaran, tingkahe mamangku, asuci purnama tilem, ika maka wenang adunging abrata, kawasa mangan sekul kacang-kacang garem aywa mangan ulam bawi lonia satahun. Malih abrata amangan sekul iwaknia tasik lonia solas dina. Malih abrata mangan sekuliwaknia sarwa sekar lonia tigang dina. Nihan brata Amurti Wisnu ngaran , kawasa mangan sekul iwaknia sambeda, aywa nginum toya solas dina lonia. Brata ning abrta ngaran.

 

          

Terjemahannya.

Inilah haji kreta namanya prilaku menjadi Pamangku, menyucikan diri pada hari purnama tilem, itulah sebagai kelengkapan melaksanakan brata, dibenarkan untuk makan nasi kacang-kacangan dan garam, jangan makan daging babi lamanya setahun. Dan dibenarkan makan nasi dengan lauk garam selama sebelas hari, dan berikutnya makan nasi lauknya bunga-bungaan lamanya tiga hari. Inilah yang disebut brata Amurti Wisnu namanya, berhasil makan nasi lauknya sembarangan jangan minum air seblas hari, puncak brata namanya.

           Selain itu brata yang tidak boleh ditinggalkan adalah senantiasa mapeningan atau menyucikan diri dan yang tidak kalah pentingnya adalah mendalami ajaran agama terutama yang berhubungan dengan tugasnya sebagai Pamangku. Mengingat kapasitas Pamangku sebagai gembala umat, ia tidak hanya memiliki keyakinan yang mantap untuk mengantarkan umat mencapai Tuhan dengan landasan cara hidup moralitas dan mentalitas yang benar, kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki pengetahuan keagamaan yang benar. Sebab tanpa pengetahuan keagaman yang benar niscaya apa yang menjadi misi kepamangkuan tidak akan terwujud. Untuk itu Lontar Kusumadewa mengatakan.

       “Apan  kramaning dadi Pamangku, patut uning ring Tattwadewa, Dewa-tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan, Purana tattwa, I Pamngku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi karma pura sami, awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharman, mangda patut pangambile mwang pamargine.”

 

         Terjemahan:

    Adapun prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang  Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja purana, Purana Dewa, Dharma kahyangan,Pamangku patut menjadi pelopor pelaksanaan agama serta  memuja Tuhan, dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti , paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya.

 

b. Larangan.

         Dalam upaya memelihara kesucian diri sebagai Pamangku, berdasarkan sumber sastra Kusumadewa  ada beberapa larangan yang patut dijauhi oleh seorang Pamangku.

         Yan hana Pamangku Widhi tampak tali, cuntaka dadi Pamngku, wenang malih maprayascitta kadi nguni upakaranya, wenang dadi Pamangku Widhi malih. Yan nora samngkana phalanya tan mahyun Bhatara mahyang ring kahyangan.

 

Terjemahan:

Bilamana ada Pamangku pura yang pernah diikat / diborgol, di pandang tidak suci Pamangku tersebut, di wajibkan melaksanakan upacara penyucian kembali seperti sediakala. Di benarkan ditetapkan menjadi Pamangku kembali. Bila tidak demikian akibatnya tidak berkenan Ida Bhatara turun di pura.

 

Yang dimaksud dengan tampak tali di sini adalah bilamana pamangku itu pernah dituduh berbuat kejahatan sehingga dihukum atau diikat. Terbukti atau tidak kesalahan pamangku itu., karena pernah dihukum atau dituduh berbuat salah sehingga diikat, maka akibat dari itu kesuciannya dipandang telah ternoda sehingga perlu direhabilitasi melalui upacara prayascita. Untuk dapat bertugas kembali. Bila ternyata pamangku itu  memang terbukti bersalah maka otomatis kepamangkuannya dicabut/digugurkan. Bahkan diwajibkan untuk mengembalikan biaya pawintenan yang pernah dikeluarkan oleh desa. Tetapi jika tidak bersalah semua biaya  upacara reabilitasi akan ditanggung desa.  

Yan hana pamangku Widhi sampun putus madiksa Widhi mapawintenan Ekajati, mapahayu agung, tekaning antaka haywa pinendhem, tan wenang, hila-hila dahat ikang bhumi kena upadrawa de Sang Panenggeking Bhumi.”

       

Terjemahannya

Apabila seorang pamangku pura yang telah melaksanakan upacara pawintenan hingga tingkat mapahayu agung, tatkala kematiannya tidak boleh ditanam/dikubur, bahaya akan mengancam, dunia kena kutuk oleh penguasa jagat.

 

Larangan untuk mengubur bagi pamangku yang meninggal dunia disebabkan karena seorang pamangku telah mengalami penyucian diri baik lahir maupun batin maka rohnya wajib segera disucikan dengan pengabenan untuk dapat bersatu dengan Tuhan. Maka  jazadnya tidak dibenarkan untuk dikebumikan.

Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub camarudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta.

 

Terjemahannya.

        Pamangku jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan jangan dekat atau bergaul dengan orang-orang yang berniat jahat.

 

Larangan bagi Pamangku untuk tidak sembarang memikul adalah untuk menjaga kesucian lahir maupun batin Pamangku. Tetapi memikul benda-benda yang telah disucikan tidaklah merupakan pantangan, bahkan merupakan suatu kewajiban untuk dikerjakan. Kemudian larangan untuk memasuki lapak tempat berjualan bukanlah berarti pamangku tidak boleh berbelanja, tetapi akan lebih baik jika pamangku tidak mengambil tugas rangkap sebagai dagang. Demikian juga tentang duduk di bawah atap tempat judi, jangankan berjudi duduk saja tidak dibolehkan, ini menandakan bahwa Hindu tidak membenarkan adanya perjudian.

            Yan Pamangku mawyawahara, tan wenang kita anayub cor teka wenang adewasaksi.”

 

Terjemahannya.

Bilamana pamangku bersengketa tidak patut mengangkat sumpah dengan cor, yang patut dilakukan adalah mohon persaksian kehadapan Hyang Widhi.

 

Yang dimaksud dengan anayub cor adalah melaksanakan sumpah yang mengandung kutukan dan dilanjutkan dengan meminum air suci dalam rangkaian sumpah itu. Untuk proses hukum mengangkat sumpah dipengadilan masih diperkenankan.

Samalih tingkahing Pamangku, tan kawasa keneng sebelan sira pamangku, yan hana wwang namping babatang tan kawasa sira mangku marika, tur tan kawasa amukti dreweniong wwang namping babatang.  

 

Terjemahannya.

Dan lagi prilaku menjadi pamangku, tidak dibenarkan dinodai oleh kacuntakan, bila ada orang yang punya kematian tidak dibenarkan pamangku mengunjungi orang yang kedukaan tersebut, apalagi menikmati makanan dan minuman di tempat tersebut.

 

Larangan tersebut di atas bersifat anjuran, bila pamangku menghendaki agar dirinya tidak terkena cuntaka. Tetapi bilamana karena sesuatu hal yang mati adalah kerabat dekat sehingga akan dirasa kurang enak bila tidak datang melayat, sesungguhnya pamangku itu masih diperkenankan. Hanya saja setelah melayat pamangku wajib melakukan mapeningan. Kemudian untuk menetralisir pikiran yang cuntaka dapat pula dilakukan dengan mengucapkan mantra Aji Panusangan yang tersurat dalam lontar Sodasiwikerama yang berbunyi. 

 

            “Iti Sanghyang Haji Panusangan, ngaran pangeleburan letuhing sarira, palania tan keneng sebelan, saluiring mageleh ring prajamandala, wenang sakama-kama, apan sanghyang mantra luwih utama, yan tasak dening ngrangsukang mantra iki, saksat mawinten ping telu, gelarakna siang ratri.

           

            Terjemahannya.

Ini ajian Panusangan namanya, pembasmi kekotoran diri, pahalanya tidak terkena sebelan, segala noda di dunia, bisa diucapkan dimana-mana, karena ajian sangat utama, apabila mantap dan matang dalam pelembagaannya, ibaratnya mawinten tiga kali, ucapkan siang malam.

 

Pujanya.

Idep aku anganggo aji katomah, amangsa amungsung aku tan pabresihan, aku pawaking setra, suka kang akasa, suka kang prethiwi, tan ana aku keneng sebelan, apan aku teka amresihin awak sariranku, teka bresih 3X

 

Kemudian dalam lontar Tattwa Siwa Purana memberikan tambahan tentang larangan bagi Pamangku sebagai berikut.

            “Samalih yang sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit tan palangkahan sawa, sarwa sato, saluiring sane kinucap cemer.“

 

            Terjemahannya.

            Dan lagi bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer.

 

Dalam praktek yang telah berlaku di masyarakat, yang dipantangkan oleh Pamangku adalah melangkahi tali sapi dan tidak boleh memukul sapi. Untuk meikul alat bajak larangannya didasarkan pada pertimbangan bahwa alat bajak pada umumnya dalam pemakaiannya biasa diduduki, sehingga akan dipandang cemer bila sesuatu yang biasanya diduduki itu dipikul oleh pamangku.  Tidak ada larangan yang jelas bahwa pamangku tidak boleh membajak. 

            Larangan bagi Pamangku dilangkahi jenazah, sudah jelas karena jenazah dalam pandangan agama Hindu tergolong cemer, demikian pula semua jenis binatang (sarwasato). Kesimpulannya pamangku tidak patut dilangkahi oleh sesuatu yang tergolong cemer.

            Dalam Paruman Sulinggih Tingkat Prop. Bali tahun 1992 telah diambil suatu kesimpulan, yaitu pamangku tan pati pikul-pikulan, tidak dibenarkan ikut ngarap sawa, tan wenang cemer, bilamana terbukti cemer pamangku patut melaksanakan prayascitta atau nyepuh.

 

G. Cuntaka Bagi Pamangku

          Pamangku pada dasarnya tidak ikut terkena cuntaka yang disebabkan oleh orang lain, (pamangku tan milu keneng cuntakaning len). Hal ini dimaksudkan bahwa bilamana ada salah seorang warga masyarakat di desanya atau keluarga dekat yang meninggal, pamangku tidak kena cuntaka . Oleh karenanya pamangku masih dapat melanjutkan tugasnya di pura. Tetapi bila pamangku mengalami musibah kematian, diantara anggota keluarga di rumahnya sendiri, pamangku tersebut terkena cuntaka selama tiga hari, atau lebih lama sesuai dengan tingkat hubungan kekeluargaannya. Dalam lontar Tata Krama Pura dijelaskan.

            “… yan pamangku kahalangan pati ngarep ring pahumania, tigang dina cuntakania yang sang Brahmana Pandita, tan hana cuntakania.

Malih I Pamangku tan muilu keneng cuntaka ning len. Yan marep anak petunia pejah, pitung dina cuntakania.  Tutugning sengkerning cuntakania teke wenang I Pamangku aprayascitta.

 

Terjemahannya:

……. Bilamana Pamangku mendapat halangan kematian di rumahnya, tiga hari cuntakanya.  Kalau pendeta tidak ada cuntakanya.  Dan lagi Pamangku tidak ikut terkena cuntaka orang lain.  Kalau terhadap anak dan cucunya yang meninggal tujuh hari cuntakannya.  Setelah tiba waktu berakhir cuntakanya sepatutnya Pamangku itu melaksanakan upacara prayascitta.

 

            Masih dalam hubungan kematian, bagi Pamangku yang rumahnya berdampingan dengan pura tempatnya bertugas, maka bilamana dirumah itu ada kematian dianjurkan bila akan menyimpan jenazah di rumah agar dipindahkan ketempat lain.  Untuk jelasnya berikut ini akan kami kutipkan dari lontar Widhi Sastra Swa Mandala sebagai berikut:

“Mwah yan hana kahyangan panyiwian sang ratu, yadyan prasadha ring kahyangan ika, masanding umahnia maparek, tan pabelat marga, ri tekaning kapatyan de Mangku Bhatara, hageakna prateka haywa ngaliwari salek suwenya.

Yan hana halangan bhumi bhaya kinwan de sang ratu dohaken anyekah wangke ika, yan prahimba marep juga same anyekeh wangke, yang anti amreteka, wenang mulih ring dunungania nguni, haywa nyekeh sawa ring dunungan de Mangku sasuwe-suwenia lmeh ikang parahyangan sang Rathu phalania sang ratu gering, reh de Mangku angungku cemer.

Yan doh anyekeh wangke selat marga rurung, limang dina de Mangku kacuntakan dadi de Mangku ulah ulih ring kahyangan, ngaturang pasucian.  Yan de Mangku nyekeh wangke ring umahe, salawase tan kawasa de Mangku ka kahyangan, sapuputan sawa mabhasmi luwar cuntakania.”

 

Terjemahannya

Dan lagi bila ada pura pemujaan Raja maupun prasadha di pura itu, berdampingan rumahnya berdekatan tidak dibatasi jalan, tat-kala Pamangku kematian, agar secepatnya diupacarakan jangan melewati waktu sebulan.  Bilamana karena suatu halangan wabah, (agar) disuruh oleh sang Raja untuk menjauhkan menyuimpan jenazah itu, (bila berkehendak menyimpaan jenazah itu).  Pada waktunya akan mengupacarai boleh untuk di bawa pulang ketempatnya semula jamganlah menyimpan jenazah itu di rumah Pamangku, (oleh karena) selamanya akan tercemar aura tempat persembahyangan Raja yang akan berakibat sang Raja akan tertimpa penyakit oleh karena Pamangku menyimpan yang menyebabkan leteh.

Bila jauh tempatnya menyimpan jenazah itu,  dibatasi jalan lima hari lamanya Pamangku terkena cuntaka, Pamangku diperkenankan keluar masuk ke pura untuk menghaturkan pesucian.

Bila Pamangku menyimpan jenazah itu dirumahnya, selama itu tidak diperkenankan Pamangku  itu pergi kepura, setelah selesainya jenazah itu dibakar, saat itu berakhirlah cuntakanya pamangku itu.

 

            Demikianlah Pamangku karena tugasnya ditempat suci dan karena tingkat penyuciannya tidak sama dengan  sulinggih patut menjauhi hal-hal yang dipandang dapat menyebabkan leteh dan cemer.  Bila karena suatu keadaan yang tidak terhindarkan seperti karena kematian salah seorang anggota keluarganya disatu rumah, maka upaya penyucian diri Pamangku dilakukan dengan upacara prayascitta.  Kecuntakan bagi Pamangku selain disebabkan karena kematian salah satu anggota keluarganya, atau karena nyekeh sawa ( menyimpan mayat dirumahnya)  juga terjadi karena Pamangku mengmbil istri baru.  Dalam hal serupa itu lontar Tattwa Siwa Purana memberi petunjuk sebagai berikut:

……yan sampun madeg Pamangku, tan kawenang cemer; yan wenten Pamangku malih mengambil rabi, ri wusnia mapawarangan, wenang sira mangku manyepuh pawintenan nguni.  Mwah ngaturang pasapuh ring pura, mwah wadone punika wenang nyepuh.  Apang tan kari kareketan letuh, yan tan nawur penyapuh, tan kawenang ka pura.  Yan marabi saking paiccan nabe, mwang guru wisesa, kalih saking pakramane ngaturin marabi, punika dados ngaturang pangrebu alit, ring pura pura nenten ja masapuh.

 

 

 

Terjemahannya:

… kalau sudah menjadi Pamangku, tidak boleh cemer; kalau ada Pamangku beristri baru, setelah selesai upacara perkawinannya patut Pamangku itu melaksanakan upacara nyepuh pawintenannya yang lalu dan lagi menghaturkan upacara pasasapuh di pura, dan istrinya itu patut melaksanakan upacara nyepuh.  Supaya tidak terkena letuh (cemar), kalau tidak melaksanakan upacara penyapuh tidak diperkenankan ke pura.  Kalau mengambil istri karena pemberian guru atau pemerintah maupun dari warga masyarakat yang memberikan atau menyuruh beristri, diperkenankan hanya menghaturkan upacara pangrebu yang sederhana di pura, tidaklah dengan upacara penyapuh.

 

            Bagi Pamgnku wanita yang cuntaka karena kotor kain juga berlaku sebagaimana umumnya.  Dan setelahnya mabersih diri (mandi berkeramas) masih diperlukan tingkat pembersihan lebih lanjut seperti prayascitta atau setidak-tidaknya dengan matirta sebelum akan melaksanakan tugas ke pura.  Demikian halnya cuntaka karena melahirkan atau keguguran kandungan, batas cuntakanya sesuai dengan cuntaka yang berlaku bagi masyarakat umum.  Sesuai dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek Agama Hindu VI Tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:

1.  Sebel atau cuntaka karena melahirkan yang terkena cuntaka adalah diri pribadi dan suaminya beserta rumah yang di tempatinya.  Batas waktunya sekurang-kurangnya: 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirta pabersihan dan suaminya sekurang-kurangnya sampai dengan putusnya tali pusar sibayi.

2. Sebel karena wanita keguguran kandungan adalah diri pribadi dan suaminya beserta dengan rumah yang di tempati.  Batas waktu sekurang-kurangnya 42 hari dan berakhir setelah dapat tirta pabersihan.

Bilamana dalam kegiatan upacara piodalan di pura Pamangku mendapat halangan kematian salah seorang anggota keluarganya, maka agar Pamangku tersebut tidak terhalang dalam melaksanakan tugasnya di pura, dianjurkan agar tidak pulang kerumah yang ada kematian.bilamana Pamangku tersebut pulang maka ia akan terkena cuntaka sehingga tidak diperkenankan masuk ke pura sebelum melakukan upacara prayascitta.

 

H. Wewenang.

            Seorang Pamangku memiliki batas kewenangan yang berbeda dengan Sulinggih dalam mengantarkan yadnya. Berdasarkan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu IX tahun 1986. Tugas dan wewenang Pamangku dalam mengantarkan yadnya adalah sebagai berikut:

1. Menyelesaikan /nganteb upacara rutin atau pujawali/piodalan pada pura yang di emongnya serta mohon tirtha kehadapan Istadewata yang disthanakan di pura tersebut termasuk upacara pembayaran kaul / sesangi.

2.   Bila menyelasaikan tugas di luar pura yang di emongnya, Pamangku / Pinandita tidak diperkenankan muput melainkan Nganteb, dengan tirtha pamuput dari sulinggih.

3.  Dalam penyelesaian upacara, Pamangku di beri wewenang, Bhuta yadnya sampai tingkat Pancasata, Ayaban sampai tingkat Pulagembal, Manusa yadnya dari bayi lahir sampai dengan otonan biasa, Pitra yadnya wewenang diberikan sampai pada mendem sawa di sesuaikan dengan desa mawacara.

 

I. Tugas dan Kewajiban.

          Secara rinci tugas dan kewajiban Pamangku telah di atur dalam awig-awig Desa pakraman, untuk Pamangku Kahyangan Desa, Jika Pamangku kawitan atau Pamangku Pura Keluarga di atur berdasarkan kesepakatan pangempon atau penyungsung. Namun secara umum tugas dan kewajiban Pamangku adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan tugas kepemangkuan dengan konsekwen di mana yang bersangkutan di tetapkan menjadi pemangku.

2. Menjaga artha milik pura dan memelihara kebersihan serta kesucian pura dari segala hal yang dipandang dapat menodai kesucian pura.

3. Melakukan layanan kepada masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu   menyelesaikan upacara sesuai dengan kewenangannya.

4. Menuntun umat dalam menciptakan ketertiban dan kekhidmatan pelaksanaan upacara.

5. Sebagai Duta Dharma yang senantiasa memberikan tuntunan kepada umat menyangkut pelembagaan ajaran-ajaran Agama.

 

J. Penghargaan atau Hak.

      Sebagai wujud penghargaan terhadap tugas dan kewajiban pamangku yang cukup berat, Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu VI tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:

1. Bebas dari ayah-ayahan desa, atau sesuai dengan tingkat kepemangkuannya.

2. Dapat menerima bagian sesari aturan  atau sesangi.

3. Dapat menerima bagian hasil pelaba pura (bagi pura yang memiliki pelaba).

4. Apabila Pamangku meninggal dunia, upacara pengabenannya di tanggung oleh pangempon di mana Pamangku itu bertugas.

 

      Walau telah di atur seperti diatas, palaksanaannya tetap disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat maupun awig-awig yang telah di sepakati, baik yang berlaku di lingkungan suatu pura maupun desa adat. Pamangku Kahyangan Desa (Pamangku Desa, Puseh Bale agung, Dalem dan sebagainya), menjadi tanggungan Desa Pakraman.

 

      Bagi Pamangku yang bertugas di luar Kahyangan Desa, mendapt penghargaan dan hak dari kelompok pangempon pura tempatnya bertugas. Sedangkan kewajiban terhadap Desa Pakraman dan Pura Kahyangan Desa masih di bebani dalam tingkat tertentu sesuai dengan awig-awig setempat.

 

      Sedangkan pamangku jenis Pinandita, pamangku Dalang, Pamangku Tukang tidak mendapatkan leluputan, karena tugasnya tidak terkait secara langsung dengan suatu Pura tertentu.

 


TUNTUNAN PEMANGKU DIDALAM MELAKSANAKAN YADNYA

 

  UPACARA  DEWA  YADNYA.

 

            Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :

 

a.       Sebuah bokoran/nare

b.      Sebuah Sangku/tempat tirtha

c.       Bunga warna-warni secukupnya

d.      Beras/wija secukupnya

e.       Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian

f.       Dhupa secukupnya.

 

Semua itu sebagai perlengkapan para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).

 

Sebelum para Pemangku memulai suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih dahulu seperti tahapan dibawah ini :

 

  1. MASILA DEN APNED :

OM OM  Padmasana ya namah

OM ANG  Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah

 

  1. MEMBERSIHKAN TANGAN :

KANAN :       OM  Suddha mam swaha

KIRI       :       OM  Ati Suddha mam swaha

 

3.      PRANAYAMA :

                        RING HATI               : OM  ANG  Brahma ya namah

                        RING AMPRU          : OM  UNG  Wisnu ya namah

                        RING PAPUSUH      : OM  MANG  Iswara ya namah

 

4.      MENGHATURKAN DHUPA :

                        OM  ANG  Brahma-amretha dhipa ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha dhipa ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha dhipa ya namah

 

5.      METABUH ARAK/BEREM :

OM  ANG  KANG  Kasol kaya swasti-swasti sarwa bhuta kala bokta ya namah

 

6.      MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.

                        OM  Ghrim wausat ksama sampurna ya namah

 

7.      NGUTPETI TOYA RING SANGKU :

                        OM  I  BA  SA  TA  A

                        OM  YA  WA  SI  MA  NA

                        OM  MANG  UNG  ANG

 

8.      PADMASANA RING TOYA :

                        OM  OM  Padmasana ya namah

                        OM  OM  Anantasana ya namah

 

9.      DEWA PRATISTHA :

                        OM  OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

10    SEMBAH KUTA MANTRA :

                        OM  Hrang  Hring sah parama siwa adhitya ya namah

 

11    STHITI KANG TOYA :

                        OM  SA  BA  TA  A  I, OM  NA  MA  SI  WA  YA

                        OM  ANG  UNG  MANG

 

12    SEMBAH SIWA AMRETHA :

                        OM  Hrang  Hring  sah parama siwa-amretha ya namah

 

 

13    ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.

                        OM  Puspa dhanta ya namah (sekar)

                        OM  Sri  Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)

                        OM  Kung kumara wija ya namah (bija/beras)

                        OM  Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)

 

 

14    NEDUNAN BHATARA TIRTHA :

         OM   Gangga dewi maha punyam, Gangga salanca medini

Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah

 

         OM   Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani

                  Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha manoharam

 

         OM   Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca

                  Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha

 

    Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

          MANTRA :        OM    Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha  pawitrani Ya namah swaha.

     

Risampune puput Nedunan Bhatara Tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.

MANTRA :     OM  ANG  Brahma-amretha ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha ya namah

 

15    RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :

MANTRA :    

OM      Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa winasa ya

            Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha winasa ya namah

 

NGREMEKIN BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari manise tengen/kanan.

MANTRA :     OM      Bang Bamadewa guhya ya namah

                        OM      Bhur  Bwah  Swah  amretha ya namah

 

APASANG BIJA :

                        Ring sirah                    : OM  Ing Isana ya namah

                        Ring lelata                   : OM  Tang Tatpurusa ya namah

                        Ring tangkah               : OM  Ang Aghora ya namah

                        Ring bahu kanan         : OM  Bang Bamadewa ya namah

                        Ring bahu kiri             : OM  Sang Sadya ya namah

 

 

 

16    NGASTAWA BAJRA :

Sadurunge ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris ngaskara.

MANTRA :    

OM      Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah

            Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate

 

OM      Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah

            Candra nada bhindu drestham, Spulingga siwa twam ca

 

OM      Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu

            Warada labdha sandeham, Wara siddhi nih samsayam

 

NGASKARA :

                        OM  OM  OM  (maklener apisan)

                        OM  ANG  UNG  MANG  (malih maklener)

                        OM  Ang  Kang  Kasolkaya Iswara ya namah 

                                                                  (malih maklener),

tur nglantur nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.

 

 

 

17    NGAKSAMA :

OM      Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah

                              Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa

 

                  OM      Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah

                              Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci

 

                  OM      Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama

                              Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

 

      NUNAS WARANUGRAHA :         

      OM      Anugraha manoharam, Dewa datta nugrahakam

                  Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahakam

 

      OM      Dewa-dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam

                  Laksmi siddhisca dirgahayu, Nirwighna sukha wredhis ca

 

                  OM      Anugraha ya namah swaha.

 

Sesampune puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.

 

18    APSU  DEWA STAWA :

                  OM      Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo’stute

                              Sarwa klesa winasa ya, Toyane parisuddhaya te

 

                  OM      Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat

                              Sarwa petaka winasa ya, rogha dosa winasa ya

 

                  OM      Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam

                        Siwa-lokam maha-yaste, mantre manah papa-kelah

 

            OM      Siddhim tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar

                        Siwa-amretha manggalan ca, Nadinidam namah siwa ya

 

PANCA-AKSARA STAWA :

OM      Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam

            Papa kotti sahasranam, Aghandam bhawet sagaram

 

OM      Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa nasanam

            Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham pratisthanam

 

OM      Namah siwa ya etyewam, Param Brahman atmane wandam

            Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed agni

 

OM      A-karas ca  U-karas ca, Ma-karo windu nada kam

            Panca-aksara maya proktam, Ongkara agni mantrake

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

     MANTRA :       OM    Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha  pawitrani Ya namah swaha.

 

Risampune puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng.

 

19    GANGGA SINDHU STAWA :

                  OM      Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari

                              Kaweri sarayu mahendra, Tenaya carma wati wai nuka

 

                 OM       Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah

                              Purnam jalah samudra sahitah, Kurwantu te manggalam

 

20    GANGGA DEWI STAWA :

                  OM      Gangga dewi namaskaram, Ongkara parikirtitah

                              Sarwa wighna winasyanti, Sarwa rogha winasa ya

 

21    NGURIPANG TIRTHA :

      OM      Hrang  Hring  Sah  Ksmung Ang Ung Mang

      OM      Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,

                  I BA SA TA A, Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha

      OM      Ang  Ing  Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng

                   OM     OM  I A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

OM       OM  A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

 

22    SEMBAH KUTA MANTRA :

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha

 

23    NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA  :

( PANGLUKATAN ) :

OM      Gangga muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira selaka, Tinanceban tunjung petak

            Padyusan nira Bhatara Iswara, Pangilanganing papa klesa

            Moksah hilang,  OM  SANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira Tembaga, Tinanceban tunjung bang

            Padyusan nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna

            Moksah hilang,  OM  BANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira mas, Tinanceban tunjung jenar

             Padyusan nira Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang,  OM  TANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking utara, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira wesi, Tinanceban tunjung ireng

            Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru

            Moksah hilang,  OM  ANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking madya, Tiningalana telaga noja

             Jambangan nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna, Padyusan nira Bhatara Siwa, Pangilanganing dasa mala

            Moksah hilang,  OM  ING  ya namah.

 

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.

MANTRA :

            OM      Atma-tattwatma suddha ya mam swaha

            OM      Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha,

                    caturti suddha.Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.

 

Sesampune puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.

MANTRA :

            OM      Atma tatwa-atma suddha mam swaha

            OM      OM  Ksama sampurna ya namah

            OM      Sri Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.

 

 

24    ANGLUKAT BEBANTEN :

                                      OM           Pukulun Hyang-Hyang ning Prana-prani, Hyang-Hyang ning Sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, kacaruban, karereban ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.

                              OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

25    NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :

Tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.MANTRA :

          OM         Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan           pangilanganing mala papa petaka.

                        OM Bang Bamadewa

            OM      Dewa Bayu angiberaken lara rogha wighna

            OM      Sah wausat ya namah swaha

            OM      Sang bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara

                          Sang bhuta nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna

            OM      Ksama sampurna ya namah.

 

26    NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Mretyun ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa

                        Papa mretyu sangkara, Sarwa kala kalika syah

 

                        Wigraha ngawipada, Susupna durmangala

                        Papa krodha winasa ya, Sarwa wighna winasa ya namah

 

 

27    NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris astawayang.

MANTRA :

                        OM      Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha wighna winasa ya

                                    Sarwa satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah

                        OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

28    NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris astawayang.

MANTRA

                         OM      Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian mwang sang inulapan.

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

            PAKELING :

Sesampune puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami. Munggwing pemargin nyane :

Banten Bayakaone ring sor

Banten Durmangalane ring madya

Banten Prayascittane ring luhur

Banten Pangulapane ring luhur-luhur.

            Pangilenan nyane :

Kapertama ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.

Sesampun puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun ring damuh Ida Bhatara, sadurunge puput ngayat/ngalinggihang Bhatara sami, lan sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring damuh Ida Bhatara sami.

 

29    NGASTAWA  SURYA :

                  OM      OM  Padmasana ya namah

                  OM      OM  Anantasana ya namah

                  OM      OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

      OM      Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute

                  Sweta pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah

 

      OM      Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam

                  Aditya twam gatir asi, Aditya caksur ewa ca

 

      OM      Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah

                  Surya rasmir Hrsi kesa, Surya sattwam maha wiryam

 

      OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha

 

 

30    NGEMARGIANG PECARUAN :

Munggwing pemargin pecaruane, mangdane kemargiang sesampune puput ngemargiang pangresikan lan sampun puput ngastawa ka surya. Kariyinin antuk ngastawa :

 

            AKASA - STAWA :

            OM      Akasa nirmalam sunyam, Guru-dewa bhyo mantaram

                        Siwa nirwanam-wiryanam, Rekha Ong-kara wijayam

 

            OM      Meru-srengga-candra-lokam, Siwa-layam murti-wiryam

                        Dhupam-bhuwanam timiranca, Guru-dewa murti-wiryam

 

            OM      Dewa-dewa murti-bhuwanam, Wyomantaram siwaditya

                        Candra-lokam dhupam-bhuwanam, Guru-dewa murti-wiryam

 

            OM      OM  Akasa-wyoma-siwa ya namah swaha.

 

 

 

            PRATHIWI – STAWA :

            OM      Prathiwi Sri-nam-dewam, Catur-dewi maha wiryam

                        Catur-asrama bhatari, Siwam-bhumi maha-siddyam-dewam

 

                        Ri-purwani bhasundari, Siwa-patni putro-yoni

                        Uma-Dhurga-Gaangga-Gauri, Indrani-Camundi-dewi

                        Brahma bhatari Waisnawe, Komari-Gayatri-dewi

                        OM      Sri-dewi ya namah swaha

 

31    MANTRANI  CARU :

Masarana antuk beras kuning lan sekar, sebarakna ring Caru.

MANTRA :

            OM      Tang Ang Ing Sang Bang Utat ya namah

            OM      Gmung Ghana patye namah

            OM      Bang Rajastra ya namah

            OM      Phat phat

            OM      Ang Surabala ya namah

            OM      Ung Cikrabala ya namah

            OM      Mang Iswarya ya namah

            OM      Sang Bang Tang Ang Ing, Sarwa bhuta bhyo namah

 

32    NGASTAWA BHUTA KALA :

                  OM      Krura raksasa rupan ca, Baibatsyam yo caya punah

                              Somya rupam awapnoti, Twam wande waradam a-mum

 

                  OM      Sweta Maheswara rupam, Brahma Bang kala warna sya

                              Pita Mahadewa kala, Wisnu Kresna warna kala

 

                  OM      Siwa Panca warna kala, Durgha bhuta warna sya

                              Tumwana kara ta hityam, Panca ma kala warna sya

 

                  OM      Bhuta Kala pratistha ya namah swaha.

 

33    PAKELING RING BHUTA :

OM      Indah ta kita Sang Bhuta Tiga Sakti, ring madya desannya, Bhatara Siwa dewatanya, Kliwon panca waranya. Tumudun pwa sira kalawan sanak wadwanya sedaya. Iki tadah sajin nira, manusan nira hangaturaken tadah caru ayam brumbum winolah winangun urip katekeng saruntutan ipun, ajak wadwa balanya sedaya pada amukti sari saturan manusan nira. Wus ta kita pada amangan anginum atetanjekan pwa sira, pamantuka pwa sira maring dangkhyangan sira sowang-sowang. Haywa ta sira hamilara manusan nira.

 

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

PUJI  BHUTA (Pajaya-jayan ring Bhuta):

                  OM      Sukhatam kala pujitam, Kala sukha prayojanam

                              Senayam kala pujitam, Sadasiwa maha kretam

 

                  OM      Pujitam kala sukhatam, Kala kali kaprojnanam

                              Sarwa kala sukha nityam, Sarwa wighna winasanam

 

                  OM      Durgha dewi ma sariram, Kala kingkara moksatam

                              Kala mretyu punah citram, Sarwa Wighna winasanam

 

                  OM      Bhuta Kala pratistha ya namah swaha.

 

34    NGAYAB  CARU :

      OM      Bhuktyantu Durgha tangkaaram, Bhuktyantu Kala ewaca

                  Bhuktyantu Bhuta bhutanam, Bhuktyantu Pisaca sanggyam

 

      OM      Durgha loke bhoktya namah, Kala loke bhoktya namah

                  Bhuta loke bhoktya namah, Pisaca loke bhoktya namah swaha

 

          OM Ang Kang Kasolkaya swasti-swasti, sarwa bhuta kala predana purusa bhoktya namah swaha

 

35    MANTRAN GELAR SANGA :

OM      Indah ta kita Sang Bhuta Dengen, iringan ingon-ingon Sang Hyang Pasupati, Sang Bhuta Anggapati aranya. Kita angelingana sang Bhuta Sangha, iki mene kabhukti den nira, iwak karangan, nasi pangkonan sinusunan sawung anyar, sajeng sakreci tan sinaringan, pada kenak ta sira pada amuktya lawan sanak wadwanya sedaya.

 

OM      Ang Kang Kasolkaya swasti-swasti, sarwa bhuta kala predana purusa bhoktya namah swaha 

 

36    NGUNDUR BHUTA :

OM      Kaki Presat Nini Presit, Kaki Rabhyahsalit Nini Rabhyahsalit, undurakna bhutan ta dening doh, apan Gurun mu hana ring kene, Sangkara pinaka guruning sarwa bhuta.

 

OM      Sangkara bhuta ya namah swaha

 

37    NGALUKAT BHUTA :

OM      Lukat sira sang bhuta Dengen masurupan ring Sang Kalika

            Lukat Sang Kalika masurupan ring Bhatari Durgha

            Lukat Bhatari Durgha masurupan ring Bhatari Uma

            Lukat Bhatari Uma masurupan ring Bhatara Guru

            Lukat Bhatara Guru masurupan ring Sang Hyang Tunggal

            Lukat Sang Hyang Tunggal masurupan ring Sang Hyang Sangkan ning paran. Apan Ida Sang Sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

38    NGASTAWA BHATARA ( KAHYANGAN STAWA ) :

      OM      Indragiri murti dewam, Loka natha jagat pati

                  Murti wiryam Ludra murti, Sarwa jagat pawitranam

 

      OM      Indragiri murtya lokam, Siwa murti Prajapati

                  Brahma Wisnu Maheswaram, Sarwa jagat prawaksyamam

 

      OM      Surya dewa Mahadewa, Siwa-agni teja maya

                  Siwa Durgha kali sira, Dewa sarwa wisyantakam

 

      OM      Siwa Yama Warunas ca, Siwa Pasu mregha paksi

                  Sarwa dewa Siwa dewa, Guru-dewa Jagatpati

 

      OM      Giripati murtya dewam, Loka sakti jagat sriya

                  Brahma Wisnu Maheswaram, Tri Purusa murti dewam

 

39    NGASTAWA  BHATARA :

Iriki pangastawane mabina-binayan, manut linggih/genah/upacara utawi Ista Dewata sane pacang keastawayang utawi katedunan.

Yan ring : Panti, Paibon utawi Mrajan, iki pangastawanya.

 

TIGA GURU STAWA :

OM      Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam

            Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat pawitranam

 

OM      Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam

            Guru pantaram dewam, Guru-dewa suddha-atmakam

 

OM      Brahma Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri linggatmakam

            Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa rogha winasaya,

            Sarwa wighna winasa nam.

 

OM      Ang Ung Mang  Paduka Guru bhyo namah swaha.

 

 

            NGASTAWA BHATARA KAWITAN ( RATU PASEK )

 

                        OM      Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca tirtham

                                    Sapta Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam

                        OM      Ang Gong Gnijaya namah swaha

                        OM      Ang Gnijaya jagat patya namah

            OM      Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas ca,

                        De Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.

            OM      OM  Panca Rsi Sapta Rsi paduka Guru bhyo namah swaha.

 

      ATUR PIUNING SAHA SEHA :

OM      Pukulun paduka Bhatara .................. .................. ........ ......... ............., Hulun handa sih waranugrahan ri jeng pukulun paduka Bhatara, mangda ledang paduka Bhatara tumedun pada malingga-malinggih ring pasamuan agung, kairing antuk Dampati, sanak putunya, Widyadara-widyadari, Anglurahan agung-alit mwang kala sedahan makabehan. Manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa hangaturaken .................................... ri jeng paduka Bhatara sinamian, pahenaka hyun paduka Bhatara pada malingga ring palinggyannya sowang-sowang.

 

OM      Pranamya bhaskara dewam, Sarwa klesa winasanam

            Pranamya aditya siwartham, Bhukti-mukti warapradam.

 

40    NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:

a.       NGATURAN TOYA :

( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).

Wangsuh cokor/pada      : OM  Pang padya argha ya namah

Wangsuh tangan             : OM  Ang Argha dwaya namah

Toya kumur                     : OM  Jeng Jihwa suci nirmala ya namah

Toya araup                      : OM  Cang Camani ya namah

Asirat                             : OM  Ghrim ksama sampurna ya namah

 

b.      NGATURAN PASUCIAN :

OM      Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca

            Hyastu sarwa to dewa-dewanam,

            Hyastu dewa maha punyam ya namah swaha.

 

c.       NGATURAN PUSPA/SEKAR :

OM      Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca

            Puspantu sarwa to dewa-dewanam

            Puspantu dewa maha punyam ya namah swaha

 

d.      NGATURAN TIGASAN :

OM      Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca

            Tigastu sarwa to dewa-dewanam

            Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha

 

e.       NGATURAN TOYA :

OM      OM  Siwa-amretha ya namah

OM      OM  Sadasiwa-amretha ya namah

OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

41    APAKELING SAHA SEHA :

            OM             Pukulun paduka Bhatara .............. ................... ...........  ......... ............., Pada kenak hyun paduka Bhatara pada malingga ring pasamuan agung. Manusan nira handa hangaturaken sarining ........................., ledang paduka Bhatara pada amukti sari saturan manusan nira, minawita kirang langkung saturan ipun den ageng ampurane manusan nira. Alit kang sun hangaturaken agung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Pada kenak hyun paduka Bhatara pada anodya, hanyaksinin mwang hamukti sari saturan manusan paduka Bhatara.

OM      Siddhir astu tadastu astu ya namah swaha.

 

 

42    NGANTEB SESAYUT :

      OM      Sangkepaning pramanta, Negara sya muniwantam

                  Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

      OM      Pujasya mantrasya, Tri-aksara maha kodratam

                  Brahmangga murcage yuktam, Siwangga mantra matmakam

 

      OM      Panca bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet

                  Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

 

43                UPASAKSI :

OM      Pukulun paduka Bhatara Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa mekadi sira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Ibu Pretiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Kaki Bhagawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Bhagawan Citragotra, Nini Bhagawan Citragotra, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng, Nini Panyeneng.

            Kajenengana denira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, kasaksinin denira Sang Hyang Triyo dasa saksi, kewaranugraha denira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha, manusan nira hanembah hangaturaken ........................................... ri paduka Bhatara. Pada kenak hyun paduka Bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamuputaken saturan manusan nira, minawita kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Akedik kang sun hangaturaken, gung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Ledang paduka Bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

44    NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA :

      OM      Parama Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah

                  Siwa sya pranato nityam, Candis ca ya namo”stute

 

      OM      Niwedhya Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram

                  Sarwa bhakti nala bhatyam, Sarwa karya prasiddhantam

 

      OM      Jayarti jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti

                  Siddhi sakala ma pnuyat, Parama Siwa ya labhatyam.

 

      OM      Nama Siwa ya namah swaha

 

45    NGEMARGIANG SESARIK :

Sesampune puput nganteb bebanten ne, raris margiang sesarik nyane ring palinggihe sami.

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.

 

46    NGAYAB BEBANTEN (ngayab ke luhur).

                  OM      Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca

                              Bhuktyantu dewas ca, Bhuktyantu sarwa to dewam

 

                  OM      Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha

                              Saganah sapari warah, Sawarga sada siddhis ca

 

                  OM      Dewa bhoktya laksana ya namah

                  OM      Dewa treptyantu laksana ya namah

                  OM      Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha

 

47    NGAYABIN  PRAS :

                  OM      Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara

                              Purwa pras prasiddha rahayu.

 

48    NGAKSAMA :

Sesampune puput ngemargiang pailen-ilen pujawaline sekadi menggah ring ajeng, raris kelanturin antuk ilen-ilen muspa/ngaturan sembah. Sesampun puput ngaturan sembah, kaping untad dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin nyineb Bajra:

            OM    OM  Atma-tattwama suddham swaha

            OM      OM  Ksma sampurna ya namah swaha

           OM   OM   Sarwa dewa somya ya namah swaha

           

GAGLARAN PAMANGKU RIKALA NGAWALININ

PAKALA-KALAN PAWIWAHAN.

           

Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :

 

g.      Sebuah bokoran/nare

h.      Sebuah Sangku/tempat tirtha

i.        Bunga warna-warni secukupnya

j.        Beras/wija secukupnya

k.      Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian

l.        Dhupa secukupnya.

 

Semua itu sebagai perlengkapan para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).

 

Sebelum para Pemangku memulai suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih dahulu seperti tahapan dibawah ini :

 

1.        MASILA DEN APNED :

OM OM  Padmasana ya namah

OM ANG  Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah

 

2.                MEMBERSIHKAN TANGAN :

KANAN :       OM  Suddha mam swaha

KIRI       :       OM  Ati Suddha mam swaha

 

3.    PRANAYAMA :

                        RING HATI               : OM  ANG  Brahma ya namah

                        RING AMPRU          : OM  UNG  Wisnu ya namah

                        RING PAPUSUH      : OM  MANG  Iswara ya namah

 

4.    MENGHATURKAN DHUPA :

                        OM  ANG  Brahma-amretha dhipa ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha dhipa ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha dhipa ya namah

 

5.    METABUH ARAK/BEREM :

OM  ANG  KANG  Kasol kaya swasti-swasti sarwa bhuta kala bokta ya namah

 

6.    MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.

                        OM  Ghrim wausat ksama sampurna ya namah

 

 

7.  NGUTPETI TOYA RING SANGKU :

                        OM  I  BA  SA  TA  A

                        OM  YA  WA  SI  MA  NA

                        OM  MANG  UNG  ANG

 

8.    PADMASANA RING TOYA :

           OM  OM  Padmasana ya namah

           OM  OM  Anantasana ya namah

 

9.    DEWA PRATISTHA :

           OM  OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

10.SEMBAH KUTA MANTRA :

OM  Hrang  Hring sah parama siwa adhitya ya namah

 

11.          STHITI KANG TOYA :

          OM  SA  BA  TA  A  I, OM  NA  MA  SI  WA  YA

          OM  ANG  UNG  MANG

 

12.          SEMBAH SIWA AMRETHA :

          OM  Hrang  Hring  sah parama siwa-amretha ya namah

 

 

13.          ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.

          OM  Puspa dhanta ya namah (sekar)

          OM  Sri  Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)

          OM  Kung kumara wija ya namah (bija/beras)

          OM  Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)

 

 

14.          NEDUNAN BHATARA TIRTHA :

             OM         Gangga dewi maha punyam, Gangga salanca medini

Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah

 

             OM         Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani

                       Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha manoharam

 

             OM         Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca

                       Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha

 

                Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

             MANTRA :OM          Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha  pawitrani Ya namah swaha.

     

Risampune puput Nedunan Bhatara Tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.

MANTRA :     OM  ANG  Brahma-amretha ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha ya namah

 

15.  RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :

MANTRA :    

OM      Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa winasa ya

            Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha winasa ya namah

 

NGREMEKIN BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari manise tengen/kanan.

MANTRA :     OM      Bang Bamadewa guhya ya namah

                        OM      Bhur  Bwah  Swah  amretha ya namah

 

APASANG BIJA :

                        Ring sirah                    : OM  Ing Isana ya namah

                        Ring lelata                   : OM  Tang Tatpurusa ya namah

                        Ring tangkah               : OM  Ang Aghora ya namah

                        Ring bahu kanan         : OM  Bang Bamadewa ya namah

                        Ring bahu kiri             : OM  Sang Sadya ya namah

 

 

 

16.  NGASTAWA BAJRA :

Sadurunge ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris ngaskara.

MANTRA :    

OM      Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah

            Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate

 

OM      Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah

            Candra nada bhindu drestham, Spulingga siwa twam ca

 

OM      Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu

            Warada labdha sandeham, Wara siddhi nih samsayam

 

NGASKARA :

                        OM  OM  OM  (maklener apisan)

                        OM  ANG  UNG  MANG  (malih maklener)

                        OM  Ang  Kang  Kasolkaya Iswara ya namah 

                                                                  (malih maklener),

tur nglantur nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.

 

 

 

17.  NGAKSAMA :

OM      Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah

                              Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa

 

                  OM      Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah

                              Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci

 

                  OM      Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama

                              Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

 

      NUNAS WARANUGRAHA :         

      OM      Anugraha manoharam, Dewa datta nugrahakam

                  Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahakam

 

      OM      Dewa-dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam

                  Laksmi siddhisca dirgahayu, Nirwighna sukha wredhis ca

 

                  OM      Anugraha ya namah swaha.

 

Sesampune puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.

 

18.  APSU  DEWA STAWA :

                  OM      Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo’stute

                              Sarwa klesa winasa ya, Toyane parisuddhaya te

 

                  OM      Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat

                              Sarwa petaka winasa ya, rogha dosa winasa ya

 

                  OM      Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam

                        Siwa-lokam maha-yaste, mantre manah papa-kelah

 

            OM      Siddhim tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar

                        Siwa-amretha manggalan ca, Nadinidam namah siwa ya

 

PANCA-AKSARA STAWA :

OM      Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam

            Papa kotti sahasranam, Aghandam bhawet sagaram

 

OM      Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa nasanam

            Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham pratisthanam

 

OM      Namah siwa ya etyewam, Param Brahman atmane wandam

            Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed agni

 

OM      A-karas ca  U-karas ca, Ma-karo windu nada kam

            Panca-aksara maya proktam, Ongkara agni mantrake

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

     MANTRA :       OM    Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha  pawitrani Ya namah swaha.

 

Risampune puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng.

 

19.  GANGGA SINDHU STAWA :

                  OM      Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari

                              Kaweri sarayu mahendra, Tenaya carma wati wai nuka

 

                 OM       Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah

                              Purnam jalah samudra sahitah, Kurwantu te manggalam

 

20.  GANGGA DEWI STAWA :

                  OM      Gangga dewi namaskaram, Ongkara parikirtitah

                              Sarwa wighna winasyanti, Sarwa rogha winasa ya

 

21.  NGURIPANG TIRTHA :

      OM      Hrang  Hring  Sah  Ksmung Ang Ung Mang

      OM      Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,

                  I BA SA TA A, Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha

      OM      Ang  Ing  Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng

                   OM     OM  I A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

OM       OM  A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

 

22.  SEMBAH KUTA MANTRA :

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha

 

23.  NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA  :

( PANGLUKATAN ) :

OM      Gangga muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira selaka, Tinanceban tunjung petak

            Padyusan nira Bhatara Iswara, Pangilanganing papa klesa

            Moksah hilang,  OM  SANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira Tembaga, Tinanceban tunjung bang

            Padyusan nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna

            Moksah hilang,  OM  BANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira mas, Tinanceban tunjung jenar

             Padyusan nira Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang,  OM  TANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking utara, Tiningalana telaga noja

            Jambangan nira wesi, Tinanceban tunjung ireng

            Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru

            Moksah hilang,  OM  ANG  ya namah.

 

OM      Gangga muncar saking madya, Tiningalana telaga noja

             Jambangan nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna, Padyusan nira Bhatara Siwa, Pangilanganing dasa mala

            Moksah hilang,  OM  ING  ya namah.

 

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.

MANTRA :

            OM      Atma-tattwatma suddha ya mam swaha

            OM      Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha,

                    caturti suddha.Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.

 

Sesampune puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.

MANTRA :

            OM      Atma tatwa-atma suddha mam swaha

            OM      OM  Ksama sampurna ya namah

            OM      Sri Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.

 

 

24.  ANGLUKAT BEBANTEN :

                                      OM           Pukulun Hyang-Hyang ning Prana-prani, Hyang-Hyang ning Sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, kacaruban, karereban ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.

                              OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

25.  NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :

Tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.MANTRA :

          OM         Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan           pangilanganing mala papa petaka.

                        OM Bang Bamadewa

            OM      Dewa Bayu angiberaken lara rogha wighna

            OM      Sah wausat ya namah swaha

            OM      Sang bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara

                          Sang bhuta nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna

            OM      Ksama sampurna ya namah.

 

26.  NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Mretyun ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa

                        Papa mretyu sangkara, Sarwa kala kalika syah

 

                        Wigraha ngawipada, Susupna durmangala

                        Papa krodha winasa ya, Sarwa wighna winasa ya namah

 

 

27.  NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris astawayang.

MANTRA :

                        OM      Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha wighna winasa ya

                                    Sarwa satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah

                        OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

28.  NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris astawayang.

MANTRA

                         OM      Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian mwang sang inulapan.

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

            PAKELING :

Sesampune puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami. Munggwing pemargin nyane :

Banten Bayakaone ring sor

Banten Durmangalane ring madya

Banten Prayascittane ring luhur

Banten Pangulapane ring luhur-luhur.

            Pangilenan nyane :

Kapertama ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.

Sesampun puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun ring damuh Ida Bhatara, sadurunge puput ngayat/ngalinggihang Bhatara sami, lan sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring damuh Ida Bhatara sami.

 

 

    29. SMARA RATIH-STAWA:

             Om,    Pradhana Purusa samyogaya, Widnu Dewa bhoktraya namah,

                        Dewa-dewi sayogaya, Paramasiwa ya nmah swaha.

           

            Om,     Ananggah kamini-patni, Puspeso mandhani thata.

                        Kamo dhanawati patni, madani-madana thata.

 

            Om,     Manobhawa sobhani ca, Sri-mati makara dhwajah,

                        Kandrpa Somawatis ca, Sri Jayani ca manmatah.

 

            Om,     Kama dewa Rtih-patni, Swetari smara ewa ca,

                        Atanur nandini patni, Manasi jas ca tarini.

 

            Om, Kamadewa ca tarini. Om, Om, Kamadewa ca Ratiye namah swaha.

 

  1. TIGA GURU-STAWA:      

                               

OM      Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam

            Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat pawitranam

 

OM      Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam

            Guru pantaram dewam, Guru-dewa suddha-atmakam

 

OM      Brahma Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri linggatmakam

            Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa rogha winasaya,

            Sarwa wighna winasa nam.

 

OM      Ang Ung Mang  Paduka Guru bhyo namah swaha.

 

 

      31. PAKELING SAHA SEHA:

            OM Pukulun Sang Hyang Predhan Purusa makadi sira Sang Hyang Smara Ratih, manusan nira handa sih waranigrah ri sira, anembah angadakaken yadnya pakala-kalan nira sang apawiwahan, ledang hyun paduka Bhatara padha tumedun padha manlingga-malinggih ring rwaning kukus harum. Anodya hanyaksinin mwah hamuputaken yadnyan nira manusan paduka Bhatara.

 

                    Om          Prenamya Bhasaka-dewam, Sarwa klesa winasanam,

                                    Prenamya-aditya siwartam, Bhukti-mukti wara-pradam.

 

34. NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:

a.       NGATURAN TOYA :

( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).

Wangsuh cokor/pada      : OM  Pang padya argha ya namah

Wangsuh tangan             : OM  Ang Argha dwaya namah

Toya kumur                     : OM  Jeng Jihwa suci nirmala ya namah

Toya araup                      : OM  Cang Camani ya namah

Asirat                              : OM  Ghrim ksama sampurna ya namah

 

b.      NGATURAN PASUCIAN :

OM      Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca

            Hyastu sarwa to dewa-dewanam,

            Hyastu dewa maha punyam ya namah swaha.

 

c.       NGATURAN PUSPA/SEKAR :

OM      Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca

            Puspantu sarwa to dewa-dewanam

            Puspantu dewa maha punyam ya namah swaha

 

d.      NGATURAN TIGASAN :

OM      Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca

            Tigastu sarwa to dewa-dewanam

            Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha

 

e.       NGATURAN TOYA :

OM      OM  Siwa-amretha ya namah

OM      OM  Sadasiwa-amretha ya namah

OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

    35. .HATUR PAKELING PAKALA-KALAN PAWIWAHAN:

          OM       Pukulun Sang Hyang Predhana Purusa, Sang Hyang Akas, Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana, makadi sira Sang Hyang Triyodasasaksi. Manusan nira handa sih waranugraha pukulun, manusan ira anemu-aken jatu-karman ipun, wet tinuduh den nira Hyang kamajaya Kamaratih, maka tungtunging janma padha, hamangguhaken rasaning dumadi janma. Manusa nira handa tirtha-amretha, pangleburan, pangilanganing sarwa leteh, sebel kandel, malaning Kamajaya Kamaratih, mogha Bhatara hasung nugraha, enaking alakirabhi, anutugaken Kaman-ipun, ngawreddhyaken kadirghayusan. Tan kahalangan tan kabancana dening sarwa bhuta kala dengen, lawan sakriyopayaning wang hala. Apan sampun paduka Bhatara wus angadeg anyaksinin.

             OM   Siddhir astu tad astu ya namah swaha.

 

    36. NGATURAN TATEBASAN BYAKALA:

            OM      Krura raksasa-rupa ca, Bhaibatsya yo ca ya punah,

                        Somya-rupam awa-pnoti, Twam wande waradam amum.

 

       OM          Pukulun sang kala-kali sedaya, sira reka pukulun angluwaraken sakwehing kala-kali hana ring awak sarirn-ipun manusan nira, punki Pabyakalan ipun ka-atur ring sang Kala-kala sedaya, sira angluwaraken sakwehing Kala Kacarik, Kala Pati, Kala Kapekpek, Kala Kapengpeng, Kala Cangkingan, Kala Durbala-durbali, Kala Brahma, mwah sakwehing Kala-kali han ring awak sariran nira sang apawiwahan, sang alakirabhi, Wruh pwa sira Hyang-hyanging awak saniranya, kajenengana den nira Sang Hyang Purusangkara, kasaksinin den nira Sang Hyang Triyodasasaksi, lah maruwaten ta sir, mundura ta sira sang Kala-kali maring awak sariran nira sang alakirabhi, tunggunen den bayu preman anutugaken tuwuh ipun amangguhaken dirghayusa.

         OM         Siddhir astu tad astu ya namah swaha.

 

37.  UPASAKSI :

OM      Pukulun paduka Bhatara Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa mekadi sira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Ibu Pretiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Kaki Bhagawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Bhagawan Citragotra, Nini Bhagawan Citragotra, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng, Nini Panyeneng.

            Kajenengana denira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, kasaksinin denira Sang Hyang Triyo dasa saksi, kewaranugraha denira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha, manusan nira hanembah angadakaken yadnya Pakala-kala sang apawiwahan. Pada kenak hyun paduka Bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamuputaken saturan manusan nira, minawita kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Akedik kang sun hangaturaken, gung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Ledang paduka Bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

    38..  NGANTEB ANTUK TRIBHUWANA-STAWA:

      OM      Parama Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah

                  Siwa sya pranato nityam, Candis ca ya namo”stute

 

      OM      Niwedhya Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram

                  Sarwa bhakti nala bhatyam, Sarwa karya prasiddhantam

 

      OM      Jayarti jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti

                  Siddhi sakala ma pnuyat, Parama Siwa ya labhatyam.

 

      OM      Nama Siwa ya namah swaha

 

   39. NGANTEB BANTEN PANGAMBIAN:

         OM        Pukulun Sang Hyang Sapta patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Bhesrawana, Sang Hyang Preman, makadi sang Hyang Urip, sir amgehaken ri sthann nira sowing-sowang, pakenaning hulun hangawruha ri sira handa raksanen den rahayu, haneda urip warasa dirghayusa sang  nginambian.

            OM  Prethiwi dewa-sampurnam, apah teja jiwatmanam,

         bayu akasa premanam, Om, Dirghayu jagat mretham.

 

   40.  NGAYAB KA LUHUR:

Ngayab kaluhur karihinin antuk ngayab ring sanggar Surya, wus punika wawu ngayab kaluhur ring banten pakala-kalane.

Mantra: OM  Bhuktyantu Dewa maha-punyam, bhuktyantu dewan ca,

                        Bhuktyantu srwato Dewa-dewanca.

               OM  Bhuktyantu Sri Lokanatha,

                       Bhukti trepti sarwa banten ya namah sawha.

 

                     OM  Ekawa Dwiwara Triwara Caturwara Pancawara,

                              Purwa pras prasiddha sidhi rhayu.

 

    41.  NGAYAB CARU PAKAL-KALAN:

           OM      Bhuktynatu Durga tangkarm, bhuktyantum ewaca,

                       Bhuktyantu Bhuta bhutanam, bhuktyantu Pisaca sanggyam.

          OM, Ang, Khang Khasolkaya swasthi-swasthi Kala Bhuta predhan purusa    bhoktya namah swaha.

 

    42.             Sesampune puput ngastawayang upacara pakala-kalane antuk dane Mangku, raris kon sang apwiwahan natab upakarane, kariyinin antuk natab Banten Bayakaone dumun ring cokor-cokor, wus punika natab banten Durmangala ring tngkah, raris natab Banten Prayascitane ring muka/prerai, kelanturan antuk natab banten Pangulapane, tatab ring Siwadwara, dumogi siddha pepek paripurna bayu premananing sang apwowahan.

                       Sesampune puput natab upakara pangresikane sami, wawu raris sang mapwiwahan ngaturan sembah pangubhakti.

                       Sesampune puput ngaturan sembah pangubhakti, sesampune puput matirha, raris natab banten Tatebasan Byakalane, wus punika natab banten Ayabane (Ngambe bayu premanning sangmapawiwahan).

 

GAGLARAN PAMANGKU NGILENIN UPACARA

WULAN SAPTA HERI (Bulan Pitung dina)

 

Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :

 

m.    Sebuah Bokoran/nare

n.      Sebuah Sangku/tempat tirtha

o.      Bunga warna-warni secukupnya

p.      Beras/wija secukupnya

q.      Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian

r.        Dhupa secukupnya.

 

Semua itu sebagai perlengkapan para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).

 

Sebelum para Pemangku memulai suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih dahulu seperti tahapan dibawah ini :

 

1. MASILA DEN APNED :

                    OM OM  Padmasana ya namah

                    OM ANG  Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah

 

2.  MEMBERSIHKAN TANGAN :

KANAN :       OM  Suddha mam swaha

KIRI       :       OM  Ati Suddha mam swaha

 

3. PRANAYAMA :

                        RING HATI               : OM  ANG  Brahma ya namah

                        RING AMPRU          : OM  UNG  Wisnu ya namah

                        RING PAPUSUH      : OM  MANG  Iswara ya namah

 

 

4. MENGHATURKAN DHUPA :

                        OM  ANG  Brahma-amretha dhipa ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha dhipa ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha dhipa ya namah

 

5. METABUH ARAK/BEREM :

OM  ANG  KANG  Kasol kaya swasti-swasti sarwa bhuta kala bokta ya namah

 

6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.

                        OM  Ghrim wausat ksama sampurna ya namah

 

7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :

                        OM  I  BA  SA  TA  A

                        OM  YA  WA  SI  MA  NA

                        OM  MANG  UNG  ANG

 

8. PADMASANA RING TOYA :

                        OM  OM  Padmasana ya namah

                        OM  OM  Anantasana ya namah

 

9. DEWA PRATISTHA :

                        OM  OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

10. SEMBAH KUTA MANTRA :

                        OM  Hrang  Hring sah parama siwa adhitya ya namah

 

11. STITI KANG TOYA :

                        OM  SA  BA  TA  A  I

                        OM  NA  MA  SI  WA  YA

                        OM  ANG  UNG  MANG

 

12. SEMBAH SIWA AMRETHA :

                        OM  Hrang  Hring  sah parama siwa-amretha ya namah

 

13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.

                        OM  Puspa dhanta ya namah (sekar)

                        OM  Sri  Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)

                        OM  Kung kumara wija ya namah (bija/beras)

                        OM  Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)

 

 

14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :

                 

      OM      Gangga dewi maha punyam, Gangga salanca medini

                        Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah

 

      OM      Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani

                  Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha manoharam

 

      OM      Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca

                  Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha

 

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :   OM       Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha   pawitrani Ya namah swaha.

     

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.

MANTRA :     OM  ANG  Brahma-amretha ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha ya namah

 

15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :

MANTRA :    

OM      Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa winasa ya

            Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha winasa ya namah

 

NGREMEKIN BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari manise tengen/kanan.

MANTRA :     OM      Bang Bamadewa guhya ya namah

                        OM      Bhur  Bwah  Swah  amretha ya namah

 

APASANG BIJA :

                        Ring sirah                    : OM  Ing Isana ya namah

                        Ring lelata                   : OM  Tang Tatpurusa ya namah

                        Ring tangkah               : OM  Ang Aghora ya namah

                        Ring bahu kanan         : OM  Bang Bamadewa ya namah

                        Ring bahu kiri             : OM  Sang Sadya ya namah

 

 

16. NGASKARA BAJRA :

Sadurunge ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris ngaskara.

MANTRA :    

           OM       Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah

                       Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate

 

            OM      Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah

                        Candra nada bhindu drestham, Spulingga siwa twam ca

 

            OM      Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu

                        Warada labdha sandeham, Wara siddhi nih samsayam

 

NGASKARA :

                        OM  OM  OM  (maklener apisan)

                        OM  ANG  UNG  MANG  (malih maklener)

                        OM  Ang  Kang  Kasolkaya Iswara ya namah  (malih maklener),

tur nglantur nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.

 

 

 

17. NGAKSAMA :

OM      Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah

                              Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa

 

OM      Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah

                              Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci

 

                  OM      Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama

                              Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

 

      NUNAS WARANUGRAHA :         

      OM      Anugraha manoharam, Dewa datta nugrahakam

                  Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahakam

 

      OM      Dewa-dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam

                  Laksmi siddhisca dirgahayu, Nirwighna sukha wredhis ca

 

                  OM      Anugraha ya namah swaha.

 

Sesampune puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.

 

18. APSU  DEWA STAWA :

                  OM      Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute

                              Sarwa klesa winasa ya, Toyane parisuddhaya te

 

                  OM      Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat

                              Sarwa petaka winasa ya, rogha dosa winasa ya

 

                  OM      Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam

                        Siwa-lokam maha-yaste, mantre manah papa-kelah

 

            OM      Siddhim tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar

                        Siwa-amretha manggalan ca, Nadinidam namah siwa ya

 

PANCA-AKSARA STAWA :

OM      Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam

            Papa kotti sahasranam, Aghandam bhawet sagaram

 

OM      Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa nasanam

            Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham pratisthanam

 

OM      Namah siwa ya etyewam, Param Brahman atmane wandam

            Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed agni

 

OM      A-karas ca  U-karas ca, Ma-karo windu nada kam

            Panca-aksara maya proktam, Ongkara agni mantrake

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :    

            OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha pawitrani

                                          Ya namah swaha.

 

Risampune puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng.

 

 

19. GANGGA SINDHU STAWA :

      OM      Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari

                  Kaweri sarayu mahendra, Tenaya carma wati we nuka

 

      OM      Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah

                  Purnam jalah samudra sahitah, Kurwantu te manggalam

 

20. GANGGA DEWI STAWA :

                  OM      Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah

                              Sarwa wighna winasyanti, Sarwa rogha winasa ya

 

21. NGURIPANG TIRTHA :

                  OM      Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang

                  OM      Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,

                              I BA SA TA A, Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha

                  OM      Ang  Ing  Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng

                  OM     OM  I A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

            OM     OM  A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

 

22. SEMBAH KUTA MANTRA :

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha

 

Sawusan muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane, satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.

 

 

23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA  :

( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami kagenahng ring tirtha penglukatane.

            OM      Gangga muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira selaka, Tinanceban tunjung petak

                        Padyusan nira Bhatara Iswara, Pangilanganing papa klesa

                        Moksah hilang,  OM  SANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira Tembaga, Tinanceban tunjung bang

                        Padyusan nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang,  OM  BANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira mas, Tinanceban tunjung jenar

                        Padyusan nira Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang,  OM  TANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking utara, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira wesi, Tinanceban tunjung ireng

                        Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang,  OM  ANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking madya, Tiningalana telaga noja

                          Jambangan nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa, Pangilanganing dasa mala

                         Moksah hilang,  OM  ING  ya namah.

 

 

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.

MANTRA :                        

 

            OM      Atma-tattwatma suddha ya mam swaha

            OM       Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha, caturti suddha. Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.

 

Sesampune puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.

MANTRA :

            OM      Atma tatwa-atma suddha mam swaha

            OM      OM  Ksama sampurna ya namah

            OM      Sri Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.

 

24. ANGLUKAT BEBANTEN :

                                                        OM    Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani, Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.

                              OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :

Tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa petaka. OM Bang Bamadewa

            OM      Dewa Bayu angiberaken lara rogha wighna

            OM      Sah wausat ya namah swaha

 

            OM      Sang bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara

                        Sang bhuta nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna

            OM      Ksama sampurna ya namah.

 

26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Mretyun ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa

                        Papa mretyu sangkara, Sarwa kala kalika syah

 

            OM      Wigraha ngawipada, Susupna durmangala

                        Papa krodha winasa ya, Sarwa wighna winasa ya namah

 

27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris astawayang.

MANTRA :

                        OM      Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha wighna winasa ya

                                    Sarwa satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah

 

                        OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

 

28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris astawayang.

MANTRA :

                      OM         Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian mwang sang inulapan.

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

            PAKELING :

Sesampune puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.

Munggwing pemargin nyane :

Banten Bayakaone ring sor

Banten Durmangalane ring madya

Banten Prayascittane ring luhur

Banten Pangulapane ring luhur-luhur.

            Pangilenan nyane :

Kapertama ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.

Sesampun puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring sang rare.

 

29. NGASTAWA  SURYA :

                  OM      OM  Padmasana ya namah

                  OM      OM  Anantasana ya namah

                  OM      OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

                  OM      Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute

                                Sweta pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah

 

                  OM      Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam

                              Aditya twam gatir asi, Aditya caksur ewa ca

 

                  OM      Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah

                              Surya rasmir Hrsi kesa, Surya sattwam maha wiryam

 

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha

 

30.       NGASTAWA SANG HYANG AGNI/ BRAHMA :

            OM      Namaste Bhagawan Agni, namaste Bhagawan Hari,

                        Namaste Bhagawan Isa, Sarwa bhaksa Utasana.

 

            OM      Tri-warno Bhagawan Agni, Brahma Wisnu Maheswarah,

                        Santikam paustikam caiwa, Raksanan ca bhicarukam.

           

            OM      Anujnanam kretam loke, Saubhagyam priya darsanam,

                        Yat kancit sarwa karyanam, Siddhir ewa na samsayah.

 

            OM      Brahma Praja-pati srestah, Swayambhur warado guruh,

                        Padma yoni catur waktro, Brahma sakalam u-cyate.

            OM      Rang Wi-Pataye Praja-pati ya namah,

            OM      Ang,Ung, Mang, Parama tri-sakti ya namah.

 

      31. NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA

 

OM      Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu

                                    Halungguh ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi

                        OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha, Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep, Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

 

            33        ATUR PIUNING SAHA SEHA

OM      Pukulun Bhatara Sang Hyang Tri Agni, makadi sira Sang Hyang Brahma, manusan nira haneda sih waranugraha ri sira, apan sira Sang Hyang Utasana masrira sarwa bhaksa wenang angruwat sehananing sebel kandel, lara rogha wighnaning si bajang bayi, ledang paduka Bhatara tumedun melingga ring sarining kukus harum, apan si bajang bayi wus awulan sapta heri mangke, handa sih waranugraha ri sira. Padha kenak hyun paduka Bhatara  kairing antuk dampati, sanak putunya, anglurahan agung alit, mwah kala sedhahan makabehan, padha anodya, anyaksinin mwang amukti saturan manusan nira.

OM      Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa winasanam

                                    Prenamya aditya-siwartham, Bhukti-mukti wara pradam.

 

      34  NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:

f.       NGATURAN TOYA :

  ( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).

Wangsuh cokor/pada  : OM  Pang padya argha ya namah

Wangsuh tangan         : OM  Ang Argha dwaya namah

Toya kumur                 : OM  Jeng Jihwa suci nirmala ya namah

Toya araup                  : OM  Cang Camani ya namah

Asirat                          : OM  Ghrim ksama sampurna ya namah

 

g.      NGATURAN PASUCIAN :

OM      Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca

            Hyastu sarwa to dewa-dewanam,

            Hyastu dewa maha punyam ya namah swaha.

 

h.      NGATURAN PUSPA/SEKAR :

OM      Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca

            Puspantu sarwa to dewa-dewanam

            Puspantu dewa maha punyam ya namah swaha

 

i.        NGATURAN TIGASAN :

OM      Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca

            Tigastu sarwa to dewa-dewanam

            Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha

 

j.        NGATURAN TOYA :

OM      OM  Siwa-amretha ya namah

OM      OM  Sadasiwa-amretha ya namah

OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

      35  GASTAWA SANG CATUR SANAK :

OM      Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra, sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan, makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir. Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.

 

      36  NGASTAWA BAJANG :

                        OM      Sang Korsika, Sang Gharga, Sang Metri, Sang Kursya, Sang Pretanjala.    I Malipa, I Malipi, pinaka Bapa Bajang Babu Bajang, Bajang Toya, Bajang Dodot, Bajang Simbuh, Bajang Julit, Bajang Yuyu, Bajang Sapi, Bajang Kebo, Bajang papah, Bajang Kalong,Bajang Bungseng mwang sakwehing ingaraning Bajang.

            Wusing pada amukti mulih ta kita maring desanira.

            Syah, Syah, Syah.

 

           

37. NGASTAWA PANGAMBIAN :

                   OM            Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian.

                                    OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

            38.  NGANTEB BANTEN SOROHAN :

OM      Pukulung Sang Siwa Catur Mukha Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha, makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

      39. UPASAKSI  YADNYA

OM      Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng, Nini Panyeneng.

Kajenengana den nira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi, kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya awulan sapta heri sira si Bajang Bayi.

Ledang paduka bhatara pada anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

40. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA :

      OM      Parama Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah

                  Siwa sya pranato nityam, Candis ca ya namo”stute

 

      OM      Niwedhya Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram

                  Sarwa bhakti nala bhatyam, Sarwa karya prasiddhantam

 

      OM      Jayarti jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti

                  Siddhi sakala ma pnuyat, Parama Siwa ya labhatyam.

 

                  OM      Nama Siwa ya namah swaha

 

 

41. NGAYAB BEBANTEN (ngayab ke luhur).

                  OM      Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca

                              Bhuktyantu dewas ca, Bhuktyantu sarwa to dewam

 

                  OM      Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha

                              Saganah sapari warah, Sawarga sada siddhis ca

 

                  OM      Dewa bhoktya laksana ya namah

                  OM      Dewa treptyantu laksana ya namah

                  OM      Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha

 

 

42. NGAYABIN  PRAS :

                  OM      Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara

                              Purwa pras prasiddha rahayu.

 

      43. PANGILEN :

Sesampun puput, raris dane mangku natabin sang rare banten pangresikan nyane. Kapertama tatabin banten bayakaone, kaping kalih tatabin banten durmangalane, kaping tiga tatabin banten prayascittane, kaping empat tatabin raris banten pangulapane, raris malukat saha eteh-eteh nyane sami kemargiang. Rawuhing bapa ibunya sareng binresihan, taler ring bajang colong nyane.

 

                                                    

44. NGATURAN SEMBAH :

      Munggwing dudonan ngaturan sembah, mangdane manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan upakara lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli raris tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara Brhma, picayang ring sang rare. 

 

 

45. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :

Sesampun puput ngaturan sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.

           

 

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.

 

      WEHANA SESARIK :

                  Ring muka/rahi            : OM  Sri Sri yawe namah

                  Ring Bahu kanan        : OM  Anengenaken bagia phula kreti

                  Ring Bahu kiwa          : OM  Angiwakakna pancabaya lara rogha

                  Ring Punuk                 : OM  Angungkurana sot papahing wong

                  Ring Bahong               : OM  Angarepaken bagya phula kreti pasesangon

                  Ring Tangkah              : OM  Anganti-nganti sabdha rahayu

                  Ring Tangan kalih       : OM  Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga

 

 

 

      WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :

      MANTRAN TETEBUS :

                  OM      Kawelasana den nira sang adi-dumadi

                              Kawelasana den nira Sang ngawewehan, sang apiturun

                              Kawelasana den nira Bhatara mwang manusa,

                              Saking lor saking kidul, welas asih ring ipun sang mawoton

 

      PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring Siwadwara, ring Karna.

      MANTRA :

OM      Wehaning raga dirghayusa, langgenganing angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

      46. NGAKSAMA :                         

Kaping untad dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara masineb.

MANTRAN PANYINEB :

            OM    OM  Atma-tattwatma suddha mam swaha.

            OM    OM  Ksama sampurna ya namah swaha

            OM      OM  Sarwa dewa somya ya namah swaha

           

 

 

TUNTUNAN PEMANGKU DIDALAM MELAKSANAKAN YADNYA.

 

. YADNYA NIGANG SASIHAN.

 

            Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :

 

s.       Sebuah Bokoran/nare

t.        Sebuah Sangku/tempat tirtha

u.      Bunga warna-warni secukupnya

v.      Beras/wija secukupnya

w.    Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian

x.      Dhupa secukupnya.

 

Semua itu sebagai perlengkapan para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).

 

Sebelum para Pemangku memulai suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih dahulu seperti tahapan dibawah ini :

 

1. MASILA DEN APNED :

                    OM OM  Padmasana ya namah

                    OM ANG  Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah

 

2.  MEMBERSIHKAN TANGAN :

KANAN :       OM  Suddha mam swaha

KIRI       :       OM  Ati Suddha mam swaha

 

3. PRANAYAMA :

                        RING HATI               : OM  ANG  Brahma ya namah

                        RING AMPRU          : OM  UNG  Wisnu ya namah

                        RING PAPUSUH      : OM  MANG  Iswara ya namah

 

 

4. MENGHATURKAN DHUPA :

                        OM  ANG  Brahma-amretha dhipa ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha dhipa ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha dhipa ya namah

 

5. METABUH ARAK/BEREM :

OM  ANG  KANG  Kasol kaya swasti-swasti sarwa bhuta kala bokta ya namah

 

6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.

                        OM  Ghrim wausat ksama sampurna ya namah

7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :

                        OM  I  BA  SA  TA  A

                        OM  YA  WA  SI  MA  NA

                        OM  MANG  UNG  ANG

 

8. PADMASANA RING TOYA :

                        OM  OM  Padmasana ya namah

                        OM  OM  Anantasana ya namah

 

9. DEWA PRATISTHA :

                        OM  OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

10. SEMBAH KUTA MANTRA :

                        OM  Hrang  Hring sah parama siwa adhitya ya namah

 

11. STITI KANG TOYA :

                        OM  SA  BA  TA  A  I

                        OM  NA  MA  SI  WA  YA

                        OM  ANG  UNG  MANG

 

12. SEMBAH SIWA AMRETHA :

                        OM  Hrang  Hring  sah parama siwa-amretha ya namah

 

13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.

                        OM  Puspa dhanta ya namah (sekar)

                        OM  Sri  Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)

                        OM  Kung kumara wija ya namah (bija/beras)

                        OM  Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)

 

 

14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :

                 

      OM      Gangga dewi maha punyam, Gangga salanca medini

                        Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah

 

      OM      Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani

                  Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha manoharam

 

      OM      Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca

                  Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha

 

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :   OM       Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha   pawitrani Ya namah swaha.

     

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.

MANTRA :     OM  ANG  Brahma-amretha ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha ya namah

 

15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :

MANTRA :    

OM      Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa winasa ya

            Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha winasa ya namah

 

NGREMEKIN BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari manise tengen/kanan.

MANTRA :     OM      Bang Bamadewa guhya ya namah

                        OM      Bhur  Bwah  Swah  amretha ya namah

 

APASANG BIJA :

                        Ring sirah                    : OM  Ing Isana ya namah

                        Ring lelata                   : OM  Tang Tatpurusa ya namah

                        Ring tangkah               : OM  Ang Aghora ya namah

                        Ring bahu kanan         : OM  Bang Bamadewa ya namah

                        Ring bahu kiri             : OM  Sang Sadya ya namah

 

 

16. NGASKARA BAJRA :

Sadurunge ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris ngaskara.

MANTRA :    

           OM       Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah

                       Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate

 

            OM      Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah

                        Candra nada bhindu drestham, Spulingga siwa twam ca

 

            OM      Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu

                        Warada labdha sandeham, Wara siddhi nih samsayam

 

NGASKARA :

                        OM  OM  OM  (maklener apisan)

                        OM  ANG  UNG  MANG  (malih maklener)

                        OM  Ang  Kang  Kasolkaya Iswara ya namah  (malih maklener),

tur nglantur nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.

 

 

 

17. NGAKSAMA :

OM      Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah

                              Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa

 

OM      Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah

                              Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci

 

                  OM      Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama

                              Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

 

      NUNAS WARANUGRAHA :         

      OM      Anugraha manoharam, Dewa datta nugrahakam

                  Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahakam

 

      OM      Dewa-dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam

                  Laksmi siddhisca dirgahayu, Nirwighna sukha wredhis ca

 

                  OM      Anugraha ya namah swaha.

 

Sesampune puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.

 

18. APSU  DEWA STAWA :

                  OM      Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute

                              Sarwa klesa winasa ya, Toyane parisuddhaya te

 

                  OM      Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat

                              Sarwa petaka winasa ya, rogha dosa winasa ya

 

                  OM      Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam

                        Siwa-lokam maha-yaste, mantre manah papa-kelah

 

            OM      Siddhim tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar

                        Siwa-amretha manggalan ca, Nadinidam namah siwa ya

 

PANCA-AKSARA STAWA :

OM      Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam

            Papa kotti sahasranam, Aghandam bhawet sagaram

 

OM      Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa nasanam

            Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham pratisthanam

 

OM      Namah siwa ya etyewam, Param Brahman atmane wandam

            Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed agni

 

OM      A-karas ca  U-karas ca, Ma-karo windu nada kam

            Panca-aksara maya proktam, Ongkara agni mantrake

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :    

            OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha pawitrani

                                          Ya namah swaha.

 

Risampune puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng.

 

 

19. GANGGA SINDHU STAWA :

      OM      Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari

                  Kaweri sarayu mahendra, Tenaya carma wati we nuka

 

      OM      Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah

                  Purnam jalah samudra sahitah, Kurwantu te manggalam

 

20. GANGGA DEWI STAWA :

                  OM      Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah

                              Sarwa wighna winasyanti, Sarwa rogha winasa ya

 

21. NGURIPANG TIRTHA :

                  OM      Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang

                  OM      Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,

                              I BA SA TA A, Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha

                  OM      Ang  Ing  Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng

                  OM     OM  I A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

            OM     OM  A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

 

22. SEMBAH KUTA MANTRA :

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha

 

Sawusan muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane, satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.

 

 

23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA  :

( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami kagenahng ring tirtha penglukatane.

            OM      Gangga muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira selaka, Tinanceban tunjung petak

                        Padyusan nira Bhatara Iswara, Pangilanganing papa klesa

                        Moksah hilang,  OM  SANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira Tembaga, Tinanceban tunjung bang

                        Padyusan nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang,  OM  BANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira mas, Tinanceban tunjung jenar

                        Padyusan nira Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang,  OM  TANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking utara, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira wesi, Tinanceban tunjung ireng

                        Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang,  OM  ANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking madya, Tiningalana telaga noja

                          Jambangan nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa, Pangilanganing dasa mala

                         Moksah hilang,  OM  ING  ya namah.

 

 

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.

MANTRA :                        

 

            OM      Atma-tattwatma suddha ya mam swaha

            OM       Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha, caturti suddha. Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.

 

Sesampune puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.

MANTRA :

            OM      Atma tatwa-atma suddha mam swaha

            OM      OM  Ksama sampurna ya namah

            OM      Sri Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.

 

24. ANGLUKAT BEBANTEN :

                                                        OM    Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani, Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.

                              OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :

Tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa petaka. OM Bang Bamadewa

            OM      Dewa Bayu angiberaken lara rogha wighna

            OM      Sah wausat ya namah swaha

 

            OM      Sang bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara

                        Sang bhuta nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna

            OM      Ksama sampurna ya namah.

 

26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Mretyun ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa

                        Papa mretyu sangkara, Sarwa kala kalika syah

 

            OM      Wigraha ngawipada, Susupna durmangala

                        Papa krodha winasa ya, Sarwa wighna winasa ya namah

 

 

27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris astawayang.

MANTRA :

                        OM      Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha wighna winasa ya

                                    Sarwa satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah

 

                        OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

 

28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris astawayang.

MANTRA :

                      OM         Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian mwang sang inulapan.

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

            PAKELING :

Sesampune puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.

Munggwing pemargin nyane :

Banten Bayakaone ring sor

Banten Durmangalane ring madya

Banten Prayascittane ring luhur

Banten Pangulapane ring luhur-luhur.

            Pangilenan nyane :

Kapertama ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.

Sesampun puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring sang rare.

 

29. NGASTAWA  SURYA :

                  OM      OM  Padmasana ya namah

                  OM      OM  Anantasana ya namah

                  OM      OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

                  OM      Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute

                                Sweta pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah

 

                  OM      Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam

                              Aditya twam gatir asi, Aditya caksur ewa ca

 

                  OM      Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah

                              Surya rasmir Hrsi kesa, Surya sattwam maha wiryam

 

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha

 

30.       NGASTAWA SANG HYANGTIGA GURU :

            OM      Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam

                        Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat pawitranam

 

            OM      Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam

                        Guru pantaram dewam, Guru-dewa suddha-atmakam

 

            OM      Brahma Wisnu Iswara Dewam,  Tri murti tri linggatmakam

                        Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa rogha winasaya

                        Sarwa wighna winasa nam.

 

            OM      Ang Ung Mang  Paduka Guru bhyo namah swaha.

      31. NGASTAWA BHATARA KAWITAN

                ( Pangastawan Ratu Pasek )

                        OM      Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca tirtham

                                    Sapta Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam

                        OM      Ang Gong Gnijaya namah swaha

                        OM      Ang Gnijaya jagat patya namah

                        OM      Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas ca,

                                    De Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.

                      OM         OM  Panca Rsi Sapta Rsi paduka Guru bhyo namah swaha.

     

 

32  NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA

 

OM      Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu

                                    Halungguh ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi

                        OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha, Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep, Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

 

      33  NGASTAWAN SANG HYANG KUMARA

OM      Namah Kumara sad-anana ya, Siki dwa jaya prati mayaloke

Sad-kreti kanandakara ya nityam, Namo”stu tasme dwajawara pujitam

 

OM      Rudra-atma kaya prati mayaloke, Bramanya dewaya siki dwaja ya

                        Senapratewa dahita ya nityam dewyam,  Namo”stu koncadala darana ya

 

OM      Namah sada-agni ya wiyaka ya, Namo”stu kajrambha kaya jaya nityam

                        Sasti-praya ya mala santriyatre, Namah sadakurkuta namo hana ya

 

OM      Ya namo”stu hanganila ya nityam, Namo”stu widya warada ya loke

                        Namo”stu rohika wapiya,  Huwah prakase warado namo”stu te.

            OM, Kumara dewa ya namah swaha.

 

      34  ATUR PIUNING SAHA SEHA

OM      Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang Guru Kamimitan, Hyang Ibu Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Ledang paduka bhatara tumudun pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, kairing antuk Dampati sanak putunnya, widyadara-widyadari, anglurahan agung-alit mwang kala sedahannya makabehan. Sira sang apiturun sang adi dumadi ri sira si Bajang Bayi, manusan nira handa sih  waranugrahan pukulun. Manusan nira handa anembah angadakaken yadnya nigang sasihan si bajang bayi, ri jeng paduka bhatara sinamian, pahenaka hyun paduka bhatara pada malingga ring rwaning kukus arum.

 

OM      Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa winasanam

                                    Prenamya aditya-siwartham, Bhukti-mukti wara pradam.

 

      35  NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:

k.      NGATURAN TOYA :

  ( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).

Wangsuh cokor/pada  : OM  Pang padya argha ya namah

Wangsuh tangan         : OM  Ang Argha dwaya namah

Toya kumur                 : OM  Jeng Jihwa suci nirmala ya namah

Toya araup                  : OM  Cang Camani ya namah

Asirat                          : OM  Ghrim ksama sampurna ya namah

 

l.        NGATURAN PASUCIAN :

OM      Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca

            Hyastu sarwa to dewa-dewanam,

            Hyastu dewa maha punyam ya namah swaha.

 

m.    NGATURAN PUSPA/SEKAR :

OM      Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca

            Puspantu sarwa to dewa-dewanam

            Puspantu dewa maha punyam ya namah swaha

 

n.      NGATURAN TIGASAN :

OM      Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca

            Tigastu sarwa to dewa-dewanam

            Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha

 

o.      NGATURAN TOYA :

OM      OM  Siwa-amretha ya namah

OM      OM  Sadasiwa-amretha ya namah

OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

      36  MAPEKELING SAHA SEHA

OM      Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang GuruKamimitan, Hyang Ibu Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Pada kenak hyun paduka bhatara pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, manusan nira handa hangaturaken sarining banten nigang sasihan si bajang bayi. Ledang paduka bhatara pada amukti sari saturan manusan nira. Minawi ta kirang langkung saturan ipun den agung ampuranne manusan nira, alit kang sung hangaturaken agung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Padha kenak hyun paduka bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamukti sari saturan manusan paduka bhatara.

 

OM      Siddhir astu tadastu astu ya namah swaha.

 

 

37  NGANTEB SESAYUT :

                  OM      Sangkepaning pramananta, Negara sya muniwantam

                              Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

                  OM      Pujasya mantrasya, Tri-aksara maha kodratam

                                Brahmangga murcage yuktam, Siwangga mantra matmakam

 

                  OM      Panca bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet

                              Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

                  OM      Atma sarira treptya paripurna ya namah.

                  OM      Bayu premana treptya paripurna yanamah.

 

 

      38  NGASTAWA SANG CATUR SANAK :

OM      Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra, sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan, makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir. Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.

 

      39  NGASTAWA BAJANG :

                        OM      Sang Korsika, Sang Gharga, Sang Metri, Sang Kursya, Sang Pretanjala.    I Malipa, I Malipi, pinaka Bapa Bajang Babu Bajang, Bajang Toya, Bajang Dodot, Bajang Simbuh, Bajang Julit, Bajang Yuyu, Bajang Sapi, Bajang Kebo, Bajang papah, Bajang Kalong,Bajang Bungseng mwang sakwehing ingaraning Bajang.

            Wusing pada amukti mulih ta kita maring desanira.

            Syah, Syah, Syah.

40. NGASTAWA JEJANGANAN :

OM      Pukulung Kaki Hamong, Nini Hamong, Babu Banglong, Babu Abra, Babu Sinang, Babu Maranak, Babu Anjuroni, Babu Anungkurat, Babu Wisesa, Babu Dadukun sabhumi, Babu Gedobyah, Babu Surastri, Babu Suparni. Ingsun handasih kreta nugrahan-nira, handa hanjangani si bajang bayi.    Iki tadah sajin nira, liwet kacang satingkeb lawan jangan sangiyu. Minawi wenten kirang luput ipun, den agung ampurane manusan nira, enak ta kita pada amukti sari lawan sanak kira kabeh. Alit kang sung hangaturaken, agung kang sun haneda. Handa hangluwarana sakwehing si Bajang lara rogha, sanut sangkala, danda upadrawan ipun, balikakna wongen dena becik. Sampun sira mebengin, sampun sira hanyetut, sampun sira hanggites, balikan sira hamongan dena becik, sungana henaking amangan, enaka aturu, enaka hameng-hamengan. Katekana jejaka, warasa dirghayusa paripurna.

            OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

41. NGASTAWA PANGAMBIAN :

                   OM            Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian.

     

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

      42.             NGASTAWA SAMBUTAN

OM      Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut, tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.

OM      Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang

                                    Ang Ung Mang OM.

           

 

      43.             NGANTEB BANTEN SOROHAN :

OM      Pukulung Sang Siwa Catur Mukha Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha, makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

      44. UPASAKSI  YADNYA

OM      Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng, Nini Panyeneng.

Kajenengana den nira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi, kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya nigang sasihan sira si Bajang Bayi.

Ledang paduka bhatara pada anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.

 

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

45. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA :

      OM      Parama Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah

                  Siwa sya pranato nityam, Candis ca ya namo”stute

 

      OM      Niwedhya Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram

                  Sarwa bhakti nala bhatyam, Sarwa karya prasiddhantam

 

      OM      Jayarti jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti

                  Siddhi sakala ma pnuyat, Parama Siwa ya labhatyam.

 

                  OM      Nama Siwa ya namah swaha

 

 

46. NGEMARGIANG SESARIK :

            Sesampun puput nganteb bebanten ne, raris margiang sesarik nyane ring Palinggihe sami.

 

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.

 

47. NGAYAB BEBANTEN (ngayab ke luhur).

                  OM      Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca

                              Bhuktyantu dewas ca, Bhuktyantu sarwa to dewam

 

                  OM      Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha

                              Saganah sapari warah, Sawarga sada siddhis ca

 

                  OM      Dewa bhoktya laksana ya namah

                  OM      Dewa treptyantu laksana ya namah

                  OM      Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha

 

48. NGAYABIN  PRAS :

                  OM      Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara

                              Purwa pras prasiddha rahayu.

      49. PANGILEN :

Sesampune puput ngayab ke luhur, raris kon ibunyane mangda ngambil pusuhe sane ring ayunan nyane, ibu sang rare kon ngendong/nyuwun pusuhe punika, si bajang bayi/rare ne kagendong antuk wang lianan saking reramanyane. Sesampuni punika pada kagemel, tumuli raris ngadeg ring samping lesunge, saha tatabin ikang rare saha anak-anakan nyane banten ring duwur lesunge punika.

MANTRA :

Ih si Bajang Susila, si Bajang Weking, heling sira ri tadah sajin nira, apan kita angawe hala-hayu. Hulihakna atmaning janma manusa ne manih, haja sira mwah maniwastu pukulun siddha rahayu, seger-oger, urip warasa dirghayusa, tunggunen rahina dalu. Minawi kirang tadahan nira, den agung ampurane si bajang bayi.

OM  Siddhir astu ya namah swaha.

 

Sesampun puput ketatabin, raris tepung tawarin lan siratin tirtha ne sane ring bebanten punika ring sang rare miwah ring anak-anakan nyane sami. Sesampun puput raris kon ngilehin lesunge punika maileh ketengen (kanan).

Munggwing dudonan nyane :

Taluhe ring ajeng, wus punika anak-anakan ne / pusuhe, wusan punika batu ne, wus punika sang rare saha makta tungked bungbungan ne.

MANTRA :

Hangiderana sawawu pada sawasu, anak kira si Tunggul Ametung, putun nira si Kalang Jarak, sira anak-anaking balogo, ingsun anak-anaking pusuh, sira anak-anaking pusuh, ingsun anak-anaking antelu, sira anak-anaking antelu, insun anak-anaking watu, sira anak-anaking watu, ingsun anak-anaking manusa.

 

Ngiderang lesung punika maka pralambang proses/sulur kawentenan nyane sang rare. Lesung saha madaging bun-bunan maka pralambang weteng (perut). Taluh prelambang seperma. Sesampun seperma punika bertemu/awor, manados mangkin rah (darah), sasuwen-suwen dados kentel, kaprelambangin antuk batu, suwen-suwen dados marupa anak alit (manusa) kaprelambangin antuk pusuh. Anak alit sane kari ring telengin garbha (weteng) kawastanin rare pusuh.

 

Sesampun puput ngilehang lesunge, raris lukarin bhusana sang rare tur siraman ring pane ne, taler rawuhang ring anak-anakan pusuhe punika lukaran bhusanan nyane, taler siraman ring pane ne. Sesampun puput raris gentosan bhusana sang rare manut tetagihan nyane.

 

Sesampun puput, raris dane mangku natabin sang rare banten pangresikan nyane. Kapertama tatabin banten bayakaone, kaping kalih tatabin banten durmangalane, kaping tiga tatabin banten prayascittane, kaping empat tatabin raris banten pangulapane, saha eteh-eteh nyane sami kemargiang. Sesampune puput raris natab sambutan nyane sane ring natahe punika.

MANTRA :

OM      Pukulun Kaki Prajapat, Nini Prajapati, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Citragopta, Nini Citragopta, ingsung handa hanugrahan nira, handa anyambuti si bajang bayi. Minawi wenten kari pramana mwang atman ipun anganti ring pinggiring samudra ring telengin udadi mwah ring sangkan paranya, sambut hulihakna maring raga walunan ne si bajang bayi, siddha pepek paripurna maring awak sariran ipun si bajang bayi.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

Sesampune puput ketatabin, raris ilenin banten penyambutan nyane punika, ambil sesariknyane lan tatebus nyane, wehing sang rare.

Sesampune puput pangilene ring natahe, raris kon szang rare taler bapan-ibunyane munggah ring baleen tumuli raris dane mangku ngalukat sang rare. Sadurunge jaga ngalukat, elingang linggihang Kala sang Rare ring cangkem, Atmanyane ring bhrumadhya, Dewan nyane ring Siwadwara, wawu raris kalukat.

Yan manut lontar anggastya purana, yan ngalukat wong/manusa, patut ngangge panglukatan PUJA SRAWE, ASTA PUNGKU mwah PANYUDDHA-MALAN.

 

 

                                                    

50. NGATURAN SEMBAH :

      Munggwing dudonan ngaturan sembah, mangdane manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan upakara lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli raris tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara, picayang ring sang rare. 

 

 

51. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :

Sesampun puput ngaturan sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.

           

 

. NATAB BANTEN SAMBUTAN :

     MANTRA :

OM      Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut, tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.

OM      Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang

                                    Ang Ung Mang OM.

 

52.NGEMARGIANG SESARIK LAN TATEBUS :

Sesampune puput natab banten sambutan nyane, raris wehing sesarik saha tatebus nyane. 

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.

 

      WEHANA SESARIK :

                  Ring muka/rahi            : OM  Sri Sri yawe namah

                  Ring Bahu kanan        : OM  Anengenaken bagia phula kreti

                  Ring Bahu kiwa          : OM  Angiwakakna pancabaya lara rogha

                  Ring Punuk                 : OM  Angungkurana sot papahing wong

                  Ring Bahong               : OM  Angarepaken bagya phula kreti pasesangon

                  Ring Tangkah              : OM  Anganti-nganti sabdha rahayu

                  Ring Tangan kalih       : OM  Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga

 

 

      WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :

      MANTRAN TETEBUS :

                  OM      Kawelasana den nira sang adi-dumadi

                              Kawelasana den nira Sang ngawewehan, sang apiturun

                              Kawelasana den nira Bhatara mwang manusa,

                              Saking lor saking kidul, welas asih ring ipun sang mawoton

 

      PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring Siwadwara, ring Karna.

      MANTRA :

OM      Wehaning raga dirghayusa, langgenganing angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

Sesampune puput ngemargiang pailen-ilen upacara ne ring balene wawu raris upacarane kemargiang ri Mrajan/Sanggah, munggwing pangilen upacarane ri Mrajan, pateh sekadi ngilenin dadudonan ring DEWA YADNYA. Sakewanten rikala jaga ngilenin ring sang rare, mangdane taler ke astawayang kawentenan Sang Catur Sanak Sang Rare. Maka unteng upacarane ri Mrajan, wantah ngawekasang ring Ida Bhatara kawentenan sang rare, saha nuwur waranugraha, mangda ledang Ida Bhatara ngicenin sinar kasucian tur nuntun sang rare ri sajroning kauripane puniki, dumugi siddha sang rare ngemangguhang kerahayuan, tur prasiddha manut sekadi pangaptine ring putra susrusa.

 

      53. NGAKSAMA :                         

Kaping untad dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara masineb.

MANTRAN PANYINEB :

            OM    OM  Atma-tattwatma suddha mam swaha.

            OM    OM  Ksama sampurna ya namah swaha

            OM      OM  Sarwa dewa somya ya namah swaha

 


GAGLARAN PAMANGKU RING PANGILEN PAWETONAN.

 

Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :

 

y.      Sebuah Bokoran/nare

z.       Sebuah Sangku/tempat tirtha

aa.   Bunga warna-warni secukupnya

bb.  Beras/wija secukupnya

cc.   Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian

dd. Dhupa secukupnya.

 

Semua itu sebagai perlengkapan para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).

 

Sebelum para Pemangku memulai suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih dahulu seperti tahapan dibawah ini :

 

1. MASILA DEN APNED :

                    OM OM  Padmasana ya namah

                    OM ANG  Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah

 

2.  MEMBERSIHKAN TANGAN :

KANAN :       OM  Suddha mam swaha

KIRI       :       OM  Ati Suddha mam swaha

 

3. PRANAYAMA :

                        RING HATI               : OM  ANG  Brahma ya namah

                        RING AMPRU          : OM  UNG  Wisnu ya namah

                        RING PAPUSUH      : OM  MANG  Iswara ya namah

 

 

4. MENGHATURKAN DHUPA :

                        OM  ANG  Brahma-amretha dhipa ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha dhipa ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha dhipa ya namah

 

5. METABUH ARAK/BEREM :

OM  ANG  KANG  Kasol kaya swasti-swasti sarwa bhuta kala bokta ya namah

 

6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.

                        OM  Ghrim wausat ksama sampurna ya namah

 

 

7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :

                        OM  I  BA  SA  TA  A

                        OM  YA  WA  SI  MA  NA

                        OM  MANG  UNG  ANG

 

8. PADMASANA RING TOYA :

                        OM  OM  Padmasana ya namah

                        OM  OM  Anantasana ya namah

 

9. DEWA PRATISTHA :

                        OM  OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

10. SEMBAH KUTA MANTRA :

                        OM  Hrang  Hring sah parama siwa adhitya ya namah

 

11. STITI KANG TOYA :

                        OM  SA  BA  TA  A  I

                        OM  NA  MA  SI  WA  YA

                        OM  ANG  UNG  MANG

 

12. SEMBAH SIWA AMRETHA :

                        OM  Hrang  Hring  sah parama siwa-amretha ya namah

 

13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.

                        OM  Puspa dhanta ya namah (sekar)

                        OM  Sri  Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)

                        OM  Kung kumara wija ya namah (bija/beras)

                        OM  Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)

 

 

14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :

                 

      OM      Gangga dewi maha punyam, Gangga salanca medini

                        Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah

 

      OM      Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani

                  Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha manoharam

 

      OM      Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca

                  Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha

 

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :   OM       Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha   pawitrani Ya namah swaha.

     

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.

MANTRA :     OM  ANG  Brahma-amretha ya namah

                        OM  UNG  Wisnu-amretha ya namah

                        OM  MANG  Iswara-amretha ya namah

 

15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :

MANTRA :    

OM      Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa winasa ya

            Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha winasa ya namah

 

NGREMEKIN BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari manise tengen/kanan.

MANTRA :     OM      Bang Bamadewa guhya ya namah

                        OM      Bhur  Bwah  Swah  amretha ya namah

 

APASANG BIJA :

                        Ring sirah                    : OM  Ing Isana ya namah

                        Ring lelata                   : OM  Tang Tatpurusa ya namah

                        Ring tangkah               : OM  Ang Aghora ya namah

                        Ring bahu kanan         : OM  Bang Bamadewa ya namah

                        Ring bahu kiri             : OM  Sang Sadya ya namah

 

 

16. NGASKARA BAJRA :

Sadurunge ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris ngaskara.

MANTRA :    

           OM       Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah

                       Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate

 

            OM      Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah

                        Candra nada bhindu drestham, Spulingga siwa twam ca

 

            OM      Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu

                        Warada labdha sandeham, Wara siddhi nih samsayam

 

NGASKARA :

                        OM  OM  OM  (maklener apisan)

                        OM  ANG  UNG  MANG  (malih maklener)

                        OM  Ang  Kang  Kasolkaya Iswara ya namah  (malih maklener),

 

tur nglantur nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.

 

 

17. NGAKSAMA :

OM      Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah

                              Mamoca sarwa papebhyah, Phalaya swa sadasiwa

 

OM      Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah

                              Trahimam pundari kaksah, Sambhahya byantara suci

 

                  OM      Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama

                              Ksantawyo manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam

 

      NUNAS WARANUGRAHA :         

      OM      Anugraha manoharam, Dewa datta nugrahakam

                  Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahakam

 

      OM      Dewa-dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam

                  Laksmi siddhisca dirgahayu, Nirwighna sukha wredhis ca

 

                  OM      Anugraha ya namah swaha.

 

Sesampune puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.

 

18. APSU  DEWA STAWA :

                  OM      Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute

                              Sarwa klesa winasa ya, Toyane parisuddhaya te

 

                  OM      Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat

                              Sarwa petaka winasa ya, rogha dosa winasa ya

 

                  OM      Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam

                        Siwa-lokam maha-yaste, mantre manah papa-kelah

 

            OM      Siddhim tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar

                        Siwa-amretha manggalan ca, Nadinidam namah siwa ya

 

PANCA-AKSARA STAWA :

OM      Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam

            Papa kotti sahasranam, Aghandam bhawet sagaram

 

OM      Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa nasanam

            Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham pratisthanam

 

OM      Namah siwa ya etyewam, Param Brahman atmane wandam

            Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed agni

 

OM      A-karas ca  U-karas ca, Ma-karo windu nada kam

            Panca-aksara maya proktam, Ongkara agni mantrake

 

      Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun.

      MANTRA :    

            OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha pawitrani

                                          Ya namah swaha.

 

Risampune puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng.

 

 

19. GANGGA SINDHU STAWA :

      OM      Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari

                  Kaweri sarayu mahendra, Tenaya carma wati we nuka

 

      OM      Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah

                  Purnam jalah samudra sahitah, Kurwantu te manggalam

 

20. GANGGA DEWI STAWA :

                  OM      Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah

                              Sarwa wighna winasyanti, Sarwa rogha winasa ya

 

21. NGURIPANG TIRTHA :

                  OM      Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang

                  OM      Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,

                              I BA SA TA A, Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha

                  OM      Ang  Ing  Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng

                  OM     OM  I A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

            OM     OM  A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha

 

22. SEMBAH KUTA MANTRA :

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha

 

Sawusan muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane, satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.

 

 

23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA  :

( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami kagenahng ring tirtha penglukatane.

            OM      Gangga muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira selaka, Tinanceban tunjung petak

                        Padyusan nira Bhatara Iswara, Pangilanganing papa klesa

                        Moksah hilang,  OM  SANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira Tembaga, Tinanceban tunjung bang

                        Padyusan nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang,  OM  BANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira mas, Tinanceban tunjung jenar

                        Padyusan nira Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang,  OM  TANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking utara, Tiningalana telaga noja

                        Jambangan nira wesi, Tinanceban tunjung ireng

                        Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang,  OM  ANG  ya namah.

 

            OM      Gangga muncar saking madya, Tiningalana telaga noja

                          Jambangan nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa, Pangilanganing dasa mala

                         Moksah hilang,  OM  ING  ya namah.

 

 

Risampune puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.

MANTRA :                        

 

            OM      Atma-tattwatma suddha ya mam swaha

            OM       Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha, caturti suddha. Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.

 

Sesampune puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.

MANTRA :

            OM      Atma tatwa-atma suddha mam swaha

            OM      OM  Ksama sampurna ya namah

            OM      Sri Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.

 

24. ANGLUKAT BEBANTEN :

                                                        OM    Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani, Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.

                              OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :

Tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa petaka. OM Bang Bamadewa

            OM      Dewa Bayu angiberaken lara rogha wighna

            OM      Sah wausat ya namah swaha

 

            OM      Sang bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara

                        Sang bhuta nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna

            OM      Ksama sampurna ya namah.

 

26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris astawayang.

MANTRA :

            OM      Mretyun ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa

                        Papa mretyu sangkara, Sarwa kala kalika syah

 

            OM      Wigraha ngawipada, Susupna durmangala

                        Papa krodha winasa ya, Sarwa wighna winasa ya namah

 

27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris astawayang.

MANTRA :

                        OM      Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha wighna winasa ya

                                    Sarwa satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah

 

                        OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :

Taler tirtha sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris astawayang.

MANTRA :

                      OM         Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian mwang sang inulapan.

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

 

 

            PAKELING :

Sesampune puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.

Munggwing pemargin nyane :

Banten Bayakaone ring sor

Banten Durmangalane ring madya

Banten Prayascittane ring luhur

Banten Pangulapane ring luhur-luhur.

            Pangilenan nyane :

Kapertama ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.

Sesampun puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring sang rare.

 

29. NGASTAWA  SURYA :

                  OM      OM  Padmasana ya namah

                  OM      OM  Anantasana ya namah

                  OM      OM  Dewa-Dewi pratistha ya namah

 

                  OM      Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute

                                Sweta pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah

 

                  OM      Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam

                              Aditya twam gatir asi, Aditya caksur ewa ca

 

                  OM      Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah

                              Surya rasmir Hrsi kesa, Surya sattwam maha wiryam

 

                  OM      Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha

 

30.       NGASTAWA SANG HYANGTIGA GURU :

            OM      Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam

                        Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat pawitranam

 

            OM      Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam

                        Guru pantaram dewam, Guru-dewa suddha-atmakam

 

            OM      Brahma Wisnu Iswara Dewam,  Tri murti tri linggatmakam

                        Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa rogha winasaya

                        Sarwa wighna winasa nam.

 

            OM      Ang Ung Mang  Paduka Guru bhyo namah swaha.

      31. NGASTAWA BHATARA KAWITAN

                ( Pangastawan Ratu Pasek )

                        OM      Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca tirtham

                                    Sapta Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam

                        OM      Ang Gong Gnijaya namah swaha

                        OM      Ang Gnijaya jagat patya namah

                        OM      Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas ca,

                                    De Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.

                      OM         OM  Panca Rsi Sapta Rsi paduka Guru bhyo namah swaha.

     

 

32  NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA

 

OM      Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu

                                    Halungguh ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi

                        OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha, Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

OM       Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep, Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi

OM      OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.

 

 

      33  NGASTAWAN SANG HYANG KUMARA

OM      Namah Kumara sad-anana ya, Siki dwa jaya prati mayaloke

Sad-kreti kanandakara ya nityam, Namo”stu tasme dwajawara pujitam

 

OM      Rudra-atma kaya prati mayaloke, Bramanya dewaya siki dwaja ya

                        Senapratewa dahita ya nityam dewyam,  Namo”stu koncadala darana ya

 

OM      Namah sada-agni ya wiyaka ya, Namo”stu kajrambha kaya jaya nityam

                        Sasti-praya ya mala santriyatre, Namah sadakurkuta namo hana ya

 

OM      Ya namo”stu hanganila ya nityam, Namo”stu widya warada ya loke

                        Namo”stu rohika wapiya,  Huwah prakase warado namo”stu te.

            OM, Kumara dewa ya namah swaha.

 

      34  ATUR PIUNING SAHA SEHA

OM      Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang Guru Kamimitan, Hyang Ibu Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Ledang paduka bhatara tumudun pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, kairing antuk Dampati sanak putunnya, widyadara-widyadari, anglurahan agung-alit mwang kala sedahannya makabehan. Sira sang apiturun sang adi dumadi ri sira si Bajang Bayi, manusan nira handa sih  waranugrahan pukulun. Manusan nira handa anembah angadakaken yadnya nigang sasihan si bajang bayi, ri jeng paduka bhatara sinamian, pahenaka hyun paduka bhatara pada malingga ring rwaning kukus arum.

 

OM      Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa winasanam

                                    Prenamya aditya-siwartham, Bhukti-mukti wara pradam.

 

      35  NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:

p.      NGATURAN TOYA :

  ( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).

Wangsuh cokor/pada  : OM  Pang padya argha ya namah

Wangsuh tangan         : OM  Ang Argha dwaya namah

Toya kumur                 : OM  Jeng Jihwa suci nirmala ya namah

Toya araup                  : OM  Cang Camani ya namah

Asirat                          : OM  Ghrim ksama sampurna ya namah

 

q.      NGATURAN PASUCIAN :

OM      Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca

            Hyastu sarwa to dewa-dewanam,

            Hyastu dewa maha punyam ya namah swaha.

 

r.        NGATURAN PUSPA/SEKAR :

OM      Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca

            Puspantu sarwa to dewa-dewanam

            Puspantu dewa maha punyam ya namah swaha

 

s.       NGATURAN TIGASAN :

OM      Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca

            Tigastu sarwa to dewa-dewanam

            Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha

 

t.        NGATURAN TOYA :

OM      OM  Siwa-amretha ya namah

OM      OM  Sadasiwa-amretha ya namah

OM      OM  Paramasiwa-amretha ya namah

 

      36  MAPEKELING SAHA SEHA

OM      Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang GuruKamimitan, Hyang Ibu Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Pada kenak hyun paduka bhatara pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, manusan nira handa hangaturaken sarining banten nigang sasihan si bajang bayi. Ledang paduka bhatara pada amukti sari saturan manusan nira. Minawi ta kirang langkung saturan ipun den agung ampuranne manusan nira, alit kang sung hangaturaken agung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Padha kenak hyun paduka bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamukti sari saturan manusan paduka bhatara.

 

OM      Siddhir astu tadastu astu ya namah swaha.

 

 

37  NGANTEB SESAYUT :

                  OM      Sangkepaning pramananta, Negara sya muniwantam

                              Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

                  OM      Pujasya mantrasya, Tri-aksara maha kodratam

                                Brahmangga murcage yuktam, Siwangga mantra matmakam

 

                  OM      Panca bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet

                              Dewa samsthita yogante, Brahma Wisnu Maheswaram

 

                  OM      Atma sarira treptya paripurna ya namah.

                  OM      Bayu premana treptya paripurna yanamah.

 

 

      38  NGASTAWA SANG CATUR SANAK :

OM      Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra, sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan, makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir. Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.

 

       39 . NGASTAWA JEJANGANAN :

OM      Pukulung Kaki Hamong, Nini Hamong, Babu Banglong, Babu Abra, Babu Sinang, Babu Maranak, Babu Anjuroni, Babu Anungkurat, Babu Wisesa, Babu Dadukun sabhumi, Babu Gedobyah, Babu Surastri, Babu Suparni. Ingsun handasih kreta nugrahan-nira, handa hanjangani si bajang bayi.    Iki tadah sajin nira, liwet kacang satingkeb lawan jangan sangiyu. Minawi wenten kirang luput ipun, den agung ampurane manusan nira, enak ta kita pada amukti sari lawan sanak kira kabeh. Alit kang sung hangaturaken, agung kang sun haneda. Handa hangluwarana sakwehing si Bajang lara rogha, sanut sangkala, danda upadrawan ipun, balikakna wongen dena becik. Sampun sira mebengin, sampun sira hanyetut, sampun sira hanggites, balikan sira hamongan dena becik, sungana henaking amangan, enaka aturu, enaka hameng-hamengan. Katekana jejaka, warasa dirghayusa paripurna.

            OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

41. NGASTAWA PANGAMBIAN :

                   OM            Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian.

     

                        OM      Siddhirastu ya namah swaha.

 

      42. NGASTAWA SAMBUTAN

OM      Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut, tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.

OM      Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang

                                    Ang Ung Mang OM.

           

 

      43. NGANTEB BANTEN SOROHAN :

OM      Pukulung Sang Siwa Catur Mukha Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha, makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

      44. UPASAKSI  YADNYA

OM      Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng, Nini Panyeneng.

Kajenengana den nira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi, kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya nigang sasihan sira si Bajang Bayi.

Ledang paduka bhatara pada anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.

 

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

45. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA :

      OM      Parama Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah

                  Siwa sya pranato nityam, Candis ca ya namo”stute

 

      OM      Niwedhya Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram

                  Sarwa bhakti nala bhatyam, Sarwa karya prasiddhantam

 

      OM      Jayarti jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti

                  Siddhi sakala ma pnuyat, Parama Siwa ya labhatyam.

 

                  OM      Nama Siwa ya namah swaha

 

 

46. NGEMARGIANG SESARIK :

            Sesampun puput nganteb bebanten ne, raris margiang sesarik nyane ring Palinggihe sami.

 

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.

 

47. NGAYAB BEBANTEN (ngayab ke luhur).

                  OM      Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca

                              Bhuktyantu dewas ca, Bhuktyantu sarwa to dewam

 

                  OM      Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha

                              Saganah sapari warah, Sawarga sada siddhis ca

 

                  OM      Dewa bhoktya laksana ya namah

                  OM      Dewa treptyantu laksana ya namah

                  OM      Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha

 

48. NGAYABIN  PRAS :

                  OM      Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara

                              Purwa pras prasiddha rahayu.

      49. NGATURAN SEMBAH :

      Munggwing dudonan ngaturan sembah, mangdane manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan upakara lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli raris tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara, picayang ring sang rare. 

 

 

50. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :

Sesampun puput ngaturan sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.

           

 

. NATAB BANTEN SAMBUTAN :

     MANTRA :

OM      Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut, tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.

OM      Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang

                                    Ang Ung Mang OM.

 

51. NGEMARGIANG SESARIK LAN TATEBUS :

Sesampune puput natab banten sambutan nyane, raris wehing sesarik saha tatebus nyane. 

MANTRAN SESARIK :

            OM      Purna candra purna bayu, mangkana paripurnanya

Kadi langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.

                  OM      OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.

 

      WEHANA SESARIK :

                  Ring muka/rahi            : OM  Sri Sri yawe namah

                  Ring Bahu kanan        : OM  Anengenaken bagia phula kreti

                  Ring Bahu kiwa          : OM  Angiwakakna pancabaya lara rogha

                  Ring Punuk                 : OM  Angungkurana sot papahing wong

                  Ring Bahong               : OM  Angarepaken bagya phula kreti pasesangon

                  Ring Tangkah              : OM  Anganti-nganti sabdha rahayu

                  Ring Tangan kalih       : OM  Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga

 

      WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :

      MANTRAN TETEBUS :

                  OM      Kawelasana den nira sang adi-dumadi

                              Kawelasana den nira Sang ngawewehan, sang apiturun

                              Kawelasana den nira Bhatara mwang manusa,

                              Saking lor saking kidul, welas asih ring ipun sang mawoton

 

      PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring Siwadwara, ring Karna.

      MANTRA :

OM      Wehaning raga dirghayusa, langgenganing angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.

OM      Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

      53. NGAKSAMA :                         

Kaping untad dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara masineb.

MANTRAN PANYINEB :

            OM    OM  Atma-tattwatma suddha mam swaha.

            OM    OM  Ksama sampurna ya namah swaha

            OM      OM  Sarwa dewa somya ya namah swaha

        

 

PUPULANING PUJA-STAWA.

Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda

 

Aditya-stawa: Sebagai Puja-Lingga kepada Surya.

 

OM   Adityasya param jyotir, Rakta-teja namo’stu te,

            Sweta – pangkaja-madhyasta, Bhaskaraya namo’stu te.

 

Terjemahan:

            Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Surya,

 Ya kemegahan yang agung putra Aditi,

Ya Dikau dengan kilauan yang merah, sujud hamba kehadapan Mu.

Dikau yang berdiri di tengah sekuntum bunga teratai putih.

Sembah sujud hamba kehadpan Mu, penyebar kesemarakan.

 

Surya-Stawa: Eka-Cakra:

            OM   Aditya-garbha-pawana, Aditya dewa-raja twam,

                      Aditya twam gatir-asi, Aditya caksur ewa ca.

 

            OM   Adityo Jata-wedasa, Aditya janopa Suryah,

                      Surya-rasmir Hrsi-kesa, Surya-Sattwam maha-wiryam.

            OM   Hrang Hring Sah Paramasiwa-aditya ya namah swaha.

 

Terjemahan:

            Ya putra Aditi Yang men-sucikan benih-benih kehidupan,

            Putra Aditi, Dikau adalah Raja dari para Dewata.

             Putra Aditi, Dikau adalah tempat berlindung dan juga Matahari yang memberikan kehidupan.

 

             Ya Putra Aditi adalah Yang Mengetahui segala hal.

             Putra Aditi yang tiada lain adalah Sang Hyang Surya.

             Dikau memiliki sinar-Surya, Wahai Hrsi Kesa.

             Intisari, Sang Hyang Surya, pahlawan yang agung.

            

             Ya Tuhan dalam wujud MU sebagai Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa Yang Maha Utama hamba bersujud kehadapan MU.

 

 

Puja Banten Suci:

             OM    Agni-madhye Rawis caiwa, Rawi-madhye tu Candramah.

                        Candra-madhye bhawet Suklah, Sukla-madhye sthitah Siwah.

 

Terjemahan:

             Sang Hyang Surya berada di dalam api. Di dalam matahari ada Bulan.

             Di dalam Bulan ada Kesucian.Di dalam Kesucian hadir Sang Hyang Siwa.

 

Smara-Stawa: Ginelarken ring Pawiwahan.

            

             OM     Ananggah Kamina-patni, Puspeso mandini tatha,

                        Kamo Dana-wati-patni, madani Madanas tatha.

 

             OM    Mano-bhawah Sobhani ca, Sri-mati Makara-dhwajay,

                        Kandarpah Soma-watis ca, Sri-jayani ca Manmathah.

 

             OM    Kama-dewo Ratih-patni, Swetari Smara ewa ca,

                        Atanur Nandini-Patni, Manasi-jas ca Harini.

 

Terjemahan:

             Ya Tuhan, Dia Yang Tanpa Raga Istri-Nya adalah wanita cantik.

             Ratu bunga-bungan, dengan wanita dihias.

             Dewa Cinta- Istri-Nya adalah wanita Dermawan,

             Wanita yang Membangkitkan gairah suami-Nya,

            

             Dia yang dilahirkan oleh pikiran (dan Istri-Nya) Wanita nan rupawan,

             Dia Yang bendera-Nya adalah Lumba-lumba dan wanita yang mempesona.

             Kandarpa dan adalah Wanita dari Air kehidupan (sebagai Istri).

             Dia Yang Menggerakan pikiran-pikiran dan Wanita Jaya yang sangat agung.

 

             Dewa Cinta-Istri-Nya adalah Nafsu,

             Wanita putih rupawan yang gemar beramadhi.

             Dia Yang Tanpa Raga dan Istri-Nya Wanita yang Membahgiakan.

             Dia Yang dulahirkan oleh pikiran dan wanita (seperti) menjangan.

 

 

Brahma-Stawa:

             OM, Ang, Brahma namas catur-mukham, Brahma-agni rakta warnan ca.

                      Sphatika-warn-dewata, Sarwa-bhusana-raktanam.

                       

             OM  Danda-astra maha-tiksnam, Atma-raksa nabhi-sthana,

                     Adya-agni Surya-sphatika, Sarwa-satru-winasa nam,

                     Phat namah swaha.     

                                 

           OM  Ang Brahma-dewa y namh swaha.

 

 

Terjemahan:

                                 

           Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Dewa Brahma yang memiliki wijaksara ANG,

            Sembah hamba kehadapn Dewa Brahma Yang memiliki empat buah wajah.

            Brahma yang tiada lain adalah Agni, yang berwarna merah menyala.

            Dewata yang memiliki warna dan sinar bagaikan kristal.

            Yang hiasan-Nya semuanya berwarna merah.

            Yang senjata-Nya sangat sakti, yaitu Gada bertangkai penjang,

            Yang melindungi diri, yang hadir dan berada pada pusar,

            Api paling awal. Matahari dengan corak-warna kristal.

            Penghancur semua musuh.

           

 Ya Tuha dalam wujud Mu sebagi Dewa Brahma hamba bersujud kepada MU.

                                 

 

 

 

Mahadewa-Stwa: Anggen ring pura Panataran.

 

             OM     Dewa-dewa Mahadewa, Catur-bhuja Rudra-atmaka,

                        Pita-warna Mahadewa, Meru-kancana-bhaswaram.

 

             OM    Pascima pratistha lingam, Ratna-tejo pita-warnam.

                        Surya-prabham maha-wiryam, Sarwa-dewati-dewanam.

 

             OM    Sapta-dware Mahadewam, Sapta OM-kara-murtinam,

                        Bhusanam sarwa-dewanam, Ratna-kancana-pradiptam.

 

             OM   OM  Mahadewa ya nama swha.

 

 

Terjemahan:

             Ya Dewa dari para Dewa, Yang Maha Agung, Dia yang bertangan empat yang Diri-Nya adalah Rudra,

             Dikau adalah berwarna kuning, Mahadewa.

             Yang termashur bagaikan emas di atas Gunung Meru.

 

             Tempat tinggal Mu ada di Barat dan juga Lingga MU.

             Dikau memiliki permata yang berkilauan yang berwarna kuning,

             Dikau memiliki pancaran bagaikan Matahri yang gagah berani.

             Dikau adalh seorang Dewa yang lebih tinggi dari semua para Dewa.

 

             Mahadewa adalah penguasa tujuh pintu gerbang.

             Dan juga adalah pewujudan dari tujuh suku kata OM yang menyatu(gaib).

             Bhusana dan perhiasan semua par Dewata.

             Yang bersinar bagikan permata emas.

            

             Ya Tuhan dalam wujud MU sebagi Dewa Mahadewa hamba bersujud kehadapan Mu.

 

 

 

Durga-Stawa: Anggen ngstwa ring Pura Dalem:

 

             OM     Giri-putri Dewa-dewi, Lokasray Maha-dewi,

                        Uma Gangga Saraswati, Gayatri Waisnawi dewi.

 

             OM     Catur-diwya maha-sakti, Catur-asrame Bhatari,

                        Siwa-jagat-pati-dewi, Durga ma-sarira-dewi.

 

             OM     Sarwa-jagat pranamyanam, Jagat-wighna-wimurcanam,

                        Durga bahu-cara-moksanam, Sarwa duhka-wimokanam.

 

             OM     Anugraha-amretha-bhumi, Wighna-dosa-winasanam,

                        Sarwa-papa-winasanam, Sarwa pataka-nasanam.

 

             OM     Dewa-dewi maha-jnyanam, Suddha-wighna-bhwaneswari,

                        Sarwa-jagat-pratisthanam, Sarwa-dewa-anugrahakam.

 

Terjemahan:        

             Ya Tuha dalam wujud MU sebagai Putri Dewi Pegunungan,Dewi para Dewa,

             Dewi penopang Dunia-dunia itu, Dewi yang Agung.

             Dia adalah Dewi Uma, Dewi Gangga,dan Dewi Saraswati,

             Dewi Gayatri dan istri Dewa Wisnu, sang Dewi.

 

             Yang suci yang berada di empat tempat (asrama),

             Yang memiliki kekuatn yang hama dasyat,

Ratu/Dewi  di dalam empat tingkatan kehidupan,

Istri Sang Hyang Siwa Ratunya dunia,

Dewi yang memiliki wujud sebagai Bhatari Durga.

 

Dia disembah oleh seluruh dunia,

Menghilangkan semua rintangan di dunia,

Bhatari Durga, Yang menghasilakan keselamatan dari para Bhuta yang akan mengganggu.

Yang menghancurkan segala kejahatan, dosa dan kesengsaraan.

 

Ya Dewi para Dewa, yang memiliki kebijaksanaan agung,

Ratu- Dewinya Dunia, Yang menghancurkan rintangan-rintangan, penolong bagi seluruh Dunia,

Yang menggabungkan di dalam Diri-Nya, keagungan semua para Dewa.

 

 

Iswara-Stawa : Anggen ngastawa ring Pura Bale Agung.

 

            OM     Mang Iswara panca-mukhanam, Tri-nayana dasa-bhuja,

                        Sweta-warna sphatikantah, Sarwa-bhusan-swetanam.

 

            OM     Wajra-astra maha-tiksnam, Atma-raksa kanta-mulyam,

                        Iswara-prakrti-dewam, Sarwa-satru-winasanam,Phat swaha.

 

 

Terjemahan:

Ya Tuhan dalam wujud MU sebagi Dewa Iswara, yang memiliki lima buah wajah, tiga buah mata dan sepuluh lengan.

Dia berwarna putih dengan kilauan kristal (warna bening),

Dengan semua perhiasan-Nya berwarna putih.

 

Yang senjata-Nya, Petir / Halilintar yang sangat tajam,

Perlindungan atas Atma (jiwa) bersthana di Kerongkongan,

Sang Hyang Iswara adalah Dewata yang Utama,

Yang menghancurkan semua musuh-musuh,

 

 

 

Samudra-Stawa:

            OM      Namah Siwaya Sarwaya, Dewa-dewaya wai namah,

                        Rudraya Bhuwanesay, Siwa-Warunaya namah.

           

            OM      Sapta-mudram Siwam-garam, Jala-dhi tasik garayam,

                        Rudraya Bhuwanesaya, Waruna Siwa-sampurnam.

            OM  Hrang Hring Sah Sri-Samudra-Gurubhyo namah swaha.

 

Terjemahan:
Ya Tuhan hamba bersujud dalam wujud Mu sebagai Dewa Siwa, kepada Dewa Sarwa.

             Kepada Dewata para Dewa hamba bersujud,

             Kepada Dewa Rudra, Penguas Dunia,

             Hamba bersujud kepada Dewa Waruna yang tiada lain adalah Dewa Siwa.

 

             Dewa Siwa, Dewa laut, yang menguasai tujuh samudra,

             Dewa laut.tempat menyimpan air samudra,

             Kepada Dewa Rudra, Dewa penguasa Dunia,

             Dewa Waruna, Penjelmaan Dewa Siwa Yang sempurna..

             OM Hrang Hring Sah, hamba bersujud kepada Sri Guru di Samudra yang patut di muiakan.

 

Wisnu-Stawa:

             OM     Ung Namo Wisnu tri-mukhanam, Tri-nayanm catur-bhujam,

                        Kresna-warnam sphatikantam, Sarwa-bhusana-nilanam.

 

             OM     Cakra-astra maha-tiksnam, Atma-raksa-ampru-sthanam,

                         Amrtham-jiwano dewah, Sarwa-satru-winasanam, Phat Namah swaha.

Terjemahan:

                         Ya Tuhan sembah sujud hamba kepada Dewa Wisnu dalam wijaksara Ung, Yang mempunyai tiga wajah, tiga mata dan empat lengan.

                         Yang berwarna hitam, dengan kulauan bening bagaikan kristal.

                         Yang diperlengkapi dengan hiasan semuanya berwarna hitam.

 

                         Senjata-Nya cakra yang teramat tajam,

                         Dia melindungi jiwa-atma, yang bersthana di dalam hati / ampru.

                         Sang Dewata Yang memberikan hidup dengan air kehidupan-Nya.

 

Wisnu-Stawa: Anggen rikala ring Pura Puseh:

 

                         OM    Pranamya sirase Wisnum, Tri-loke Brahma Sawitri,

                                    Iswara loka-pawitram, Bhayam-nasti kadacanam.

                        

                         OM    Kuwera priti-danas ca, Karni ksatriya purusa,

                                    Sambhu mulya ta suksma, Ripu bhasmi durwinasa.

 

                         OM    Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para-lingga tri-sudewa

                                    Bhasmi-bhuta dur-winasa, Krta-roga dur-winasa.

 

                         OM    Rudro tri-nayano dewo, Bhayam asti ka-pawitram.

                                    Bhaya-klesa,winasaya, Bhasmi-klesa tri-kayakah.

 

                         OM    Siwo Rudro Tri-nayanah, Suksma Surya amrtani,

                                    Siwas Candram maha-punyam, Jayam satru-winasanam.

 

                         OM    Ang Amrtaya namah.

                         OM    Suddha namah Siwaya.

                         OM    Sarwa-amrtha-aditaya namah.

                         OM    Siwa-linggaya purusa namah Siwaya.

                         OM    Ardha-nareswarebhyo namah.

                         OM    Salila-sarwa-atmane ya namah Siwaya.

 

Terjemahan:

                Ya Tuhan hamba bersujud  kepada Mu, dalam wujud Mu sebagai Dewa Wisnu.

                Di ketiga Dunia, Dewa Brahma dan Dewi Sawitri,

                Dan Dewa Iswara pensuci Dunia.

                Terdapat bahaya dari mana-mana.

 

                Dan Dewa Kuwera Yang memberkahi kesejateraan.

                Terwujud dalam si manusia kesatriya.

                Dewa Sambhu, Dia yang mulia, Dia yang halus.

                Yang menghancurkan kejahatan dan para musuh sampai tak berdaya.

 

              Dewa Sangkara, Dewi Sri yang suci, Dewa Lingga yang tertinggi,

                adalah Dewa agung di tiga dunia.

                Menghancurkan para bhuta sampai tak berdaya.

                Menghancurkan pembuat keonaran sampai tak berdaya.

 

                Dewa Rudra,Dewata dengan tiga buah mata.

                Bahaya telah disucikan / dibersihakan jauh-jauh.

                Bahaya, kehancuran dan penderitaan disirnakan.

                Menghancurkan penderitaan di tiga dunia.

 

                Dewa Siwa, Dewa Rudra, Dia yang memiliki tiga mata.

                Ajaib, Dewa Matahari, Air kehidupan.

                Dewa Siwa, Bulan, kebaikan yang agung.

                Kemenangan dan kehancuran atas para musuh.

 

                OM Ang Sembah kepada Air kehidupan.

                OM Sembah sujud kepada Dewa Siwa  penganugrah kesucian.

                OM  Sembah sujud kepada Semua Amrtha dan Matahari.

                OM  Sembah sujud kepada Lingga Sang Hyang Siwa.

                OM  Sembah sujud kepada Dewa-Dewi yang agung.

                OM Sembah sujud kepada Dewa Siwa, Yang Diri-Nya adalah air kehidupan.

 

 

KUWERA-STAWA ( Rikala Piodalan Bhatara Sadhana).

                        

OM       Brahma Wisnu Iswara Rudra, Rudra-dewaya wai namah,

             Wisnu Sangkara Bhu-pati, Dewa-diwyaya wai namah.

 

OM       Karam Sada-Siwam-dewam, Jagatam sarwa-pujanam,

             Upayam sadhanam smrtham, Suci-dewa sri-sadhanam.

 

OM       Kawatam-anugraham-smrtham, Kanyawati Siwa-rupam,

             Dandopadrawa-sampurnam, Krta-bhawanam sada-smrtham.

 

Terjemahan: 

            Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Brahma,Wisnu,Iswara dan Rudra,

            Sembah sujudku kepada Rudra Dewa yang mengerikan.

            Dewa Wisnu dan Dewa Sangkara Ratunya jagat raya.

            Semah sujud kehadapan para Dewata Yang Suci.

 

            OM-kara adalah wijaksara Sadasiwa.

            Dia disembah oleh seluruh Dunia.

            Dia dikenal sebagi jalan menuju cita-cita.

            Dewata Yang Suci, Dewa kesejahteraan.

 

            Dia dikenal sebagai penganugrah yang sangat ramah,

            Wanita Yang amat cantik,penitisan kembali dari Siwa.

 Hukuman serta malapetak semuanya ditebus.

Dia dikenal selalu memberikan kesuburan di bhumi.

 

 

SAMUDRA-STAWA, (Bharuna-stawa, Apah-Stawa ).

Anggen rikala ring Pelastian.

           

            OM     Gangga-puruso wiryanam, Brahma-mandala Waisnawam,

                        Gangga ratnakara-dewi, Brahma-murti tri-bhuwanam.

 

            OM     Jala-nidhi murti-lokam, Bhumi-matsya maha-ghoram,

                        Bharuna-dewan ca dewanam, Lembu-Haro Hari-murti.

 

            OM     Nagendra krura-rupan ca, Bharuna-dewa ma-sariram,

                        Sarwa-jagat pratisthanam, Sarwa-marana sapurnam.

 

            OM     Jala-nidhi maha-sakti, Sarwa-siddhi Siwa-tirtha,

                        Siwa-amrtha manggalan ca, Sri-Dewi jagat-pawitram.

 

            OM     Namah Siwaya wai namah, Nama Wisnu-dwareswara,

                        Prabhu wibhuh maha-amrtham, Sarwa pataka sapurnam.

 

            OM     Jala-nidhi maha-sakti, Brahma,Wisnu Maheswaram,

                        Sarwa Jagat sariranam, Ghora-wibhuh Giri-pati.

 

            OM     Indra-giri murti-lokam, Gangga-murti maha-wiryam,

                        Rudra-Kalãgni-prabhan ca, Sarwa, Marana,bhasmi-cittam.

 

Terjemahan:

            Dewata penguasa sungai Gangga,yang gagah berani.

            Yang memiliki kekuatan maha besar Dewa Brahma dan Wisnu.

            Dewanya Gangga lambing dari kesejahteraan.

            Sebagai manifestai dari Dewa Brahma penguasa ketiga dunia.

 

            Dia adalah sumber dari air, penguasa segala air di Dunia,

            Bersemayam di tempat ikan-ikan yang sangat mengerikan.

            Waruna adalah Dewanya para Dewa.

            Para Raksasa laut adalah penjelmaan dari Dewa Hari.

 

            Dia raja dari segala ular, yang memiliki wujud mengerikan.

            Penguasanya adalah Dewa Bharuna.

            Berada / bersthana di pusat / pusar dunia.

            Yang menghancurkan semua penyakit yang mengerikan.

 

            Dia adalah sumber air, yang akan membawa keberuntungan,

            Berwujud semua benda yang ada di alam, Dewa Maha Suci Siwa.

            Air suci keberuntungan dalam kehidupan yang direstui Dewa Siwa.

            Dewa yang patut di muliakan yang mensucikan dunia se isinya.

 

            Sembah sujud kepada Dewa Siwa.

            Sembah sujud kepada Dewa Wisnu,raja yang menjaga pintu kedamaian.

            Yang bertugas memberikan bimbingan seluas-luasnya,

            Wahai air kehidupan, Yang dapat menghancurkan semua penderitaan.

 

            Waduk penyimpanan air, yang bertenaga besar,

            Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Maheswara,

             Yang menguasai seluruh dunia ini sebagai tubuh-Nya,

            Sang Panguasa yang mengerikan, Ratunya pegunungan.

 

            Gunung-Nya Dewa Indra, yang dijelmakan di dunia,

            Penjelmaan Dewi Gangga, yang memiliki keberanian tiada tanding,

            Sang Hyang Rudra yang bersifat raksasa, yang berkobar dengan kekuatan apiNya,

            Yang menghancurkan semua wabah penyakit sampai menjadi abu.

 

            Ya Tuhan Dalam Wujud Mu sebagai Dewa Waruna, hamba bersujud kepada Mu.

 

 

Brahma-Stawa : Anggen mamuja ring Pura Desa.

            Om      Isanah sarwa widyanam, Iswar sarwa bhutanam

                        Brahmano-adhi-patir Brahma, Siwo astu Sada-siwa.

 

            Om      Sadyo-jatam prapadyami, Sadyo-jataya wai namah,

Bhawe-bhawe nadi-bhawe, Bhaja swa mam Bhawodbhawah.

 

Om     Bang Bama-dewaya namah, Om Jyesthaya namah.

Om     Rudraya namah, Om Kalaya namah, Om Kala-wikaranaya amah.

Om     Balaya namah, Om Bala-pramathanaya namah.

Om     Sarwa Bhuta-damanaya namah, Om Manonmanaya namah.

 

Om     Tat-purusaya widmahe, Maha-dewaya dhimahe,

            Namah Siwaya Rudraya, Tan no Rudrah pracodayat.

 

Om     Aghorebhyo-atha ghorebhyo, Ghora-ghorantarebhyas ca,

            Sarwatah sarwa-sarwebhyo, Mama rupebhyo namah swaha.

 

Terjemahan:

1. Ya Tuhan Ratu semua kebijaksanaan, Penguasa atas semua makhluk,Dia adalah Brahma, Yang menghanugrahakan kebhagiaan, Ya Sang HyangSiwa yangKekal.

2. Hamba memohon erlindungan kepada-Nya, sembah sujud hamba kepada Dewa Brahma sebagai pencipta, Dia Yang Ada, Yang ada-Nya tidak mengenal/mengetahui permulaan-memihak padaku. Ya Dikau Yangasal usul dari yang ada.

 

3. Sembah sujud kepada Sang Hyang Bamadewa, Dia Yang paling-tua, Sang Hyang Rudra, Kala, Penghancur Waktu, Kekuatan, Pengganggu, pengendali semua makhluk, Yang menghantarkan pikiran ke keagunan.

 

4. Kami bekerja keras untuk Tat-purusa, kami juga bersemadhi untuk Dewata Yang Agung, sembah sujud kepad Sang Hyang Siwa, Sang Hyang Rudra, semoga demikianlah Sang Hyang Rudra memberkahi kami.

 

5. Kepada Dia Yang Menentramkan, Yang juga mengagumkan, Yang lebih mengagumkan dari pada yang mengagumkan, Yang ada dalam semua rasa hormat sempurna, Ya Sarwa, sembah kepada semua ciptaan-Mu, Ya Sang Hyang Rudra.

 

 

PRAJAPATI-STAWA (panguluning Setra)

            OM      Praja-pati siro jneyah, wktran ca-pi pita mahah,

                        Mata mahas tu hrdaye, pita guhye tathaiwa ca.

 

            OM      Mata tisthet karagre ca, Swasa wama-kare sthita,

                        Putra daksina-pade ca, Wama-pade prpautrakah.

 

            OM      -karadyata-samruddham, Ang-karena widarsanam,

                        Tarpanam sarwa pujanam, prasiddhantu namah swaha.

 

 

SRI-STAWA:

            OM      Sri-dewi maha waktram, catur-warna catur-bhuja,

                        Prajna-wirya sara-jneyah, cinta-manir- uru-smrta.

 

            OM      Sri-dewi satatam murdhna, twan ca namami saktitah,

                        Daksina’stu maha-bhaktya, jnatum wara mama stutim.

 

            OM      Sri Sali-kanta –rupawa, snigdha-gatr catur-widha,

                        Dadasi me sada citram, saubhagyam loka-pujitam.

 

            OM      Sri Tanduli maha-dewi, Srimat-kamala-sobhita,

                        Dadasi me maha bhogam, Sarwa-drawya-hitam-labham.

 

            OM      Sri Wrihi-mukuta jiwa, twam sarwa-bhuwanam-dhari,

                        Dadasi me sukham nityam, Jiwitam dhatu-kancanam.

 

            OM      Sri Danya-rajni twam dewi, prajna-tanduli-samjnikah,

                        Mani-ratnasana-sthita, sarwa-ratna-gunanwita.

            OM      Sri Dhana-dewika ramya, sarwa-rupawati tatha,

                        Sarwa-jnana manis-caiwa, Sri Sri-dewi namo’stu te.

           

Pujan caru Jigramaya (Karang panes):

            Ih, Kita Sang Bhuta Jigramaya, marupa manca warna, kita retuning Bhuta Kala Dhengen, makanak I Pamali Pulung Raksa, I Undar-andir, ekadasa rowangan-ira, kita anggawe kapanjingan hyang lalah, kasandering gelap, katiben amuk, kalebon amuk, kasirating rah, salwiring cuntaka bhayaning pakarangan, kelebur kapunah den nira Sang Bhta Jigramangsa.

        Om, Ang,  Ksama Sampurna ya namah swaha.

 

Pujan Pamahayu Pakarangan.

Om, Indah ta kata Bhatari Durga, dening kita hanuduh I Bhuta mangsa, apan kita wus sinungan sajin nira.

Om, Indah ta kita hangken sapenangkan ta parn-parnnya, haywa ta kita hanglarani, hangrubheda manusan nira, iki tadah sajin nira, wus ta sira padha hanadhah saji, mundura ta sira maring pasenetan nira, kemitan manusan nira. Siddha amangguhang dirghayusa  paripurna.

Om, Siddhir astu ya namah.

 

Nihan Pujaning Ngruwak utawi Nyapuh.

Ih, Sang Bhuta kala Ngadeg, Sang Bhuta kala Bongol, Sang Bhuta Kala Pamatang, mwang ta kita Sang Sedhahan sawah/tegal, iki tadah sajin nira, daksina banjotan, sega ireng iwak bawang jahe, mangke hulun anyapuh ikang sawah /tegal, haywa sira mamiruddha.

 

Om, Nini Bhatari Sapuh Jagat, ingsun I Bandesa Wayah, I Kubayan Badung, I Pasak Pancung, ingsun wus kalugraha de Bhatara Siwa, mangenahaken sawah tegal palemahan iki, apan ingsun anaking Bhatara Guru, wus ingsun angasahang palemahan iki, wastu asah sinah,3x. Aja sira mangadakaken gring desthi pamala-pamali, iki tadah sajin nira sowing-sowang, poma, poma, poma.

 

Mantran nyapuh Pundukan utawi Baledan.

Om, Nini pamali wates, kaki pamali Wates, tan hana jurang pangkung, tan hana lemah angr, tan hana bebaledan, tan han tunggak wareng, tan hana lemah mandeg, aku Ibu Prethiwi anglebur ska lwiring hala. Om, Bhuta teka asih, Dewa teka purna Om, Sa, Ba, Ta, A, I.

 

Mantra makuh wewangunan.

Om, Ang, Ah, Dewa-dewi maworana ya namah.

 

Mantran Panyapsap wewangunan.

Sarana, payuk pere misi toya anyar, ambengan 11 katih.

 

Om, Bhagawan Brahma anyapuh halning wewangun, pring taru ginawe umah, suddha malanta manadi kayu pring. Om, Suddha mala, suddha papa, suddha, suddha wariastu swaha.

 

Mantran Angurip-urip wewangunan.

Om, Sa,Ba,Ta,A,I, na,Ma,Si,Wa,Ya, Wiswakarma prayojanam, Bhuwana kreta ya namah, hayu wreddhi ya namah.

 

Ngemargiang Pangurip-urip.

Om, Bhugawan Sukra angurip sarwa wewangunan, kayu pring ginawe umah, rah sata wana bayunta urip sang uga wangun, teka urip 3x.

 

Mantra Tirpa pamlaspas wewanguan.

 

Om Sang HyangParama Wisesa sura sakti, sira anguripaken sarwa tumuwuh, anguripaken wewangunan kabeh, purwwa, ghneyan,daksina, nairiti, pascima, wayabya, uttara, airsanya, sor luhur, sami padha kauripana den nira Sang Hyang parama Wisesa murti sakti, apupul dadi sawiji,matemahan Sang Hyang Hayu Narawati, asih, asung amretha jiwa na urip. Om, Sri bagya ya namah, Ang-Ah.

 

Mantran Pamlaspas Wewangunan.

Om, Pukulun ta sira Sang Hyang Surya Candra, manusan nira angaturaken saji tadah pawitra, lenga wangi buratwangi, kedik denpun hangaturaken, agung pamilakunya, sira Sang Hyang Besrawana sira uriping taru, sira jumeneng ring yasa, haywa ka ginggang, haywa ka gingsir, den tegteg pageh salawasnya.

 

Om, Pukulun Bhagawn Byasa sura sakti, hulun hangaturaken pamlaspas, makadi pawangun urip, taru pring ginawe umah, kajenengana den nira Sang Hyang Tri Purusa, kasaksenin den nira Sang Hyang Triyo dasa saksi, sampun hana kalaning kang padha urip gawenya. Om, Ang-Ah, Ang-Ah. Om, Phat-Phat namah swaha.

 

 

Ngayab banten Pamlaspas.

Om, Bhumi ginawe suddha, suddha bhumi, suddha taru, suddha pring, suddha Dewat, suddha papa rogha wighna kang sarwa winangun, mur hilang  haneng swarga, suddha, suddha wariasti ya namah swaha.

 

 

Mantran Lis.

             Om, Pukulun pangadeganing sang janur kuning, sira rininggiting Guru, turun utusan Hyang Dewa Bhatara, kalebataning sarwa Dewa, mangilangaken mala papa pataka, geleh aptileteh. Om, Siddhir astu nama Siwa ya.

 

Mantran Lis.

Om, Pukulun mangadeg sira sang Janur kuning, tumurun Dewa Siwa, angadegaken lis, busung rineka maringgit, winastu den nira Bhatara Siwa, makaron, sarwaning laluwes, maweh ratna komala winten, ma-wat mas, ya ta anggoning hulun angilangaken leteh letuh, kaparisuddha den nira Bhatara Siwa, wastu paripurnna ya namah.

 

 Puja maguru piduhka:

           OM   Sang Hyang Predhana Purusa, Sang Hyang Siwaguru, Sang Hyang Surya Candra manusan nira maguru piduhka, hangaturaken pamahayon, wus katanggapa den nira sang Sedhahan Bhagawan Panyarikan, henaka Bhagawad Citra Gopta Citra Goptri, manusa nira hanembah wat tangan karo, handa sinmpura, minawi wenten sabda cacampur, linyok, leps ucap-ucap, sawuh hatur, sampunta kari hangadakaken sasekerta, manusan nira handa tirtha amretha ring sarwa Dewata kabeh. OM  Siddhir astu ya namah swaha.

 

 

Puja Panyepuhan:

            OM Nama Siwaya, Pukulun Sang Hyang Siwanirmala, Sang Hyang Siwatirtha, Sang Hyang Surya Cadra Lintang Tranggana, makadi Sang Hyang Mahadewa, manusan nira hangaturaken panyepuhan mala wighna, papa – pataka, hana weh tirtha-amreth pamarisuddhaning sarwa kasaputan, karereban, kaletuhan walwyãkena paripurnna.

           OM  Siddhi astu ya namah swaha.

 

 

SARASWATI-STAWA:

            OM      Saraswati names tubhyam, warade kama-rupini,

Siddharambham karisyami, Siddhir bhawantu me sada.

 

            OM      Pranamya sarwa-dewas ca, parmatmanam ewa ca,

                        Rupa-siddhi-prayukta ya, Saraswati namamya-aham.

 

            OM      padma patra-wisalaksi, Padma-kesara warnini,

                        Nityam padmalaya dewi, Sa mam patu saraswati.

 

            OM      Brahma putrid maha-dewi, Brahmanya Brahm-nandini,

                        Saraswati samjnayani, Pranayan ya Saraswti.

 

            OM      Kawyam wykaranam tarkam, Weda-sastra-puranakam,

                        Kalpa-siddhini tantrani, Twat-prasadat samrabhet.

 

            OM      Saraswati-guru bhyo namah swaha.

 

 

PARIKRAMANING SEMBAH.

            Parikramaning sembah inggih punika ngeniang munggwing pepaletan rikala ngaturan sembah pangubhakti majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manut sakawentenan yadnya sane kalaksanayang, turmaning manut pituwas sang Yajmana karya. Malarapan antuk manah sane suci nirmala galang apadang nyaba jero. Turmaning parikraman ipun patut kategepin manut kadi dadudonan ipun.

 

1. ASUCI LAKSANA:

            Saderenge pacang lunga ka pura, pinih riyin patut nyuciang angga sarira ne, mangdane nenten kaselimutin antuk pikobet-pikobet ring sajroning pamargi ne pacang ke pura. Turmaning patut taler iraga matur piuning ring mrajan soang-soang sadurunge jaga memargi ke pura.

 

2. SEKAR / SARANA MUSPA:

            Ri kalaning jaga pacang ngaturan bhakti para semeton sinareng sami mangdane sampun sayaga ring kawentenan sarana sane jaga anggen muspa, minakadi sekar miwah kawangen. Riantukan sekar pinaka pralambang kasucianing pikahyunan, utsahayang mangdane nganggen sekar sane miyik/harum, dumugi prasiddha nudut kahyune siddha manguh  kasucian. Sampunang nganggen sekar larangan, sekar sane tan dados anggen muspa/aturan manut daging lontar “Anggatya” Purana lwirnyane:

a. Sekar sane uledan.

b. Sekar sane sampun aas utawi sane ulung tan kea lap.

c. Sekar sane sampun layu utawi mayang.

d. Sekar sane sampun surudan utawi layudan.

E Sekar sane mentik ring setra.

 

3.DHUPA / ASEP:

            Dhupa utawi Asep minakadi pralambang Ida Sang Hyang Agni, Ida pinaka dados saksinin Jagatte sami miwah pinaka saksinin Yadnya, semaliha Ida pinaka pangesengan papa klesa dasamala ne sami.

 

4. SASANA miwah LINGGIH:

            Rikalaning jaga ngeranjing ka jroan pura mangdane prasiddha memargi dadab, tat patut iraga jantos masuwug-suwugan, saling maluwin, yan maka dados mangdane dadab trepti, manut sekadi tatujon ne pacang tangkil ngaturan bhakti, malarapan antuk pikahyunan suci nirmala. Yan prade sampun polih genah malinggih, mangdane malinggih sane becik. Elah tur dangan, nenten saling timpahin, turmaning mangdane prasiddha mapadu arep ring palinggih genahe pacang muspa. Lwir paetangan ipun, sane istri mangdane masimpuh/matimpuh sane kewastanin Bajrãsana. Sane lanang mangdane masila pened, sane kewastanin Padmãsana utawi Sidãsana.

 

 

5. PARIKRAMANING SEMBAH:

            Munggwing parikramaning sembah dudonan nyane kemargiang manut kawentenan upacara utawi yadnya sane kelaksanayang. Indik dudonan Panca Sembah manut sekadi ring sor punki. Inggih punika;

 

a. Masila utawi matimpuh: OM Prasada sthiti sarira Siwa suci nirmala ya namah.

                ( Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Sang Hyang Siwa, hamba Mu telah duduk tenang, suci da tiada noda).

 

b. Mresihin tangan: Kanan/tengen; OM Suddha mam swaha.

                                Kiri /Kiwa     ; OM Ati suddha mam swaha.

                (Ya Tuhan bersihkanlah dan sucikanlah kedua tangan hamba).

 

c. Ngaturan Dhupa: OM  Ang  Dhupa dipãstra ya namah.

                (Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Brahma, hamba bersujud kepada MU, tajamkanlah nyala dhupa kami sehingga dapat menyucikan kami seperti sinar-Mu)

 

d. Ngaturan Tabuh: Om Ang Kang Kasol-kaya swasti-swati bhuta kala purasa predana bhoktya namah. 

e. Sekar/puspa: OM Puspa danta ya namah.

                ( Ya Tuhan semoga bunga ini suci dan cemerlang).

 

f. Sembah Puyung: OM Atma-Tattwãtma suddha mam swaha.

                (Ya Tuhan dalam wujud Atma atau Jiwa dan Kebenaran, bersihkan dan sucikanlah hamba Mu ini).

 

g. Muspa masarana antuk sekar, majeng ring Ida Sang Hyang Siwãdhitya

                        OM, Adityasya param jyotir, rakta tejo namo’stu te,

                                Sweta angkaja mandhyasta, Bhaskara ya namo’stu te.

                        OM Hrang Hring Sah Paramasiwãdhitya ya namah swaha.

 

                ( Ya Tuhan, Sinar Sang Hyang Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, kami memuja-Mu, Sang Hyang Surya yang bersthana di tengah-tengah teratai putih, kami memuja-Mu, yang menciptakan sinar matahari berkilauan).

 

h.  Muspa masarana antuk Kawangen, majeng ring Ida Bhatara utawi Istadewata sane kapuja utawi sane keaturan pujawali. Ring Mrajan utawi ring Pura kahyangan Tiga lan sane siyosan ring dija iraga ngaturan sembah, iriki puja pangastawane matiyos-tiyoas manut Istadewata sane kapuja. Yan Ring Padmasana:

                        OM  Nama-Dewa-adhisthana ya, Sarwa wyapi wai Siwa ya,

                                 Padmasana eka pratistha, Ardhanareswari ya namo namah.

 

            ( Ya Tuhan, Istadewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Sang Hyang Siwa, yang berada di mana-mana, kepada Istadewata yang bersemayam pada bunga teratai, kepada Ardhanareswari hamba memuja-Mu).

 

     Muspa maserana antuk Kawangen utawi Sekar, majeng ring Ida Bhatara Samodaya nunas Waranugraha:

 

                        OM    Anugraha manoharam, Dewa-datta nugrahakam,

                                    Arcanam sarwa pujanam, namah sarwãnugrhakam.

 

                                    Dewa-dewi maha-siddhyam, Jñanan ca nirmalãtmakam.

                                     Laksmi-siddhisca dhirgayuh, nirwighna sukha-rweddhis ca.

 

                ( Ya Tuhan, Pemberi anugrah, anugrah Dewata, pujaan dari segala pujaan, kami memuja-Mu, sebagai pemberi anugrah, kemaha siddhian, keberhasilan, karena anugrah-Mu.

                Para Dewata dan Dewi berwujud yadnya pribadi suci, Yang menganugrahkan kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rokhani dan jasmani ).

 

j. Sembah Puyung:      OM Dewa-Suksma Paramacintya ya namah swaha.

                                    OM   Santhi    Santhi    Santhi    OM

 

                ( Ya Tuhan, kami memuja-MU Dewata yang tidak terpikirkan, Maha Tinggi dan  Maha Gaib. Ya Tuhan,anugrahkanlah kepada kami semua ciptaan-Mu kedamaian, damai, damai, damai selalu.

 

 

Muspa ring Sang Hyang Tiga Guru:

                OM  Guru Brahma Gurur Wisnu, Gurur Dewa Maheswarah,

                        Gurur saksat Param Brahma, Tasmai Sri Gurawe namah.

 

                ( Ya Tuhan, Engkau berwujud sebagai Tri Murti Guru, Brahma, Wisnu dan Maheswara, Engkau adalah Guru tertinggi, dan pengasa agung, Tuhan adalah Guru sejati, kepada-Mu hamba menyembah).

 

Muspa ring Sang Hyang Saraswati:

            OM     Saraswati namas tubhyam, warade kama rupini,

                        Siddharambham karisyami, Siddhir bhawantu me sada.

            OM     Pranamya sarwa Dewan ca, Paramãtmanam ewa ca

                        Rupa-siddhi prayuktaya, saraswati namamy-aham.

 

                ( OM, Saraswati , sembah sujud hamba tujukan kepada-Mu, pemberi berkah, terwujud dalam bentuk sesuai dengan yang diingini, hamba berkehendak melakukan kegiatan, semoga selalu sukses dalam usaha kami.

 

                Om, Hamba bersujud kepada semua Dewata dan Paramatma, hamba sujud kepada Sang Hyaang Saraswati, yang indah dan berhasil segala kehendak-Nya.

 

Muspa ring Pura Dalem:

                Om  Catur-Dewi Mahadewi, Catur-asrama Bhatari,

                        Siwa-jagat-pati Dewi, Om Catur Dewi dipataye namah.

                ( Ya Tuhan, Sakti-Mu, dipuja oleh catur-asram, Sakti dari Sang Hyang Siwa, Raja semesta alam, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Durga, Ya Tuhan, hamba memuja-Mu, anugrahilah sinar suci-Mu.

 

 TIRTHA PUKULUH/tirtha Ida Bhatara:  Kawentenan Tirtha Pukuluh utawi tirthan Wangsuh pada Ida Bhatara, tirtha sane katuwur saking Ida Bhatara majalaran antuk nunas ica ngeredana majeng ring Ida Bhatar. Rikala nibakang tirtha wangsuh pada Ida Bhatara majeng ring para pamedek sinamian, nenten patut malih kadulurin antuk puja utawi seha. Riantukan tirtha punika sampun kapuput olei Ida Bhatara.

 

Patetibak nyane inggih punika:

Masirat ping tiga, tatuwek nyane mangdane pikahyunan setata sucinirmala.

Minum ping tiga, tatuwek nyane nyuciang ring kawentenan bebawosane.

Maraup ping tiga, tatuwek nyane nyuciang ringkawentenan parilaksanane.

Masirat malih apisan, tatuwek nyane tatuwe nyane nunas pamasuddhaning Atma miwah angga sarira dumugi setata sucinirmala.

 

BIJA, Bija/Wija, beras, galih medagingtoya cendana, beras nyane sane keanggen wija mangdane berase sane becik/mabulihan. Bija/wija maka pralambang/nyasa bibit kasucian sane mawit saking pasuecan Ida Bhatara, pangaptine dumadak ja bibit/wija sane katuwur ring Ida Bhatara prasiddha ngentikang kasucian ring sajroning angga sarirane miwah ring bayu, sabda miwah idep.

 

Tatibak Bija:

Ring Siwadwara, Maka pralambang/nyasa linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dumugi Ida ledang setata nuntun ring sajroning kauripane.

Ring selaning Lelata, Maka nyasa/pralambang mangdane pikahyunane setata suci nirmala.

Ring Dada, Maka pralambang/nyasa, mangdane parilaksanane setata siddha mangguh karahayuan, prasiddha dados tatuladan ring jagate, ngardi kasutreptyaning manah sang mangaksi.

Maheled, Mangdane prasiddha sekancaning bebawosane setata becik tur ngardi kerahajengan.

Inggih amunika prasiddha prasiddha antuk tityang mipil ring kawentenan buku indik Sukrttaning ning Pamangku miwah Agem-ageman Kapamangkuan, janten sampun makweh pisan kakirangan-kakirangan nyane ring sajroning daging buku puniki.  kakirangan-kakirangan nyane, dumugi prasiddha dados jangkep, manut pangaptin iraga umat Hindu sinareng sami. Maka panguntad hatur tityang tan lali nunas geng rena sinampura majeng ring para umat Hindu sinareng sami, ring kawentenanan tityange nenten lempas ring sane kewastaning Citta miwah Klesa. Dumadak ja buku puniki wenten pinkenoh nyane, majeng ring para Pamangku anggen nyalarang ring sajroning nitenin pamargin Sang Hyang agama.

Suksma.

OM     Santhi      Santhi      Santhi       OM.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda

 


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »