Olih:
Ida Pandita Mpu Jaya Acharyãnanda
(Dr.Drs. Wayan Miartha, M.Ag)
A. PENGANTAR
Kehadiran
Pamangku merupakan suatu kebutuhan bagi umat Hindu di
manapun ia berada. Kapasitas dan fungsinya menjadi sangat penting atau
vital seperti halnya kehadiran
Pandita. Keberadaan dan perannya sangat
dibutuhkan tatkala umat Hindu
melaksanakan kehidupan keberagamaan dalam dimensi sosial atau
keberagamaan dalam aspek komunal. Dalam tindakan ritual yang bersifat
vertikal,ia hadir sebagai media perantara
bagi umat untuk berkomunikasi dengan Hyang Widhi dengan kata lain sebagai Imam Upacara atau Manggala Upacara. Kemudian dalam aspek sosial horisontal perannya
diharapkan dapat menjadi panutan dapat memberi teladan serta contoh yang baik
bagi masyarakat sekitarnya, bahkan jika mungkin harus dapat menuntun dan
membina warga masyarakat untuk dapat melakoni kehidupan dan mencapai kemuliaan
sekaligus pembebasan sesuai dengan petunjuk sastra agama.
Sama halnya dengan Pandita, untuk
menjadi Pamangku yang idial tidaklah mudah, ia merupakan ikon dari realitas
yang suci, yang hidupnya selalu melaksanakan urusan dengan mengikuti pola-pola
yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Semua prilakunya dikontrol oleh otoritas yang
sacral, artinya struktur dan kontruksi dari Pamangku dibangun di atas fondasi
yang sacral/kesucian. Hanya dengan cara demikian keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya akan
dicapai.
Seorang Pamangku sebagai media
perantara sekaligus tangga penghubung ataupun poros dunia (axis mundi) merupakan “simbol
kenaikan dan menurunkan” yang
vertical, yang menghubungkan Hyang Widhi dengan umat Hindu, yang sacral dengan
yang profan, dan sekaligus sebagai “simbol
perjumpaan” untuk menyatu dengan Tuhan.
Untuk itu sosok
Pamangku merupakan sebuah cosmos atau
hierofani yakni pusat keteraturan dimana Tuhan merealisasi dan sekaligus
sebagai teofani atau manusia dewa.
B. KONSEP.
Secara
etimologi, kata Pamangku berasal dari bahasa Jawa Kuna dari kata “Pangku”,
yang artinya menyangga atau menopang. Kata menyangga atau menopang rupanya
parallel dengan arti kata dharma dari
kata “dhr” menjadi “dhara” “yang artinya juga menyangga. Kata pangku ini mendapat awalan ‘pa”
mengalami nasalisasi menjadi Pamangku dalam lidah
Menurut Lontar Widhisastra kata
Pamangku, diuraikan menjadi “ PA”
bermakna “Pastika pasti” yang artinya paham akan hakekat kesucian diri. “MANG” bermakna “Wruh ring tata-titining Agama”
artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran agama. “MANG” juga merupakan aksara suci untuk “Iswara” atau Siwa. Menurut
pustaka Purgamasasana, Dewa Iswara merupakan Guru Niskala bagi warga desa pakraman, Baliau Sang Hyang Iswara juga
dijuluki Sang Hyang Ramadesa. “KU”
bermakna “kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan
kepada aturan-aturan kebenaran yang berasal dari Tuhan atau Hyang Widhi Wasa
Kemudian Lontar Sukretaning Pamangku, menguraikan bahwa, Pamangku adalah
perwujudan I Rare Angon, yakni manifes personal dari Dewa Siwa dalam
fungsinya sebagai Dewa Gembala, seperti dinyatakan sebagai berikut;
“Iki sukretaning Pamangku ring kahyangan,
wenang tegesing Pamangku kawruhakna kang mawak Pamangku ring sariranta, I Rare
Angon mawak Pamangku ring sariranta.”
Terjemahannya
Ini tata
tertib tentang Pamangku di suatu pura, yang dimaksud dengan Pamangku untuk
diketahui, yang berwujud Pamangku dalam dirimu, sesungguhnya I Rare Angonlah
yang berwujud Pamangku dalam dirimu.
Sesuai dengan ketetapan Maha Sabha II Parisada Hindu
Dharma tanggal 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan Pamangku adalah mereka
yang telah melaksanakan upacara yajna Pawintenan
sampai dengan adiksa widhi tanpa ditapak dan amari aran. Dengan demikian
pamangku adalah rohaniawan yang statusnya masih tergolong ekajati. Selain itu rohaniawan yang masih berstatus
ekajati adalah Wasi, Mangku Balian, Mangku Dalang, Pengemban, Dharma Acarya,. Beliau-beliau
ini tidak memiliki ikatan dengan suatu tempat suci tertentu. Oleh karena itu
rohaniawan ini dalam melaksanakan tugasnya lebih bersifat umum, seperti;
menyelesaikan upacara perkawinan, upacara manusa yadnya lainnya, upacara
kematian. Semua rohaniawan yang tergolong ekajati ini diberi sebutan Pinandita, yang artinya dipanditakan atau wakil dari Pandita.
C.
PROSEDUR MENJADI PAMANGKU
Eksistensi seorang Pamangku
sangat ditentukan oleh suatu kebutuhan atau tuntutan. Apakah itu kebutuhan
pribadi, kelompok maupun umum. Untuk kebutuhan pribadi seseorang menjadi
Pamangku tidak didasarkan pada pemilihan public, melainkan atas dasar kesadaran
pribadi yang bersangkutan untuk menjadi Pamangku. Kesadaran pribadi sering
dilatar belakangi oleh sakit yang mendahului karena dipilih oleh kekuatan niskala walaupun yang bersangkutan tidak
ngemong suatu pura.
Untuk memenuhi
kebutuhan kelompok atau umum prosedur pemilihannya atau pengangkatannya dapat
mengikuti beberapa cara.
1.
Pemilihan Pamangku secara langsung dan demokratis
berdasarkan penunjukkan atas dasar suara terbanyak dari suatu komunitas
tertentu yang membutuhkan adanya Pamangku tersebut. Cara inipun harus pula
memenuhi berbagai persyaratan di atas. Terlebih dahulu tenttu ditetapkan
beberapa calon yang telah memenuhi persyaratan. Kemudian calon dipilih secara
demokratis dalam suatau paruman. Calon yang memperoleh suara terbanyak itulah
yang ditetapkan menjadi Pamangku.
2.
Pemilihan Pamangku berdasarkan keturunan. Pemilihan
model ini tidak banyak mengalami hambatan, mengingat para keturunan dari
Pamangku itu telah menyadari sebelumnya pada waktunya nanti akan melanjutkan
pengabdian leluhurnya/orang tuanya untuk ngayah sebagai Pamangku. Walaupun
pemilihan ini tinggal menunjuk saja dari keturunan seorang Pamangku oleh
masyarakat, namundemikian siapa yang ditunjuk tidak boleh tergolong ke dalam cedaangga atau cacat fisik maupun cacat
moralitas dan kepribadiannya.
3.
Pemilihan Pamangku dengan cara nyanjan, yakni dengan
menggunakan mediator seorang Mangku Lancuban atau Balian Katakson. Prosesinya
diawali dengan matur piuning di Pura
dimana Pamangku tersebut akan melaksanakan tugasnya. Kemudian mediator tersebut
akan kerauhan, jika tidak ada
hambatan, maka mediator tersebut akan menyebut nama seseorang yang dipilih untuk jadi Pamangku.
Pemilihan dengan cara ini bisa diulang bilamana dipandang kurang tepat dan
tidak sesuai dengan harapan.
4.
Pemilihan dengan membagikan lekesan, cara seperti ini
lebih mendekati seperti undian yang dilakukan secara tradisional. Lekesan yang akan
dibagi atau diundi terlebih dahulu dipermaklumkan melalui penyucian kepada
Hyang Widhi yang berstana di pura yang memerlukan Pamangku. Dari sekian banyak
lekesan tersebut ada satu yang diberi kode berbeda di dalamnya. Setelah
dibagikan bagi yang memperoleh kode
berbeda di dalamnya ialah terpilih menjadi Pamangku.
Setelah
calon Pamangku ditetapkan
maka dilanjutkan dengan pengukuhan melalui upacara pawintenan Pamangku. Yakni upacara ritual penyucian diri secara
lahir dan batin bagi seseorang untuk
memasuki swadharmanya sebagai pamangku atau Pinandita, dan memiliki
konsenkwensi kewenangan untuk memimpin pelaksanaan upacara. Mengenai upacara
pawintenan ini dinyatakan dalam lontar Tattwa Sivapurana sebagai beriikut
“Iti tingkahing krama desa, banjar, dadya
ngadegang pamangku, mangda maupakara rumuhun patut tingkahing pangupakaraning
pamangku. Apang tetep parikramanya mawinten, pawintenannya marajah Ghana,
kajaya-jaya olih pandita Buddha yadyapin Siwa…”
Terjemahannya.
Ini
tatacara masyarakat desa, banjar, pura keluarga mengangkat pamangku, supaya
diupacarai terlebih dahulu sesuai dengan upacara pengangkatan pamangku, agar
lengkap upacara pawintenannya. Pawintenannya digambar
Walaupun
secara institusi formal seorang Pamangku tidak memasuki silakramaning aguron-guron, namun
agar tidak terjadi pelanggaran dalam melaksanakan tugas sebaiknya
seorang Pamangku mengangkat Guru Pembimbing dalam hal ini siapa yang
menyelesaikan upacara pawintenan tersebut, seperti yang dinyatakan dalam lontar
Purwagamasasana sebagai berikut.
“Iki ling ing Purwwa-Gama-Sesana;
Yan hana wwang kengin kumewruha ri kahananing Sanghyag aji Aksara, yogya
ngupadhyaya awak sariranta ruhun, lamakana tan keharananing letuh, lamakana
weruh rijatining manusa, wenang sira mawinten rumuhun mwang katapak denira Sang
Guru Nabe, apan sira Sang Guru Nabe bipraya angupadhyaya nuntun sang sisya
kayeng kawekas, mawastu mjiil sakeng aksara ngaranya.
Yan hana wwang kumewruha
rikahananing sanghyang aji-aksara, tan pangupadyaya / maupacara mwah tan
katapak, tan paguru, papa ikang wwang yan mangkana, babinjat wwang mangkana
ngaranya, apan mijilnya tan paguru, kweh prabhedanya, idepnya dawak, yan
benjangan padhem wwang mangkna, atmanya manados entiping kawah candra ghomukha.
Yan manresti malih matemahan tiryak yoni, amangguhaken kasangsaran.
Malih hana piteketku ri kita kabeh, sang mahyun kumawruha
ring kahananing Aji-aksara mwang kapemangkuan, yan hana wwang durung Dwijati/
abhodgala, tan kawenang wehana gumelaraken Sodasa-Mudra, kopadrawa sira denira
Sang Hyang Asta-dewata. Kewala ikang amusthi juga kawenangan wehana ri wwang
durung Adhiksa Dwijati, ri sang harep anembah Dewa, amreyogakna Sang Hyang ri
daleming sarira. Mangkana piteket-Ku ri wwang kabeh, haywa marlupa, hila-hila
dahat.
Terjemahannya.
Ini ucapan sastra
Adhi Purwwagama sasana;”Jika ada seseorang bermaksud mengetahui segala
keberadaan ilmu pengetahuan kesucian, sebaiknya terlebih dahulu bergurulah
kamu, agar tidak disebut cemar, agar tahu hakikat sebagai manusia, wajib kamu
melaksanakan pawintenan, serta mendapat pengesahan/pembaptisan oleh Guru
Rohani, karena Guru Rohanilah yang akan memberi pelajaran serta menuntun siswa
rohani samapai di kemudian hari, yang menyebabkan dirimu lahir dalam dunia
spiritual.
Jika ada seseorang
bermaksud mengetahui segala keberadaan ilmu pengetahuan kesucian, namun tidak
berguru, tanpa upacara pengesahan tanpa dibaptis serta tanpa pembimbing
spiritual, ternodalah orang yang demikian itu, ibarat anak jadahlah orang yang
demikian itu, karena lahir tanpa bimbingan guru rohani tanpa upacara penyucian,
banyak cacatnya orang yang demikian itu, pikiran pendek, prilakunya tidak
terpuji tak ubahnya seperti binatang termasuk kecerdasannya. Saat kematiannya
nanti roh orang yang demikian itu akan disiksa oleh algojo naraka menjadi kerak
kawah naraka, jika menjelma dikemudian menjadilah ia binatang rendahan serta senantiasa menemui penderitaan.
Sekarang ada
nasihat-Ku lagi kepadamu jika ada seseorang belum dibaptis menjadi Pandita,
jangan diberikan memperagakan Sodasa Mudra, akan kena kutuk mereka oleh
Sanghyang Astadewata, hanya dengan mamusti saja hakmu bagi yang belum menjadi
Pandita pada saat kamu hendak memuja Tuhan, dan menyatukan Nya dalam dirimu.
Demikian nasihat-Ku kepada manusia semua, jangan sampai lupa sangat berbahaya
hukumnya.
D. JENIS PAMANGKU
Menurut Lontar Raja Purana Gama,
Ekajati yang tergolong pamangku ini dibedakan
menjadi 12 ( dua belas ) jenis, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau
ini melaksanakan tugasnya, yaitu ;
1. Pamangku
Kahyangan
Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada
Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga,
Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-masing pura ini memiliki seorang
atau lebih Pamangku.pemucuk dan mengemban tugas
dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang di
emongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara
yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku
Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa
lainnya, Kahyangan Jagat serta Dangkahyangan.
2.
Pamangku Pamongmong
Pamangku Pamongmomg juga disebut
dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai pebantu dari Pemangku
Gde di suatu pura, yang sering juga disebut Pamangku alit, dengan tugas pokok
mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara, dan hal-hal lainnya sesuai
dengan perintah Pemangku Gde.
3. Pamangku Jan Banggul
Pamangku Jan Banggul juga
disebut dengan sebutan Jro Bahu, disebut
juga Pamangku alit, yang bertugas sebagai pembantu Pemangku Gde, dalam
menghaturkan atau ngunggahang bebanten, menurunkan arca pratima, memasang
bhusana pada pelinggih, nyiratan wangsuh pada dan memberikan bija kepada umat
yang sembahyang serta hal-hal lainnya
sesuai dengan perintah / waranugraha Pemangku Gde pada pura tersebut.
4. Pamangku Cungkub
Pamangku Cungkub yaitu Pamangku yang
bertugas di Mrajan Gde yang memiliki jumlah Palinggih sebanyak sepuluh buah
atau lebih.
5.
Pamangku Nilarta
Pamangku Nilarta adalah Pamangku
yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai pura Kawitan atau pura Kawitan
dari keluarga tertentu.
6.
Pamangku Pandita
Pamangku Pandita memiliki tugas muput
yadnya seperti Pandita. Adanya Pemangku jenis ini didasarkan atas adanya
tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan
pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yadnya
diselesaikan oleh pemangku tersebut, dengan mohon tirtha pamuput dengan jalan
nyelumbung.
7.
Pamangku Bhujangga
Pamangku Bhujangga adalah pamangku yang
bertugas pada pura yang berstatus sebagai paibon.
8. Pamangku Balian
Pamangku ini hanya bertugas
melaksanakan swadharma Balian, dapat nganteb upacara atau upakara hanya yang
berhubungan pengobatan terhadap pasiennya.
9.
Pamangku Dalang
Pamangku yang melaksanakan swadharma
sebagai Dalang, dapat nganteb upacara atau upakara yang hanya berhubungan
dengan swadharma Pedalangannya saja, seperti mabayuh pawetonan atau Nyapuh
Leger.
10.
Pamangku Tapakan /Lancuban
Pamangku ini hanya bertugas apabila
pada suatu pura melaksanakan kegiatan nyanjan atau nedunan Bhatara nunas bawos,
untuk kepentingan pura tersebut untuk memohon petunjuk dari dunia niskala.
11. Pamangku Tukang
Pamangku ini juga disebut Pamangku
Undagi, pamangku yang paham akan ajaran Wiswakarma serta segala pekerjaan
tukang, seperti Undagi, Sangging, Pande dan sejenisnya, dapat nganteb upacara
atau upakara hanya sebatas yang berhubungan dengan tugas beliau sebagai tukang.
12.
Pamangku Kortenu,
Pamangku Kortenu adalah Pemangku
yang bertugas di Pura Prajapati, selain nganteb di Pura yang di emongnya, juga
dapat nganteb upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya, seperti Ngulapin
Pitra pada saat akan melaksanakan upacara Atiwa-tiwa dan lain sebagainya.
Selain Pamangku di atas di beberapa
daerah di
Kemudian sesuai dengan hasil Sabha II
Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat tahun 1968, diperkenalkan isitilah
Pinandita selaku pembantu mewakili Pandita. Walaupun Pinandita ini ditetapkan
selaku pembantu mewakili Pandita namun wewenangnya tidaklah menyamai wewenang
Pandita. Hanya dalam keadaan tertentu khususnya di luar daerah Bali Pinandita
diperkenankan mewakili Panditra untuk mengantar semua jenis yajna dengan cara
yang berlaku bagi seorang Pamangku.
E. ATRIBUT
Pamangku sebagai rohaniawan yang masih
tergolong ekajati atau walaka, dalam hal berbusana hanya diatur pada saat
melaksanakan tugas kepemangkuannya saja. Sedangkan dalam keadaan sehari-hari
tidak diatur secara khusus. Hal ini disebabkan karena tidak terjadi perubahaan
atau penggantian wesa seperti yang berlaku pada seorang Pandita. Pamangku masih
dibenarkan untuk agotra atau bercukur sebagai walaka umumnya. Hanya saja saat
Pamangku melaksanakan tugasnya sesuai dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir
Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu VI tahun 1980, Pamangku diwajibkan berbusana
lengkap serba putih, dari bentuk destar mongkos nangka, baju, kain dan kampuh.
Bagi yang memelihara rambut dimasukkan
ke dalam destar dengan cara dikonde, sehingga tidak terurai. Kemudian tidak
dibenarkan mengenakan busana pada waktu memuja seperti busana Pandita, termasuk
juga dalam hal tatanan dandanan rambut.
Perlengkapan Pamangku dalam
melaksanakan tugasnya tidak memakai perlengkapan sebagaimana yang dipergunakan
oleh Pandita. Yang dipergunakan oleh Pamangku adalah genta, dupa sasirat,
sangku atau payuk, serta dulang sebagai alasnya.
F. FUNGSI
1. FUNGSI SPIRITUAL
Pamangku adalah rohaniawan
dan sekaligus seorang spiritualis. Sebagai seorang rohaniawan dia dituntut
melaksanakan fungsi manifesnya. Fungsi manifest ini akan dapat berjalan secara
maksimal apabila pamangku memiliki spiritualitas yang mantap. Spiritualitas
yang mantap akan terwujud apabila pamangku melaksanakan fungsi latennya,
artinya dimana setiap langkah dan tindakannya harus mencerminkan pribadi yang
dilandasi oleh kesucian itu. Sebagai
media bagi umat untuk Tuhan, pelembagaan
kesucian itu tidak hanya mengalir dari luar dalam bentuk prilaku dan
yang paling penting adalah bagaimana pamangku itu membangun kualitas jiwanya
dengan terus-menerus membangun kesucian itu. Hanya dengan kesucian, tugas dan
pelayanan paripurna dapat terlaksana. Hanya dengan kesucian spiritualitas akan
dibangun. Sehubungan dengan kesucian ini
Lontar Kusumadewa menyatakan.
“Satingkahe dadi pamangku kari undakan
Widhi, sabran dina rahayu patut I pamangku mapeningan manyucian dewek. Satingkahe
nyuci laksana, saparikramaning apening pelajahin tur nunas tirta ring pura
panyiwiania makadi ring Ida Pandita maka panelah-nelah reged ring sarira; luir
tirta sane patut tunas; panglukatan, pabersihan, wus mapeningan mangda ke pura
mererisak.”
Terjemahannya.
Prilaku sebagai Pamangku Pura setiap hari baik patut
menyucikan diri. Tatacara menyucikan diri. Tatacara menyucikan diri, aturan
tatacara menyucikan diri patut dipelajari
dan mohon air suci di pura tempatnya bertugas dan juga kepada pandita
sebagai penyucian atas segala noda dan kotoran dirinya. Adapun tirta yang patut
dimohonkan adalah tirta panglukatan, pabersihan, setelah selesai menyucikan
diri, agar ke pura untuk melaksanakan tugas menyapu membersihkan halaman pura.
Lebih lanjut Puja
Pancaparamartha menyatakan.
“Agni madhye ravis caiva,
Candra madhye bhavec suklah, sukla
madhye sthitah sivah.”
Terjemahaannya.
Di dalam api ada matahari, di dalam matahari ada bulan
Di dalam bulan ada kesucian , dalam kesucian Siwa
berstana
2. FUNGSI RITUAL
Pamangku memiliki peranan yang
sangat penting dalam masyarakat Hindu, fungsinya menjadi sangat vital tatkala
umat menyelenggarakan upacara yajna.
Sepanjang tidak menggunakan Pandita, maka Pamangkulah yang diminta jasa
layanannya sebagai manggala dari upacara yajna tersebut yang lazim disebut
dengan nganteb. Terkait fungsinya
sebagai pemimpin ritual maka kompentensi yang harus dikuasai walaupun tidak
sepenuhnya kecuali Pandita terkait dengan upacara tersebut meliputi;
a.Yantra
,
Yantra dimaksud adalah seorang Pamangku seyogyanya memahami arti dan
makna simbolis dari berbagai sarana yang dipergunakan dalam kegiatan upacara
yang dipimpinnya, lebih lanjut
mengoprasionalkan simbol-simbol tersebut sehingga tercapai suatu tujuan sesuai
dengan goal, untuk maksud dan tujuan
apa upacara yajna itu dilaksanakan. Dalam hal ini tubuh seorang Pamangkupun
merupakan yantra seperti dinyatakan berikut ini.
“Iki ngaran Kusumadewa, penganggen nira Sang Mangku Kulputih, iki kawruhakna Sang Hyang Rare-Angon maka dewaning
Pemangku, maka ngaran Mangku Jagat, kawenang nyuci-adnyana nirmala, ngaran, Nare pinaka raga, Bahu pinaka tripada, Sirah pinaka Siwambha
medaging toya/tirtha, selaning Lelata
Ong-kara sumungsang, pinaka cendana, Citta
pinaka wija, sucining awakta pinaka Dipa,
Netra manis pinaka dhupa, ujar tuwi rahayu mangenakin pangrenga pinaka gandha, Agni ring nabhi, pinaka sekar tunjung kucuping tangan kalih, pinaka ghanta, tutuk pinaka Hyang ngaran. Ika maka tingkahing Mangku
amuja, samangkana sang Mangku jagat, kadi ling ning Kusumadewa. “
Terjemahannya.
Ini
namanya Kusumadewa, atribut Pamangku Sangkulputih, Ini pengetahuan tentang
Sanghyang Rare Angon sebagai istadewatanya Pamangku, yang disebut dengan
Pamangku Jagat, kewajiban menyucikan rohani, tubuhnya Pamangku ibarat talam,
bahunya ibaratkan Tripada, kepalanya sebagai siwamba berisi air suci, Omkara
terbalik di antara kedua alis sebagai cendana, pikiran murni sebagai wija,
sucinya tubuh sebagai lampu penerang, sorot mata yang menyejukkan ibaratkan
dupa, wacana yang lebut sebagai wangi-wangian, panasnya nabi/pusar sebagai
bunga padma, bersatunya kedua tangan ibarat ghanta, ujungnya ghanta sebagai
Yang dipuja, itulah simbol saat Pamangku memuja, demikianlah Pamangku jagat,
sesuai petunjuk sastra Kusumadewa.
Yantra lain yang dipergunakan sebagai
piranti adalah Bajra atau lazim disebut Vajra. Dalam kapasitasnya sebagai manggala upacara
seorang Pamangku dilengkapi dengan Vajra. Lontar Widhisastra menyebutkan
sebagai berikut.
“ yan sampun Adhiksa Widhi katapak
dening Sang Pandita putus, wenang sang Mangku mabebajran, mwah ngaloka
palasraya, maka walining yadnya, wenang Pamangku nyirating sawangsania ring
pakraman, sang Mangku wenang ngawalinin yadnya manut panugrahan sang Guru utawi
sang maraga Sulinggih.
Terjemahannya.
Jika telah melalui pawintenan adiiksa Widhi mendapat pengesahan dari
Pandita, saat memuja berkewajiban Pamangku menyurakan suara ghanta, serta
melakukan layanan di bidang upacara yajna, berkewajiban Pamangku mencipratkan
air suci terhadap warganya di desa Pakraman, Pamangku patut menyelesaikan
upacara sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Guru selaku Pandita.
Lebih jauh dalam lontar Sukretaning Pamangku
disebutkan sebagai berikut.
“Hana pawekasing Bhatara ring Pamangku, yan
rawuh patatoyan Ida Bhatara ring madhyapada, raris angicen bajra patatoyan,
maka wruh ikang Pamangku, kawit kretaning Pamangku. Yang nora angagem bajra,
nora wruh ring kretaning Kapamangkuan, angaru-hara dadi Pamangku, angiya-ngiya
sira ngaran, kena sapaning Bhatara, meh tumbuh edan, karoga,-rogan, anyolong,
angedih ring pisaga.
Terjemahannya
Ada pemberitahuan
Bhatara kepada Pamangku, pada saat Pujawali di pura, kemudian patut
mempersembahkan suara ghanta pemujaan, sebagai suatu pengetahuan bagi Pamangku
awal mula ketertiban bagi Pamangku. Jika tidak memakai bajra/ghanta, tidak
mengetahui aturan tentang kepamangkuan, membuat huru-haralah Pamangku itu,
membenarkan diri namanya itu, kena kutuk oleh Tuhan, bahkan mungkin menimbulkan
kegilaan, kehancuran, mencuri, mengemis pada tetangga.
b. Mantra atau
pujastawa
Pamangku
wajib memahami doa-doa yang patut
dirafalkan sebagai media pengantar atau komunikasi kepada Hyang Widhi saat
upacara berlangsung sehingga upacara itu menjadi tepat guna, berdaya guna serta
berhasil guna. Lebih jauh lontar Sukretaning Pamangku menyebutkan
sebagai berikut.
“Yan ngastawa Bhatara aseha-seha nora turun Ida Bhatara,
apan sira tan eling kawit kandaning Pamangku, anganggo lobha angkara, anduracara
kita, kalinganya tan menget ring agamaning Bhatara, tuhu sira dusun anggen Ida
Pamongmong, ngaran.
Terjemahannya.
Jika memuja Tuhan
dengan menggunakan bahasa sehari-hari tidak akan turun Ida Bhatara, karena
Pamangku tidak mengetahui prosedur menjadi Pamangku, menerapkan keserakahan,
angkaramurka, melakukan tindakan tidak terpuji Pamangku itu, sesungguhnya tidak
ingat pada prilaku memuja Bhatara, sunguh sangat kolot Pamangku itu dijadikan
hamba pelayan oleh Tuhan.
Selanjutnya Lontar Sangkulpinge
menyatakan.
“Iki panugrahan sira Mpu
Kuturan, kaunggahang ring Lontar Sang Kulpinge, tingkahing dadi Pamangku,
wenang angaduhaken weda, ikang Kusumadewa kawruhakna dening pascat.
Terjemahannya
Inilah
pemberian Mpu Kuturan, dicantumkan dalam pustaka Sangkulpinge, tatacara menjadi
Pamangku, berkewajiban memiliki puja pangastawan, sesungguhnya Kusumadewalah
harus diketahui dengan tuntas.
2. FUNGSI SOSIAL RELIGIUS
Bertitik tolak dari konsep yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa
seorang Pamangku adalah Penyangga Dharma, sekaligus pelaksana dharma pada front
terdepan.. Jika dharma diterapkan dharma pula yang akan melindunginya (dharma raksati raksitah) . Lebih
jauh Atharvaveda XII,1.1, menyatakan
bahwa, dharma itu terdiri atas.
“Satyam brhad rtam ugram diksa tapo
Brahma yajnah prthivim dharayanti.”
Terjemahannya.
Sesungguhnya
kebenaran, hukum, inisiasi, disiplin,
doa serta
persembahan yang menyangga dunia.
Apa yang menjadi
isi atau contain dari dharma itu seperti terjabar di atas, seorang Pamangku wajib merealisasikannya. Lebih lanjut kitab Slokantara sloka 3. menyatakan .
“Kalingannya, tan hana dharma lewiha sangkeng
kasatyan,
matangyan haywa lupa ring kasatyan ikang
wwang”,
Terjemahannya
Tidak ada
dharma yang lebih tinggi dari Satya (kebenaran),
Oleh karena itu manusia jangan lupa melaksanakan Satya itu.
Maka dalam
konteks ini seorang Pamangku adalah pemegang satya atau kebenaran. Realisasi
dari satya ini bermuara pada “katakan
kebenaran lakukan kebajikan.
Dengan merujuk satra di atas, bahwa seorang Pamangku tugas pokoknya
tidaklah cukup memberikan pelayanan di bidang ritual dalam bentuk
menyelesaikan/nganteb upacara yadnya saja. Beliau wajib melembagakan kesucian
setiap hari baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain, mengingat Pamangku
adalah perwujudan Siwa Sakala atau Siwaning
Pakraman, sekaligus Sebagai Gembala umat yang bertugas
menuntun umat setiap hari dalam rangka pencarian hakekat Sang Diri demi terwujudnya karahayuan jagat.
a. Brata
Dalam rangka melembagakan kesucian dalam diri, seorang Pamangku wajib
melaksanakan brata atau disiplin yang ketat sebagai landasan untuk mencapai
Tuhan, sesuai pernyataan Yajurweda XIX.35 sebagai berikut.
“Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti
daksinam,
Daksinam sraddham
apnoti, sraddhaya satyam apyate.”
Terjemahannya.
Dengan
menjalankan brata (disiplin) seseorang mencapai diksa (penyucian)
Dengan diksa
seseorang memperoleh daksina (kemuliaan), dengan daksina
seseorang
membangun sraddha (keyakinan). Melalui sraddha seseorang
memperoleh satya (Hyang Widhi).
Selanjutnya tentang bebratan Pemangku dalam rangka menjaga
kesucian diri pribadinya selain diupayakan dengan senantiasa berbuat kebajikan
dilandasi oleh budhi luhur atau susila
ambeking budhi serta menghindari perbuatan yang dursila maupun yang dipandang mencemari dirinya secara lahir dan
bathin. Selain itu memahami komponen pembangun kehidupan ini yang membutuhkan
cara penyucian ytang berbeda-beda sesuai ucap
Manawa Dharmasastra.V.109. sebagai berikut
“Adbhirgatrani suddhyanti, Manah satyena
suddhyanti,
Widya tapobhyam bhutanam, Budhir jñana suddhyanti”
Terjemahannya:
Tubuh disucikan dengan air,
pikiran disucikan dengan kebenaran (satya),
Atma disucikan dengan Tapa Brata,
Budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan.
Kemudian secara konsisten
melaksanakan ajaran yama nyama brata, trikaya parisudha dan ajaran catur
paramita sebagai landasan moralitas dan mentalitas membangun kersucian batin .
Yama Brata:
a.
Ahimsa : Tidak
menyakiti atau membunuh mahluk lain.
b. Brahmacarya
: Tekum memperdalam ilmu keagamaan.
c.
Awyawahara : Tidak suka bertengkar tidak pamer dan dapat
mengekang nafsu
d. Asteya
: Tidak suka
mencuri, korupsi mengambil milik hak
orang lain.
e. Satya : Taat dan jujur selalu
menjunjung tinggi kebenaran.
Niyama Brata :
a. Akrodha : Mengekang amarah serta mampu
mengendalikan diri
b. Gurususrusa : Selalu
taat kepada perintah Guru serta mengikuti semua ajarannya
c. Sauca
: Senantiasa melembagakan kesucian dalam
kehidupan.
d. Aharalagawa :
Mengatur pola makan secara benar.
e.
Apramada : Tidak menghina atau mencela
serta melecehkan pendapat orang lain
Trikaya Parisuddha:
a, Manacika :
Selalu menjaga kesucian dalam berpikir.
b, Wacika
: Selalu menjaga kesucian dalam
berkata-kata.
c, Kayika :
Selalu menjga kesucian dalam segala perbuatan.
Catur Paramitta:
a. Metri :
Mempunyai sifat bersahabat dengan semua mahluk.
b. Karuna :
Mempunyai sifat welas asih terhadap sesamanya.
c. Mudita : Mempunyai
rasa simpati terhadap sesamanya dalam suka dan duka.
d. Upeksa : Mempunyai
sifat waspada dan teliti didalam segala hal, tidak gegabah.
Secara khusus bebratan tentang kepemangkuan ini juga termuat dalam lontar
Tattwadewa yang berbunyi sebagi berikut;
“Pemangku
tan amisesa gelah anakke juang, tembe-tembe ring niskala.”
Terjemahannya.
Pamangku tidak
dibenarkan mengambil milik orang lain, lebih-lebih milik pura
Hal ini mengingatkan agar para Pemangku
tidak rakus terhadap drewe pura seperti sesari maupun barang-barang lainnya
yang dipersembahkan oleh umat.
Selanjutnya
tentang babratan pamangku dalam rangka menjaga kesucian diri, secara khusus
dituangkan dalam lontar Tattwadewa yang disebut dengan Brata Amurti Wisnu yang
berbunyi sebagai berikut .
“Nihan aji kreta ngaran, tingkahe mamangku, asuci purnama tilem, ika
maka wenang adunging abrata, kawasa mangan sekul kacang-kacang garem aywa
mangan ulam bawi lonia satahun. Malih abrata amangan sekul iwaknia tasik lonia
solas dina. Malih abrata mangan sekuliwaknia sarwa sekar lonia tigang dina.
Nihan brata Amurti Wisnu ngaran , kawasa mangan sekul iwaknia sambeda, aywa
nginum toya solas dina lonia. Brata ning abrta ngaran.
Terjemahannya.
Inilah haji
kreta namanya prilaku menjadi Pamangku, menyucikan diri pada hari purnama
tilem, itulah sebagai kelengkapan melaksanakan brata, dibenarkan untuk makan
nasi kacang-kacangan dan garam, jangan makan daging babi lamanya setahun. Dan
dibenarkan makan nasi dengan lauk garam selama sebelas hari, dan berikutnya
makan nasi lauknya bunga-bungaan lamanya tiga hari. Inilah yang disebut brata
Amurti Wisnu namanya, berhasil makan nasi lauknya sembarangan jangan minum air
seblas hari, puncak brata namanya.
Selain
itu brata yang tidak boleh ditinggalkan adalah senantiasa mapeningan atau menyucikan diri dan yang tidak kalah pentingnya
adalah mendalami ajaran agama terutama yang berhubungan dengan tugasnya sebagai
Pamangku. Mengingat kapasitas Pamangku sebagai gembala umat, ia tidak hanya
memiliki keyakinan yang mantap untuk mengantarkan umat mencapai Tuhan dengan
landasan cara hidup moralitas dan mentalitas yang benar, kemudian yang tidak
kalah pentingnya adalah memiliki pengetahuan keagamaan yang benar. Sebab tanpa pengetahuan
keagaman yang benar niscaya apa yang menjadi misi kepamangkuan tidak akan
terwujud. Untuk itu Lontar Kusumadewa mengatakan.
“Apan kramaning dadi Pamangku, patut uning ring
Tattwadewa, Dewa-tattwa, Kusumadewa, Rajapurana, Puranadewa, Dharma Kahyangan,
Purana tattwa, I Pamngku wenang anrestyang pamargin agamane ngastiti Dewa
Bhatara Hyang Widhi, kasungkemin olih I Krama Desa makadi karma pura sami,
awinan mamuatang pisan I Pamangku mangda tatas ring sastra, mangda wruh
katattwaning paindikan mwang katuturan, makadi kadharman, mangda patut
pangambile mwang pamargine.”
Terjemahan:
Adapun
prilaku seorang Pamangku hendaknya mengerti serta memahami tentang Tattwadewa, Dewa Tattwa, Kusumadewa, Raja
purana, Purana Dewa, Dharma kahyangan,Pamangku patut menjadi pelopor
pelaksanaan agama serta memuja Tuhan,
dipatuhi oleh warga masyarakat desa maupun warga penyungsung pura. Oleh karena
itu sangat diharapkan agar Pamangku paham akan hakikat segala hal seperti ,
paham dalam kesusilaan agar tidak salah dalam melaksanakan tugasnya.
b. Larangan.
Dalam
upaya memelihara kesucian diri sebagai Pamangku, berdasarkan sumber sastra Kusumadewa
ada beberapa larangan yang patut dijauhi
oleh seorang Pamangku.
“Yan hana Pamangku Widhi tampak tali, cuntaka
dadi Pamngku, wenang malih maprayascitta kadi nguni upakaranya, wenang dadi
Pamangku Widhi malih. Yan nora samngkana phalanya tan mahyun Bhatara mahyang
ring kahyangan.
Terjemahan:
Bilamana
ada Pamangku pura yang pernah diikat / diborgol, di pandang tidak suci Pamangku
tersebut, di wajibkan melaksanakan upacara penyucian kembali seperti sediakala.
Di benarkan ditetapkan menjadi Pamangku kembali. Bila tidak demikian akibatnya
tidak berkenan Ida Bhatara turun di pura.
Yang
dimaksud dengan tampak tali di sini adalah bilamana pamangku itu pernah dituduh
berbuat kejahatan sehingga dihukum atau diikat. Terbukti atau tidak kesalahan
pamangku itu., karena pernah dihukum atau dituduh berbuat salah sehingga
diikat, maka akibat dari itu kesuciannya dipandang telah ternoda sehingga perlu
direhabilitasi melalui upacara prayascita. Untuk dapat bertugas kembali. Bila
ternyata pamangku itu memang terbukti
bersalah maka otomatis kepamangkuannya dicabut/digugurkan. Bahkan diwajibkan
untuk mengembalikan biaya pawintenan yang pernah dikeluarkan oleh desa. Tetapi
jika tidak bersalah semua biaya upacara
reabilitasi akan ditanggung desa.
“Yan hana
pamangku Widhi sampun putus madiksa Widhi mapawintenan Ekajati, mapahayu agung,
tekaning antaka haywa pinendhem, tan wenang, hila-hila dahat ikang bhumi kena
upadrawa de Sang Panenggeking Bhumi.”
Terjemahannya
Apabila seorang pamangku pura yang telah melaksanakan
upacara pawintenan hingga tingkat mapahayu agung, tatkala kematiannya tidak
boleh ditanam/dikubur, bahaya akan mengancam, dunia kena kutuk oleh penguasa
jagat.
Larangan
untuk mengubur bagi pamangku yang meninggal dunia disebabkan karena seorang
pamangku telah mengalami penyucian diri baik lahir maupun batin maka rohnya wajib
segera disucikan dengan pengabenan untuk dapat bersatu dengan Tuhan. Maka jazadnya tidak dibenarkan untuk dikebumikan.
“Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira
kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira mungguh ring soring tatarub
camarudha, salwiring pajudian mwang aja sira parek ri salwiring naya dusta.
Terjemahannya.
Pamangku
jangan sembarang memikul, janganlah masuk ke lapak tempat berjualan, jangan
duduk di arena sabungan ayam, semua jenis perjudian, dan jangan dekat atau
bergaul dengan orang-orang yang berniat jahat.
Larangan bagi Pamangku untuk tidak sembarang memikul adalah
untuk menjaga kesucian lahir maupun batin Pamangku. Tetapi memikul benda-benda
yang telah disucikan tidaklah merupakan pantangan, bahkan merupakan suatu
kewajiban untuk dikerjakan. Kemudian larangan untuk memasuki lapak tempat berjualan
bukanlah berarti pamangku tidak boleh berbelanja, tetapi akan lebih baik jika
pamangku tidak mengambil tugas rangkap sebagai dagang. Demikian juga tentang
duduk di bawah atap tempat judi, jangankan berjudi duduk saja tidak dibolehkan,
ini menandakan bahwa Hindu tidak membenarkan adanya perjudian.
“Yan Pamangku mawyawahara, tan wenang kita
anayub cor teka wenang adewasaksi.”
Terjemahannya.
Bilamana pamangku bersengketa tidak patut mengangkat sumpah dengan cor, yang
patut dilakukan adalah mohon persaksian kehadapan Hyang Widhi.
Yang dimaksud dengan anayub cor adalah melaksanakan sumpah yang mengandung
kutukan dan dilanjutkan dengan meminum air suci dalam rangkaian sumpah itu.
Untuk proses hukum mengangkat sumpah dipengadilan masih diperkenankan.
“Samalih tingkahing Pamangku, tan
kawasa keneng sebelan sira pamangku, yan hana wwang namping babatang tan kawasa
sira mangku marika, tur tan kawasa amukti dreweniong wwang namping
babatang.
Terjemahannya.
Dan lagi prilaku menjadi pamangku, tidak dibenarkan dinodai oleh kacuntakan,
bila ada orang yang punya kematian tidak dibenarkan pamangku mengunjungi orang
yang kedukaan tersebut, apalagi menikmati makanan dan minuman di tempat
tersebut.
Larangan tersebut di atas bersifat anjuran, bila pamangku menghendaki agar
dirinya tidak terkena cuntaka. Tetapi bilamana karena sesuatu hal yang mati
adalah kerabat dekat sehingga akan dirasa kurang enak bila tidak datang
melayat, sesungguhnya pamangku itu masih diperkenankan. Hanya saja setelah
melayat pamangku wajib melakukan mapeningan. Kemudian untuk menetralisir
pikiran yang cuntaka dapat pula dilakukan dengan mengucapkan mantra Aji
Panusangan yang tersurat dalam lontar Sodasiwikerama yang berbunyi.
“Iti Sanghyang Haji Panusangan, ngaran
pangeleburan letuhing sarira, palania tan keneng sebelan, saluiring mageleh
ring prajamandala, wenang sakama-kama, apan sanghyang mantra luwih utama, yan
tasak dening ngrangsukang mantra iki, saksat mawinten ping telu, gelarakna
siang ratri.
Terjemahannya.
Ini ajian Panusangan namanya, pembasmi kekotoran diri, pahalanya tidak
terkena sebelan, segala noda di dunia, bisa diucapkan dimana-mana, karena ajian
sangat utama, apabila mantap dan matang dalam pelembagaannya, ibaratnya
mawinten tiga kali, ucapkan siang malam.
Pujanya.
Idep aku anganggo aji katomah, amangsa
amungsung aku tan pabresihan, aku pawaking setra, suka kang akasa, suka kang
prethiwi, tan ana aku keneng sebelan, apan aku teka amresihin awak sariranku,
teka bresih 3X
Kemudian dalam lontar Tattwa Siwa Purana memberikan tambahan tentang
larangan bagi Pamangku sebagai berikut.
“Samalih yang sampun madeg pamangku tan
wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit tan palangkahan sawa, sarwa
sato, saluiring sane kinucap cemer.“
Terjemahannya.
Dan
lagi bila sudah menjadi Pamangku, tidak patut mengambil sapi, memikul alat
bajak, tidak dilangkahi jenasah, binatang maupun segala yang tergolong cemer.
Dalam praktek yang telah berlaku di masyarakat, yang dipantangkan oleh
Pamangku adalah melangkahi tali sapi dan tidak boleh memukul sapi. Untuk meikul
alat bajak larangannya didasarkan pada pertimbangan bahwa alat bajak pada
umumnya dalam pemakaiannya biasa diduduki, sehingga akan dipandang cemer bila
sesuatu yang biasanya diduduki itu dipikul oleh pamangku. Tidak ada larangan yang jelas bahwa pamangku
tidak boleh membajak.
Larangan bagi Pamangku
dilangkahi jenazah, sudah jelas karena jenazah dalam pandangan agama Hindu
tergolong cemer, demikian pula semua jenis binatang (sarwasato). Kesimpulannya
pamangku tidak patut dilangkahi oleh sesuatu yang tergolong cemer.
Dalam Paruman Sulinggih
Tingkat Prop.
G. Cuntaka Bagi Pamangku
Pamangku pada dasarnya tidak ikut terkena cuntaka
yang disebabkan oleh orang lain, (pamangku
tan milu keneng cuntakaning len). Hal ini dimaksudkan bahwa bilamana ada
salah seorang warga masyarakat di desanya atau keluarga dekat yang meninggal,
pamangku tidak kena cuntaka . Oleh karenanya pamangku masih dapat melanjutkan
tugasnya di pura. Tetapi bila pamangku mengalami musibah kematian, diantara
anggota keluarga di rumahnya sendiri, pamangku tersebut terkena cuntaka selama
tiga hari, atau lebih lama sesuai dengan tingkat hubungan kekeluargaannya.
Dalam lontar Tata Krama Pura dijelaskan.
“… yan pamangku kahalangan pati ngarep ring
pahumania, tigang dina cuntakania yang sang Brahmana Pandita, tan hana
cuntakania.
Malih I Pamangku tan muilu keneng
cuntaka ning len. Yan marep anak petunia pejah, pitung dina cuntakania. Tutugning sengkerning cuntakania teke wenang
I Pamangku aprayascitta.
Terjemahannya:
……. Bilamana Pamangku mendapat halangan kematian di rumahnya, tiga hari
cuntakanya. Kalau pendeta tidak ada
cuntakanya. Dan lagi Pamangku tidak ikut
terkena cuntaka orang lain. Kalau
terhadap anak dan cucunya yang meninggal tujuh hari cuntakannya. Setelah tiba waktu berakhir cuntakanya
sepatutnya Pamangku itu melaksanakan upacara prayascitta.
Masih dalam hubungan
kematian, bagi Pamangku yang rumahnya berdampingan dengan pura tempatnya
bertugas, maka bilamana dirumah itu ada kematian dianjurkan bila akan menyimpan
jenazah di rumah agar dipindahkan ketempat lain. Untuk jelasnya berikut ini akan kami kutipkan
dari lontar Widhi Sastra Swa Mandala sebagai berikut:
“Mwah yan hana kahyangan panyiwian
sang ratu, yadyan prasadha ring kahyangan ika, masanding umahnia maparek, tan
pabelat marga, ri tekaning kapatyan de Mangku Bhatara, hageakna prateka haywa
ngaliwari salek suwenya.
Yan hana halangan bhumi bhaya kinwan
de sang ratu dohaken anyekah wangke ika, yan prahimba marep juga same anyekeh
wangke, yang anti amreteka, wenang mulih ring dunungania nguni, haywa nyekeh
sawa ring dunungan de Mangku sasuwe-suwenia lmeh ikang parahyangan sang Rathu
phalania sang ratu gering, reh de Mangku angungku cemer.
Yan doh anyekeh wangke selat marga
rurung, limang dina de Mangku kacuntakan dadi de Mangku ulah ulih ring
kahyangan, ngaturang pasucian. Yan de
Mangku nyekeh wangke ring umahe, salawase tan kawasa de Mangku ka kahyangan,
sapuputan sawa mabhasmi luwar cuntakania.”
Terjemahannya
Dan lagi bila ada pura pemujaan Raja maupun prasadha di pura itu, berdampingan
rumahnya berdekatan tidak dibatasi jalan, tat-kala Pamangku kematian, agar
secepatnya diupacarakan jangan melewati waktu sebulan. Bilamana karena suatu halangan wabah, (agar)
disuruh oleh sang Raja untuk menjauhkan menyuimpan jenazah itu, (bila berkehendak
menyimpaan jenazah itu). Pada waktunya
akan mengupacarai boleh untuk di bawa pulang ketempatnya semula jamganlah
menyimpan jenazah itu di rumah Pamangku, (oleh karena) selamanya akan tercemar
aura tempat persembahyangan Raja yang akan berakibat sang Raja akan tertimpa
penyakit oleh karena Pamangku menyimpan yang menyebabkan leteh.
Bila jauh tempatnya menyimpan jenazah itu,
dibatasi jalan
Bila Pamangku menyimpan jenazah itu dirumahnya, selama itu tidak
diperkenankan Pamangku itu pergi kepura,
setelah selesainya jenazah itu dibakar, saat itu berakhirlah cuntakanya pamangku
itu.
Demikianlah Pamangku karena
tugasnya ditempat suci dan karena tingkat penyuciannya tidak sama dengan sulinggih patut menjauhi hal-hal yang
dipandang dapat menyebabkan leteh dan cemer.
Bila karena suatu keadaan yang tidak terhindarkan seperti karena
kematian salah seorang anggota keluarganya disatu rumah, maka upaya penyucian
diri Pamangku dilakukan dengan upacara prayascitta. Kecuntakan bagi Pamangku selain disebabkan
karena kematian salah satu anggota keluarganya, atau karena nyekeh sawa (
menyimpan mayat dirumahnya) juga terjadi
karena Pamangku mengmbil istri baru.
Dalam hal serupa itu lontar Tattwa Siwa Purana memberi petunjuk sebagai
berikut:
……yan sampun madeg Pamangku, tan
kawenang cemer; yan wenten Pamangku malih mengambil rabi, ri wusnia
mapawarangan, wenang sira mangku manyepuh pawintenan nguni. Mwah ngaturang pasapuh ring pura, mwah wadone
punika wenang nyepuh. Apang tan kari
kareketan letuh, yan tan nawur penyapuh, tan kawenang ka pura. Yan marabi saking paiccan nabe, mwang guru
wisesa, kalih saking pakramane ngaturin marabi, punika dados ngaturang pangrebu
alit, ring pura pura nenten ja masapuh.
Terjemahannya:
… kalau sudah menjadi Pamangku, tidak boleh cemer; kalau ada Pamangku
beristri baru, setelah selesai upacara perkawinannya patut Pamangku itu
melaksanakan upacara nyepuh pawintenannya yang lalu dan lagi menghaturkan
upacara pasasapuh di pura, dan istrinya itu patut melaksanakan upacara
nyepuh. Supaya tidak terkena letuh
(cemar), kalau tidak melaksanakan upacara penyapuh tidak diperkenankan ke
pura. Kalau mengambil istri karena pemberian
guru atau pemerintah maupun dari warga masyarakat yang memberikan atau menyuruh
beristri, diperkenankan hanya menghaturkan upacara pangrebu yang sederhana di
pura, tidaklah dengan upacara penyapuh.
Bagi Pamgnku wanita yang
cuntaka karena kotor kain juga berlaku sebagaimana umumnya. Dan setelahnya mabersih diri (mandi
berkeramas) masih diperlukan tingkat pembersihan lebih lanjut seperti
prayascitta atau setidak-tidaknya dengan matirta sebelum akan melaksanakan
tugas ke pura. Demikian halnya cuntaka
karena melahirkan atau keguguran kandungan, batas cuntakanya sesuai dengan
cuntaka yang berlaku bagi masyarakat umum.
Sesuai dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek Agama
Hindu VI Tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:
1. Sebel atau cuntaka karena melahirkan yang
terkena cuntaka adalah diri pribadi dan suaminya beserta rumah yang di
tempatinya. Batas waktunya
sekurang-kurangnya: 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirta pabersihan dan
suaminya sekurang-kurangnya sampai dengan putusnya tali pusar sibayi.
2. Sebel karena wanita keguguran
kandungan adalah diri pribadi dan suaminya beserta dengan rumah yang di
tempati. Batas waktu sekurang-kurangnya
42 hari dan berakhir setelah dapat tirta pabersihan.
Bilamana dalam kegiatan upacara piodalan di pura Pamangku mendapat halangan
kematian salah seorang anggota keluarganya, maka agar Pamangku tersebut tidak
terhalang dalam melaksanakan tugasnya di pura, dianjurkan agar tidak pulang
kerumah yang ada kematian.bilamana Pamangku tersebut pulang maka ia akan
terkena cuntaka sehingga tidak diperkenankan masuk ke pura sebelum melakukan
upacara prayascitta.
H. Wewenang.
Seorang Pamangku memiliki batas
kewenangan yang berbeda dengan Sulinggih dalam mengantarkan yadnya. Berdasarkan
Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu IX tahun 1986.
Tugas dan wewenang Pamangku dalam mengantarkan yadnya adalah sebagai berikut:
1. Menyelesaikan /nganteb upacara
rutin atau pujawali/piodalan pada pura yang di emongnya serta mohon tirtha kehadapan
Istadewata yang disthanakan di pura tersebut termasuk upacara pembayaran kaul /
sesangi.
2. Bila
menyelasaikan tugas di luar pura yang di emongnya, Pamangku / Pinandita tidak
diperkenankan muput melainkan Nganteb, dengan tirtha pamuput dari sulinggih.
3.
Dalam penyelesaian upacara, Pamangku di beri wewenang, Bhuta yadnya
sampai tingkat Pancasata, Ayaban
sampai tingkat Pulagembal, Manusa
yadnya dari bayi lahir sampai dengan
otonan biasa, Pitra yadnya wewenang diberikan sampai pada mendem sawa di sesuaikan dengan desa
mawacara.
I. Tugas dan Kewajiban.
Secara rinci
tugas dan kewajiban Pamangku telah di atur dalam awig-awig Desa pakraman, untuk
Pamangku Kahyangan Desa, Jika Pamangku kawitan atau Pamangku Pura Keluarga di
atur berdasarkan kesepakatan pangempon atau penyungsung. Namun secara umum
tugas dan kewajiban Pamangku adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan tugas kepemangkuan
dengan konsekwen di mana yang bersangkutan di tetapkan menjadi pemangku.
2. Menjaga artha milik pura dan
memelihara kebersihan serta kesucian pura dari segala hal yang dipandang dapat
menodai kesucian pura.
3. Melakukan layanan kepada
masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu menyelesaikan upacara sesuai dengan
kewenangannya.
4. Menuntun umat dalam menciptakan
ketertiban dan kekhidmatan pelaksanaan upacara.
5. Sebagai Duta Dharma yang
senantiasa memberikan tuntunan kepada umat menyangkut pelembagaan ajaran-ajaran
Agama.
J. Penghargaan atau Hak.
Sebagai wujud penghargaan terhadap tugas
dan kewajiban pamangku yang cukup berat, Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap
Aspek-aspek Agama Hindu VI tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:
1.
Bebas dari ayah-ayahan desa, atau sesuai dengan tingkat kepemangkuannya.
2.
Dapat menerima bagian sesari aturan atau
sesangi.
3.
Dapat menerima bagian hasil pelaba pura (bagi pura yang memiliki pelaba).
4. Apabila Pamangku meninggal dunia,
upacara pengabenannya di tanggung oleh pangempon di mana Pamangku itu bertugas.
Walau telah di atur seperti diatas,
palaksanaannya tetap disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat maupun
awig-awig yang telah di sepakati, baik yang berlaku di lingkungan suatu pura
maupun desa adat. Pamangku Kahyangan Desa (Pamangku Desa, Puseh Bale agung,
Dalem dan sebagainya), menjadi tanggungan Desa Pakraman.
Bagi Pamangku yang bertugas di luar
Kahyangan Desa, mendapt penghargaan dan hak dari kelompok pangempon pura
tempatnya bertugas. Sedangkan kewajiban terhadap Desa Pakraman dan Pura
Kahyangan Desa masih di bebani dalam tingkat tertentu sesuai dengan awig-awig
setempat.
Sedangkan pamangku jenis Pinandita,
pamangku Dalang, Pamangku Tukang tidak mendapatkan leluputan, karena tugasnya
tidak terkait secara langsung dengan suatu Pura tertentu.
TUNTUNAN PEMANGKU DIDALAM MELAKSANAKAN YADNYA
UPACARA DEWA
YADNYA.
Didalam
melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu
mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan
seperti :
a. Sebuah bokoran/nare
b. Sebuah Sangku/tempat tirtha
c. Bunga warna-warni secukupnya
d. Beras/wija secukupnya
e. Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian
f. Dhupa secukupnya.
Semua itu sebagai perlengkapan
para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).
Sebelum para Pemangku memulai
suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih
dahulu seperti tahapan dibawah ini :
- MASILA DEN APNED :
OM OM Padmasana ya namah
OM ANG Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya
namah
- MEMBERSIHKAN TANGAN :
KANAN : OM
Suddha mam swaha
KIRI : OM Ati Suddha mam swaha
3.
PRANAYAMA :
RING HATI : OM ANG
Brahma ya namah
RING AMPRU : OM
UNG Wisnu ya namah
RING PAPUSUH : OM
MANG Iswara ya namah
4.
MENGHATURKAN DHUPA :
OM ANG
Brahma-amretha dhipa ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha dhipa ya namah
OM MANG
Iswara-amretha dhipa ya namah
5.
METABUH ARAK/BEREM :
OM ANG
KANG Kasol kaya swasti-swasti
sarwa bhuta kala bokta ya namah
6.
MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.
OM Ghrim wausat ksama sampurna ya namah
7.
NGUTPETI TOYA RING SANGKU :
OM I
BA SA TA A
OM YA
WA SI MA NA
OM MANG
UNG ANG
8.
PADMASANA RING TOYA :
OM OM
Padmasana ya namah
OM OM
Anantasana ya namah
9.
DEWA PRATISTHA :
OM OM
Dewa-Dewi pratistha ya namah
10
SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa adhitya ya namah
11
STHITI KANG TOYA :
OM SA
BA TA A I, OM NA
MA SI WA YA
OM ANG
UNG MANG
12
SEMBAH SIWA AMRETHA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa-amretha ya
namah
13
ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.
OM Puspa dhanta ya namah (sekar)
OM Sri
Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)
OM Kung kumara wija ya namah (bija/beras)
OM Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)
14
NEDUNAN BHATARA TIRTHA :
OM Gangga dewi maha punyam,
Gangga salanca medini
Gangga tarangga samyuktam,
Gangga dewi namu namah
OM Sri Gangga Mahadewi,
Anuksma-amretha jiwani
Ongkara Aksara jiwatam,
Tadda-amretha manoharam
OM Utpeti ka suram ca, Utpeti ka
tawa goras ca
Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti
sri wahinam ya namah swaha
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah
swaha maha ganggayai tirtha pawitrani Ya
namah swaha.
Risampune
puput Nedunan Bhatara Tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi
menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.
MANTRA : OM
ANG Brahma-amretha ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha ya namah
OM MANG
Iswara-amretha ya namah
15
RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :
MANTRA :
OM Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa
winasa ya
Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha
winasa ya namah
NGREMEKIN
BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari
manise tengen/kanan.
MANTRA : OM Bang
Bamadewa guhya ya namah
OM Bhur
Bwah Swah amretha ya namah
APASANG BIJA :
Ring sirah : OM Ing Isana ya namah
Ring lelata : OM Tang Tatpurusa ya namah
Ring tangkah
: OM Ang Aghora ya namah
Ring bahu kanan : OM
Bang Bamadewa ya namah
Ring bahu kiri
: OM Sang Sadya ya namah
16
NGASTAWA BAJRA :
Sadurunge
ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris
ngaskara.
MANTRA :
OM Kara
Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah
Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha
prakasyate
OM Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara
parikirtitah
Candra nada bhindu drestham,
Spulingga siwa twam ca
OM Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa
karmesu
Warada labdha sandeham, Wara siddhi
nih samsayam
NGASKARA :
OM OM
OM (maklener apisan)
OM ANG
UNG MANG (malih maklener)
OM Ang
Kang Kasolkaya Iswara ya
namah
(malih maklener),
tur nglantur
nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah
ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.
17
NGAKSAMA :
OM Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah
Mamoca sarwa
papebhyah, Phalaya swa sadasiwa
OM Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
Trahimam pundari
kaksah, Sambhahya byantara suci
OM Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
Ksantawyo manaso
dosah, Tat pramadat ksama swamam
NUNAS WARANUGRAHA :
OM Anugraha
manoharam, Dewa datta nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah
sarwa nugrahakam
OM Dewa-dewi
maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddhisca dirgahayu,
Nirwighna sukha wredhis ca
OM Anugraha ya namah swaha.
Sesampune
puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk
puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.
18
APSU
DEWA STAWA :
OM Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo’stute
Sarwa klesa winasa
ya, Toyane parisuddhaya te
OM Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat
Sarwa petaka
winasa ya, rogha dosa winasa ya
OM Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam
Siwa-lokam
maha-yaste, mantre manah papa-kelah
OM Siddhim
tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar
Siwa-amretha manggalan
ca, Nadinidam namah siwa ya
PANCA-AKSARA STAWA :
OM Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa
nasanam
Papa kotti sahasranam, Aghandam
bhawet sagaram
OM Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa
nasanam
Mantram tam parama-jnanam, Siwa
logham pratisthanam
OM Namah siwa ya etyewam, Param Brahman
atmane wandam
Param sakti panca diwyah, Panca Rsi
bhawed agni
OM A-karas ca
U-karas ca, Ma-karo windu nada kam
Panca-aksara maya proktam, Ongkara
agni mantrake
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai
tirtha pawitrani Ya namah swaha.
Risampune
puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng.
19
GANGGA SINDHU STAWA :
OM Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari
Kaweri sarayu
mahendra, Tenaya carma wati wai nuka
OM Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah
Purnam jalah samudra sahitah,
Kurwantu te manggalam
20
GANGGA DEWI STAWA :
OM Gangga dewi namaskaram, Ongkara parikirtitah
Sarwa wighna
winasyanti, Sarwa rogha winasa ya
21
NGURIPANG TIRTHA :
OM Hrang
Hring Sah Ksmung
Ang Ung Mang
OM Swasti-swasti
ksing-ksring, YA WA SI MA NA,
I BA SA TA A, Bhutih-bhutih
bhur bwah swah swaha
OM Ang Ing
Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng
OM OM I
A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha
OM OM A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah
swaha
22
SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha
23
NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA :
( PANGLUKATAN ) :
OM Gangga muncar saking purwa, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira selaka, Tinanceban
tunjung petak
Padyusan nira Bhatara Iswara,
Pangilanganing papa klesa
Moksah hilang, OM
SANG ya namah.
OM Gangga muncar saking daksina, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira Tembaga, Tinanceban
tunjung bang
Padyusan nira Bhatara Brahma,
Pangilanganing sarwa wighna
Moksah hilang, OM
BANG ya namah.
OM Gangga muncar saking pascima, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira mas, Tinanceban
tunjung jenar
Padyusan nira Bhatara
Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang, OM
TANG ya namah.
OM Gangga muncar saking utara, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira wesi, Tinanceban
tunjung ireng
Padyusan nira Bhatara Wisnu,
Pangilanganing sarwa satru
Moksah hilang, OM
ANG ya namah.
OM Gangga muncar saking madya, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira amanca
warna, Tinanceban tunjung amanca warna, Padyusan nira Bhatara Siwa,
Pangilanganing dasa mala
Moksah hilang, OM
ING ya namah.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.
MANTRA :
OM Atma-tattwatma
suddha ya mam swaha
OM Pretama
suddha, dwitya suddha, tritya suddha,
caturti
suddha.Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.
Sesampune
puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.
MANTRA :
OM Atma
tatwa-atma suddha mam swaha
OM OM Ksama sampurna ya namah
OM Sri
Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.
24
ANGLUKAT BEBANTEN :
OM Pukulun Hyang-Hyang ning Prana-prani, Hyang-Hyang ning Sarwa
Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha
panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten
kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening
wong camah, kaporod dening wek, kacaruban, karereban ya ta kaprayascitta denira
Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha
paripurna.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
25
NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :
Tirtha sane
ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.MANTRA
:
OM Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa petaka.
OM Bang
Bamadewa
OM Dewa
Bayu angiberaken lara rogha wighna
OM Sah
wausat ya namah swaha
OM Sang
bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta
nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna
OM Ksama
sampurna ya namah.
26
NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Mretyun
ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa
Papa mretyu sangkara,
Sarwa kala kalika syah
Wigraha ngawipada,
Susupna durmangala
Papa krodha winasa ya,
Sarwa wighna winasa ya namah
27
NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha
wighna winasa ya
Sarwa
satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
28
NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris
astawayang.
MANTRA
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang
Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang
Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun
hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang
inambian mwang sang inulapan.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
PAKELING
:
Sesampune puput
ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang ring
palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami. Munggwing pemargin nyane :
Banten
Bayakaone ring sor
Banten
Durmangalane ring madya
Banten
Prayascittane ring luhur
Banten
Pangulapane ring luhur-luhur.
Pangilenan nyane :
Kapertama
ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring
Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.
Sesampun
puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun
ring damuh Ida Bhatara, sadurunge puput ngayat/ngalinggihang Bhatara sami, lan
sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku
ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring damuh Ida Bhatara sami.
29
NGASTAWA
SURYA :
OM OM Padmasana ya namah
OM OM Anantasana ya namah
OM OM Dewa-Dewi pratistha
ya namah
OM Aditya
sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute
Sweta pangkaja mandhyaste,
Bhaskara dewa ya namo namah
OM Aditya
garbha pawana, Aditya dewa raja twam
Aditya twam gatir asi, Aditya
caksur ewa ca
OM Adityo
jata wedasa, Aditya janopa suryah
Surya rasmir Hrsi kesa, Surya
sattwam maha wiryam
OM Hrang
Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha
30
NGEMARGIANG PECARUAN :
Munggwing pemargin
pecaruane, mangdane kemargiang sesampune puput ngemargiang pangresikan lan
sampun puput ngastawa ka surya. Kariyinin antuk ngastawa :
AKASA
- STAWA :
OM Akasa nirmalam sunyam, Guru-dewa bhyo
mantaram
Siwa
nirwanam-wiryanam, Rekha Ong-kara wijayam
OM Meru-srengga-candra-lokam, Siwa-layam
murti-wiryam
Dhupam-bhuwanam
timiranca, Guru-dewa murti-wiryam
OM Dewa-dewa murti-bhuwanam, Wyomantaram
siwaditya
Candra-lokam
dhupam-bhuwanam, Guru-dewa murti-wiryam
OM OM
Akasa-wyoma-siwa ya namah swaha.
PRATHIWI – STAWA :
OM Prathiwi Sri-nam-dewam, Catur-dewi maha
wiryam
Catur-asrama
bhatari, Siwam-bhumi maha-siddyam-dewam
Ri-purwani
bhasundari, Siwa-patni putro-yoni
Uma-Dhurga-Gaangga-Gauri,
Indrani-Camundi-dewi
Brahma
bhatari Waisnawe, Komari-Gayatri-dewi
OM Sri-dewi ya namah swaha
31
MANTRANI
CARU :
Masarana
antuk beras kuning lan sekar, sebarakna ring Caru.
MANTRA :
OM Tang
Ang Ing Sang Bang Utat ya namah
OM Gmung
Ghana patye namah
OM Bang
Rajastra ya namah
OM Phat
phat
OM Ang
Surabala ya namah
OM Ung
Cikrabala ya namah
OM Mang
Iswarya ya namah
OM Sang
Bang Tang Ang Ing, Sarwa bhuta bhyo namah
32
NGASTAWA BHUTA KALA :
OM Krura raksasa rupan ca, Baibatsyam yo caya punah
Somya rupam
awapnoti, Twam wande waradam a-mum
OM Sweta Maheswara rupam, Brahma Bang kala warna sya
Pita Mahadewa
kala, Wisnu Kresna warna kala
OM Siwa Panca warna kala, Durgha bhuta warna sya
Tumwana kara ta
hityam, Panca ma kala warna sya
OM Bhuta Kala pratistha ya namah swaha.
33
PAKELING RING BHUTA :
OM Indah ta kita Sang Bhuta Tiga
Sakti, ring madya desannya, Bhatara Siwa dewatanya, Kliwon panca waranya.
Tumudun pwa sira kalawan sanak wadwanya sedaya. Iki tadah sajin nira, manusan
nira hangaturaken tadah caru ayam brumbum winolah winangun urip katekeng
saruntutan ipun, ajak wadwa balanya sedaya pada amukti sari saturan manusan
nira. Wus ta kita pada amangan anginum atetanjekan pwa sira, pamantuka pwa sira
maring dangkhyangan sira sowang-sowang. Haywa ta sira hamilara manusan nira.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
PUJI
BHUTA (Pajaya-jayan ring Bhuta):
OM Sukhatam kala pujitam, Kala sukha prayojanam
Senayam kala
pujitam, Sadasiwa maha kretam
OM Pujitam kala sukhatam, Kala kali kaprojnanam
Sarwa kala sukha
nityam, Sarwa wighna winasanam
OM Durgha dewi ma sariram, Kala kingkara moksatam
Kala mretyu punah
citram, Sarwa Wighna winasanam
OM Bhuta Kala pratistha ya namah swaha.
34
NGAYAB
CARU :
OM Bhuktyantu Durgha tangkaaram, Bhuktyantu
Kala ewaca
Bhuktyantu
Bhuta bhutanam, Bhuktyantu Pisaca sanggyam
OM Durgha loke bhoktya namah, Kala loke
bhoktya namah
Bhuta
loke bhoktya namah, Pisaca loke bhoktya namah swaha
OM
Ang Kang Kasolkaya swasti-swasti, sarwa bhuta kala predana purusa bhoktya namah
swaha
35
MANTRAN GELAR SANGA :
OM Indah
ta kita Sang Bhuta Dengen, iringan ingon-ingon Sang Hyang Pasupati, Sang Bhuta
Anggapati aranya. Kita angelingana sang Bhuta Sangha, iki mene kabhukti den
nira, iwak karangan, nasi pangkonan sinusunan sawung anyar, sajeng sakreci tan
sinaringan, pada kenak ta sira pada amuktya lawan sanak wadwanya sedaya.
OM Ang
Kang Kasolkaya swasti-swasti, sarwa bhuta kala predana purusa bhoktya namah
swaha
36
NGUNDUR BHUTA :
OM Kaki Presat Nini Presit, Kaki
Rabhyahsalit Nini Rabhyahsalit, undurakna bhutan ta dening doh, apan Gurun mu
hana ring kene, Sangkara pinaka guruning sarwa bhuta.
OM Sangkara bhuta ya namah swaha
37
NGALUKAT BHUTA :
OM Lukat sira sang bhuta Dengen
masurupan ring Sang Kalika
Lukat Sang Kalika
masurupan ring Bhatari Durgha
Lukat Bhatari Durgha
masurupan ring Bhatari Uma
Lukat Bhatari Uma
masurupan ring Bhatara Guru
Lukat Bhatara Guru
masurupan ring Sang Hyang Tunggal
Lukat Sang Hyang Tunggal
masurupan ring Sang Hyang Sangkan ning paran. Apan Ida Sang Sangkaning paran rat
kabeh siddha mawali paripurna.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
38
NGASTAWA BHATARA ( KAHYANGAN STAWA ) :
OM Indragiri
murti dewam, Loka natha jagat pati
Murti wiryam Ludra murti,
Sarwa jagat pawitranam
OM Indragiri
murtya lokam, Siwa murti Prajapati
Brahma
Wisnu Maheswaram, Sarwa jagat prawaksyamam
OM Surya
dewa Mahadewa, Siwa-agni teja maya
Siwa Durgha kali sira, Dewa
sarwa wisyantakam
OM Siwa
Yama Warunas ca, Siwa Pasu mregha paksi
Sarwa dewa Siwa dewa,
Guru-dewa Jagatpati
OM Giripati
murtya dewam, Loka sakti jagat sriya
Brahma Wisnu Maheswaram, Tri
Purusa murti dewam
39
NGASTAWA
BHATARA :
Iriki pangastawane mabina-binayan, manut
linggih/genah/upacara utawi Ista Dewata sane pacang keastawayang utawi
katedunan.
Yan ring :
Panti, Paibon utawi Mrajan, iki pangastawanya.
TIGA GURU STAWA :
OM Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri
lingganam
Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat
pawitranam
OM Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru
madyam
Guru pantaram dewam, Guru-dewa
suddha-atmakam
OM Brahma Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri
linggatmakam
Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa
rogha winasaya,
Sarwa wighna winasa nam.
OM Ang Ung Mang Paduka Guru bhyo namah swaha.
NGASTAWA BHATARA
KAWITAN ( RATU PASEK )
OM Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca
tirtham
Sapta
Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam
OM Ang Gong Gnijaya namah swaha
OM Ang Gnijaya jagat patya namah
OM Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas
ca,
De
Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.
OM OM
Panca Rsi Sapta Rsi paduka Guru bhyo namah swaha.
ATUR
PIUNING SAHA SEHA :
OM Pukulun paduka Bhatara
.................. .................. ........ ......... ............., Hulun
handa sih waranugrahan ri jeng pukulun paduka Bhatara, mangda ledang paduka
Bhatara tumedun pada malingga-malinggih ring pasamuan agung, kairing antuk
Dampati, sanak putunya, Widyadara-widyadari, Anglurahan agung-alit mwang kala
sedahan makabehan. Manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa hangaturaken
.................................... ri jeng paduka Bhatara sinamian, pahenaka
hyun paduka Bhatara pada malingga ring palinggyannya sowang-sowang.
OM Pranamya bhaskara dewam, Sarwa
klesa winasanam
Pranamya aditya siwartham,
Bhukti-mukti warapradam.
40
NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:
a. NGATURAN TOYA :
(
Nganggen tirtha sane ring sangkune ).
Wangsuh
cokor/pada : OM
Pang padya argha ya namah
Wangsuh
tangan : OM
Ang Argha dwaya namah
Toya kumur : OM
Jeng Jihwa suci nirmala ya namah
Toya araup : OM
Cang Camani ya namah
Asirat : OM
Ghrim ksama sampurna ya namah
b. NGATURAN PASUCIAN :
OM Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca
Hyastu sarwa to dewa-dewanam,
Hyastu dewa maha punyam ya namah
swaha.
c. NGATURAN PUSPA/SEKAR :
OM Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca
Puspantu sarwa to dewa-dewanam
Puspantu dewa maha punyam ya namah
swaha
d. NGATURAN TIGASAN :
OM Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca
Tigastu sarwa to dewa-dewanam
Tigastu dewa maha punyam ya namah
swaha
e. NGATURAN TOYA :
OM OM
Siwa-amretha ya namah
OM OM
Sadasiwa-amretha ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
41
APAKELING SAHA SEHA :
OM Pukulun
paduka Bhatara .............. ................... ........... ......... ............., Pada kenak hyun
paduka Bhatara pada malingga ring pasamuan agung. Manusan nira handa
hangaturaken sarining ........................., ledang paduka Bhatara pada
amukti sari saturan manusan nira, minawita kirang langkung saturan ipun den
ageng ampurane manusan nira. Alit kang sun hangaturaken agung pamilakunya,
hamilaku kadirghayusan. Pada kenak hyun paduka Bhatara pada anodya, hanyaksinin
mwang hamukti sari saturan manusan paduka Bhatara.
OM Siddhir astu tadastu astu ya
namah swaha.
42
NGANTEB SESAYUT :
OM Sangkepaning
pramanta, Negara sya muniwantam
Dewa samsthita yogante, Brahma
Wisnu Maheswaram
OM Pujasya
mantrasya, Tri-aksara maha kodratam
Brahmangga murcage yuktam,
Siwangga mantra matmakam
OM Panca
bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet
Dewa samsthita yogante, Brahma
Wisnu Maheswaram
43
UPASAKSI
:
OM Pukulun paduka Bhatara Siwa, Sadasiwa,
Paramasiwa mekadi sira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Ibu
Pretiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa
saksi, Kaki Bhagawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Bhagawan
Citragotra, Nini Bhagawan Citragotra, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki
Panyeneng, Nini Panyeneng.
Kajenengana denira Sang Hyang Tiga
Guru Wisesa, kasaksinin denira Sang Hyang Triyo dasa saksi, kewaranugraha
denira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha, manusan nira
hanembah hangaturaken ........................................... ri paduka
Bhatara. Pada kenak hyun paduka Bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamuputaken
saturan manusan nira, minawita kirang langkung saturan ipun den agung ampurane
manusan nira. Akedik kang sun hangaturaken, gung pamilakunya, hamilaku
kadirghayusan. Ledang paduka Bhatara wehana waranugraha dumugi tan kakenaning
hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang Sinuhun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
44
NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA :
OM Parama
Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah
Siwa sya pranato nityam,
Candis ca ya namo”stute
OM Niwedhya
Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram
Sarwa bhakti nala bhatyam,
Sarwa karya prasiddhantam
OM Jayarti
jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti
Siddhi sakala ma pnuyat,
Parama Siwa ya labhatyam.
OM Nama
Siwa ya namah swaha
45
NGEMARGIANG SESARIK :
Sesampune
puput nganteb bebanten ne, raris margiang sesarik nyane ring palinggihe sami.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.
46
NGAYAB BEBANTEN (ngayab ke luhur).
OM Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca
Bhuktyantu dewas
ca, Bhuktyantu sarwa to dewam
OM Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha
Saganah sapari
warah, Sawarga sada siddhis ca
OM Dewa bhoktya laksana ya namah
OM Dewa treptyantu laksana ya namah
OM Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha
47
NGAYABIN
PRAS :
OM Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara
Purwa pras
prasiddha rahayu.
48
NGAKSAMA :
Sesampune
puput ngemargiang pailen-ilen pujawaline sekadi menggah ring ajeng, raris
kelanturin antuk ilen-ilen muspa/ngaturan sembah. Sesampun puput ngaturan
sembah, kaping untad dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja
pangaksama sane menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin
nyineb Bajra:
OM
OM Atma-tattwama suddham swaha
OM OM Ksma sampurna ya namah swaha
OM
OM Sarwa dewa somya ya namah
swaha
GAGLARAN
PAMANGKU RIKALA NGAWALININ
PAKALA-KALAN PAWIWAHAN.
Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara,
hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau
perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :
g. Sebuah bokoran/nare
h. Sebuah Sangku/tempat tirtha
i.
Bunga
warna-warni secukupnya
j.
Beras/wija
secukupnya
k. Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian
l.
Dhupa
secukupnya.
Semua itu sebagai perlengkapan
para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).
Sebelum para Pemangku memulai
suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih
dahulu seperti tahapan dibawah ini :
1.
MASILA DEN APNED :
OM OM Padmasana ya namah
OM ANG Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya
namah
2.
MEMBERSIHKAN TANGAN :
KANAN : OM
Suddha mam swaha
KIRI : OM Ati Suddha mam swaha
3.
PRANAYAMA :
RING HATI : OM ANG
Brahma ya namah
RING AMPRU : OM
UNG Wisnu ya namah
RING
PAPUSUH : OM MANG
Iswara ya namah
4.
MENGHATURKAN DHUPA :
OM ANG
Brahma-amretha dhipa ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha dhipa ya namah
OM MANG
Iswara-amretha dhipa ya namah
5.
METABUH ARAK/BEREM :
OM ANG
KANG Kasol kaya swasti-swasti
sarwa bhuta kala bokta ya namah
6.
MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.
OM Ghrim wausat ksama sampurna ya namah
7.
NGUTPETI TOYA RING SANGKU :
OM I
BA SA TA A
OM YA
WA SI MA NA
OM MANG
UNG ANG
8.
PADMASANA RING TOYA :
OM OM
Padmasana ya namah
OM OM
Anantasana ya namah
9.
DEWA PRATISTHA :
OM OM
Dewa-Dewi pratistha ya namah
10.SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa adhitya ya namah
11.
STHITI KANG TOYA :
OM SA
BA TA A I, OM NA
MA SI WA YA
OM ANG
UNG MANG
12.
SEMBAH SIWA AMRETHA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa-amretha ya
namah
13.
ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.
OM Puspa dhanta ya namah (sekar)
OM Sri
Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)
OM Kung kumara wija ya namah (bija/beras)
OM Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)
14.
NEDUNAN BHATARA TIRTHA :
OM Gangga
dewi maha punyam, Gangga salanca medini
Gangga
tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah
OM Sri
Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani
Ongkara Aksara
jiwatam, Tadda-amretha manoharam
OM Utpeti
ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca
Utpeti sarwa
hitan ca, Utpeti sri wahinam ya namah swaha
Raris uder kang toya
ping tiga, saha uleng ning kahyun.
MANTRA :OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai tirtha pawitrani Ya namah swaha.
Risampune
puput Nedunan Bhatara Tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi
menggah ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.
MANTRA : OM
ANG Brahma-amretha ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha ya namah
OM MANG
Iswara-amretha ya namah
15.
RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :
MANTRA :
OM Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa
winasa ya
Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha
winasa ya namah
NGREMEKIN
BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari
manise tengen/kanan.
MANTRA : OM Bang
Bamadewa guhya ya namah
OM Bhur
Bwah Swah amretha ya namah
APASANG BIJA :
Ring sirah : OM Ing Isana ya namah
Ring lelata : OM Tang Tatpurusa ya namah
Ring tangkah
: OM Ang Aghora ya namah
Ring bahu kanan : OM
Bang Bamadewa ya namah
Ring bahu kiri
: OM Sang Sadya ya namah
16.
NGASTAWA BAJRA :
Sadurunge
ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris
ngaskara.
MANTRA :
OM Kara
Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah
Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha
prakasyate
OM Ghanta sabdha mahasrestah, Ongkara
parikirtitah
Candra nada bhindu drestham,
Spulingga siwa twam ca
OM Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bhawa
karmesu
Warada labdha sandeham, Wara siddhi
nih samsayam
NGASKARA :
OM OM
OM (maklener apisan)
OM ANG
UNG MANG (malih maklener)
OM Ang
Kang Kasolkaya Iswara ya
namah
(malih maklener),
tur nglantur
nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah
ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.
17.
NGAKSAMA :
OM Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang karah
Mamoca sarwa papebhyah,
Phalaya swa sadasiwa
OM Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
Trahimam pundari
kaksah, Sambhahya byantara suci
OM Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
Ksantawyo manaso
dosah, Tat pramadat ksama swamam
NUNAS WARANUGRAHA :
OM Anugraha
manoharam, Dewa datta nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah
sarwa nugrahakam
OM Dewa-dewi
maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddhisca dirgahayu,
Nirwighna sukha wredhis ca
OM Anugraha ya namah swaha.
Sesampune puput
nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk puspa,
sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.
18.
APSU
DEWA STAWA :
OM Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo’stute
Sarwa klesa winasa
ya, Toyane parisuddhaya te
OM Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat
Sarwa petaka
winasa ya, rogha dosa winasa ya
OM Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam
Siwa-lokam maha-yaste,
mantre manah papa-kelah
OM Siddhim
tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar
Siwa-amretha manggalan
ca, Nadinidam namah siwa ya
PANCA-AKSARA STAWA :
OM Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa
nasanam
Papa kotti sahasranam, Aghandam
bhawet sagaram
OM Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa
nasanam
Mantram tam parama-jnanam, Siwa
logham pratisthanam
OM Namah siwa ya etyewam, Param Brahman
atmane wandam
Param sakti panca diwyah, Panca Rsi
bhawed agni
OM A-karas ca
U-karas ca, Ma-karo windu nada kam
Panca-aksara maya proktam, Ongkara
agni mantrake
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah swaha maha ganggayai
tirtha pawitrani Ya namah swaha.
Risampune
puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng.
19.
GANGGA SINDHU STAWA :
OM Gangga sindhu saraswati, Suyamuna godhawari
Kaweri sarayu
mahendra, Tenaya carma wati wai nuka
OM Badra netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah
Purnam jalah samudra sahitah,
Kurwantu te manggalam
20.
GANGGA DEWI STAWA :
OM Gangga dewi namaskaram, Ongkara parikirtitah
Sarwa wighna
winasyanti, Sarwa rogha winasa ya
21.
NGURIPANG TIRTHA :
OM Hrang
Hring Sah Ksmung
Ang Ung Mang
OM Swasti-swasti
ksing-ksring, YA WA SI MA NA,
I BA SA TA A, Bhutih-bhutih
bhur bwah swah swaha
OM Ang Ing
Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng
OM OM I
A KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah swaha
OM OM A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG namo namah
swaha
22.
SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha
23.
NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA :
( PANGLUKATAN ) :
OM Gangga muncar saking purwa, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira selaka, Tinanceban
tunjung petak
Padyusan nira Bhatara Iswara,
Pangilanganing papa klesa
Moksah hilang, OM
SANG ya namah.
OM Gangga muncar saking daksina, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira Tembaga, Tinanceban
tunjung bang
Padyusan nira Bhatara Brahma,
Pangilanganing sarwa wighna
Moksah hilang, OM
BANG ya namah.
OM Gangga muncar saking pascima, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira mas, Tinanceban
tunjung jenar
Padyusan nira Bhatara
Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang, OM
TANG ya namah.
OM Gangga muncar saking utara, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira wesi, Tinanceban
tunjung ireng
Padyusan nira Bhatara Wisnu, Pangilanganing
sarwa satru
Moksah hilang, OM
ANG ya namah.
OM Gangga muncar saking madya, Tiningalana
telaga noja
Jambangan nira amanca
warna, Tinanceban tunjung amanca warna, Padyusan nira Bhatara Siwa,
Pangilanganing dasa mala
Moksah hilang, OM ING ya namah.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.
MANTRA :
OM Atma-tattwatma
suddha ya mam swaha
OM Pretama
suddha, dwitya suddha, tritya suddha,
caturti suddha.Suddha,
suddha, suddha wari astu ya namah.
Sesampune
puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.
MANTRA :
OM Atma
tatwa-atma suddha mam swaha
OM OM Ksama sampurna ya namah
OM Sri
Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.
24.
ANGLUKAT BEBANTEN :
OM Pukulun Hyang-Hyang ning Prana-prani, Hyang-Hyang ning Sarwa
Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan nira, handa tirtha
panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa malaning bebanten
kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening
wong camah, kaporod dening wek, kacaruban, karereban ya ta kaprayascitta denira
Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha
paripurna.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
25.
NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :
Tirtha sane
ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.MANTRA
:
OM Antiganing sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa petaka.
OM Bang
Bamadewa
OM Dewa
Bayu angiberaken lara rogha wighna
OM Sah
wausat ya namah swaha
OM Sang
bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta
nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna
OM Ksama
sampurna ya namah.
26.
NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Mretyun
ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa
Papa mretyu sangkara,
Sarwa kala kalika syah
Wigraha ngawipada,
Susupna durmangala
Papa krodha winasa ya,
Sarwa wighna winasa ya namah
27.
NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha
wighna winasa ya
Sarwa
satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
28.
NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris
astawayang.
MANTRA
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang
Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang
Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun
hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang
inambian mwang sang inulapan.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
PAKELING
:
Sesampune
puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang
ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami. Munggwing
pemargin nyane :
Banten
Bayakaone ring sor
Banten
Durmangalane ring madya
Banten
Prayascittane ring luhur
Banten
Pangulapane ring luhur-luhur.
Pangilenan nyane :
Kapertama
ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring
Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.
Sesampun
puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun
ring damuh Ida Bhatara, sadurunge puput ngayat/ngalinggihang Bhatara sami, lan
sampun puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku
ngemargiang eteh-eteh pangresikane ring damuh Ida Bhatara sami.
29. SMARA RATIH-STAWA:
Dewa-dewi
sayogaya, Paramasiwa ya nmah swaha.
Kamo dhanawati patni,
madani-madana thata.
Kandrpa Somawatis ca,
Sri Jayani ca manmatah.
Om,
Atanur nandini patni,
Manasi jas ca tarini.
- TIGA
GURU-STAWA:
OM Dewa-dewi Tri Dewanam, Tri murti tri
lingganam
Tri Purusa murti dewam, Sarwa jagat
pawitranam
OM Guru rupam guru dewam, Guru purwam Guru
madyam
Guru pantaram dewam, Guru-dewa
suddha-atmakam
OM Brahma Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri
linggatmakam
Sarwa jagat pratisthanam, Sarwa
rogha winasaya,
Sarwa wighna winasa nam.
OM Ang Ung Mang Paduka Guru bhyo namah swaha.
31. PAKELING SAHA SEHA:
OM
Pukulun Sang Hyang Predhan Purusa makadi sira Sang Hyang Smara Ratih, manusan
nira handa sih waranigrah ri sira, anembah angadakaken yadnya pakala-kalan nira
sang apawiwahan, ledang hyun paduka Bhatara padha tumedun padha
manlingga-malinggih ring rwaning kukus harum. Anodya hanyaksinin mwah
hamuputaken yadnyan nira manusan paduka Bhatara.
Prenamya-aditya
siwartam, Bhukti-mukti wara-pradam.
34. NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:
a. NGATURAN TOYA :
(
Nganggen tirtha sane ring sangkune ).
Wangsuh
cokor/pada : OM
Pang padya argha ya namah
Wangsuh
tangan : OM
Ang Argha dwaya namah
Toya kumur : OM
Jeng Jihwa suci nirmala ya namah
Toya araup : OM
Cang Camani ya namah
Asirat : OM
Ghrim ksama sampurna ya namah
b. NGATURAN PASUCIAN :
OM Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca
Hyastu sarwa to dewa-dewanam,
Hyastu dewa maha punyam ya namah
swaha.
c. NGATURAN PUSPA/SEKAR :
OM Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca
Puspantu sarwa to dewa-dewanam
Puspantu dewa maha punyam ya namah
swaha
d. NGATURAN TIGASAN :
OM Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca
Tigastu sarwa to dewa-dewanam
Tigastu dewa maha punyam ya namah
swaha
e. NGATURAN TOYA :
OM OM
Siwa-amretha ya namah
OM OM
Sadasiwa-amretha ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
35. .HATUR PAKELING PAKALA-KALAN PAWIWAHAN:
OM Pukulun Sang Hyang Predhana Purusa, Sang
Hyang Akas, Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana,
makadi sira Sang Hyang Triyodasasaksi. Manusan nira handa sih waranugraha
pukulun, manusan ira anemu-aken jatu-karman ipun, wet tinuduh den nira Hyang
kamajaya Kamaratih, maka tungtunging janma padha, hamangguhaken rasaning dumadi
janma. Manusa nira handa tirtha-amretha, pangleburan, pangilanganing sarwa
leteh, sebel kandel, malaning Kamajaya Kamaratih, mogha Bhatara hasung nugraha,
enaking alakirabhi, anutugaken Kaman-ipun, ngawreddhyaken kadirghayusan. Tan
kahalangan tan kabancana dening sarwa bhuta kala dengen, lawan sakriyopayaning
wang hala. Apan sampun paduka Bhatara wus angadeg anyaksinin.
36. NGATURAN TATEBASAN BYAKALA:
Somya-rupam awa-pnoti,
Twam wande waradam amum.
OM Pukulun sang kala-kali sedaya, sira
reka pukulun angluwaraken sakwehing kala-kali hana ring awak sarirn-ipun
manusan nira, punki Pabyakalan ipun ka-atur ring sang Kala-kala sedaya, sira
angluwaraken sakwehing Kala Kacarik, Kala Pati, Kala Kapekpek, Kala Kapengpeng,
Kala Cangkingan, Kala Durbala-durbali, Kala Brahma, mwah sakwehing Kala-kali
han ring awak sariran nira sang apawiwahan, sang alakirabhi, Wruh pwa sira
Hyang-hyanging awak saniranya, kajenengana den nira Sang Hyang Purusangkara,
kasaksinin den nira Sang Hyang Triyodasasaksi, lah maruwaten ta sir, mundura ta
sira sang Kala-kali maring awak sariran nira sang alakirabhi, tunggunen den
bayu preman anutugaken tuwuh ipun amangguhaken dirghayusa.
37. UPASAKSI :
OM Pukulun paduka Bhatara Siwa, Sadasiwa,
Paramasiwa mekadi sira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Akasa mwang Ibu
Pretiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa
saksi, Kaki Bhagawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki Bhagawan
Citragotra, Nini Bhagawan Citragotra, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki
Panyeneng, Nini Panyeneng.
Kajenengana denira Sang Hyang Tiga
Guru Wisesa, kasaksinin denira Sang Hyang Triyo dasa saksi, kewaranugraha
denira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha, manusan nira
hanembah angadakaken yadnya Pakala-kala sang apawiwahan. Pada kenak hyun paduka
Bhatara anodya, hanyaksinin mwang hamuputaken saturan manusan nira, minawita
kirang langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Akedik kang sun
hangaturaken, gung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Ledang paduka Bhatara
wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira
Hyang Sinuhun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
38.. NGANTEB ANTUK
TRIBHUWANA-STAWA:
OM Parama
Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah
Siwa sya pranato nityam,
Candis ca ya namo”stute
OM Niwedhya
Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram
Sarwa bhakti nala bhatyam,
Sarwa karya prasiddhantam
OM Jayarti
jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti
Siddhi sakala ma pnuyat,
Parama Siwa ya labhatyam.
OM Nama
Siwa ya namah swaha
39.
NGANTEB BANTEN PANGAMBIAN:
OM Pukulun
Sang Hyang Sapta patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Bhesrawana, Sang
Hyang Preman, makadi sang Hyang Urip, sir amgehaken ri sthann nira
sowing-sowang, pakenaning hulun hangawruha ri sira handa raksanen den rahayu,
haneda urip warasa dirghayusa sang
nginambian.
bayu
akasa premanam,
40. NGAYAB KA LUHUR:
Ngayab kaluhur karihinin antuk ngayab ring sanggar Surya, wus punika wawu
ngayab kaluhur ring banten pakala-kalane.
Mantra:
Bhuktyantu srwato Dewa-dewanca.
Bhukti
trepti sarwa banten ya namah sawha.
Purwa pras prasiddha sidhi rhayu.
41. NGAYAB
CARU PAKAL-KALAN:
Bhuktyantu
Bhuta bhutanam, bhuktyantu Pisaca sanggyam.
42. Sesampune puput ngastawayang
upacara pakala-kalane antuk dane Mangku, raris kon sang apwiwahan natab
upakarane, kariyinin antuk natab Banten Bayakaone dumun ring cokor-cokor, wus
punika natab banten Durmangala ring tngkah, raris natab Banten Prayascitane
ring muka/prerai, kelanturan antuk natab banten Pangulapane, tatab ring
Siwadwara, dumogi siddha pepek paripurna bayu premananing sang apwowahan.
Sesampune
puput natab upakara pangresikane sami, wawu raris sang mapwiwahan ngaturan
sembah pangubhakti.
Sesampune
puput ngaturan sembah pangubhakti, sesampune puput matirha, raris natab banten
Tatebasan Byakalane, wus punika natab banten Ayabane (Ngambe bayu premanning
sangmapawiwahan).
GAGLARAN PAMANGKU NGILENIN UPACARA
WULAN SAPTA HERI (Bulan Pitung dina)
Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara,
hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau
perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :
m. Sebuah Bokoran/nare
n. Sebuah Sangku/tempat tirtha
o. Bunga warna-warni secukupnya
p. Beras/wija secukupnya
q. Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian
r.
Dhupa
secukupnya.
Semua itu sebagai perlengkapan
para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).
Sebelum para Pemangku memulai
suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih
dahulu seperti tahapan dibawah ini :
1. MASILA DEN APNED :
OM OM Padmasana ya namah
OM ANG Prasada sthiti sarira siwa suci nirmala ya
namah
2. MEMBERSIHKAN TANGAN :
KANAN : OM
Suddha mam swaha
KIRI : OM Ati Suddha mam swaha
3. PRANAYAMA :
RING HATI : OM ANG
Brahma ya namah
RING AMPRU : OM
UNG Wisnu ya namah
RING PAPUSUH : OM
MANG Iswara ya namah
4. MENGHATURKAN DHUPA :
OM ANG
Brahma-amretha dhipa ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha dhipa ya namah
OM MANG
Iswara-amretha dhipa ya namah
5. METABUH ARAK/BEREM :
OM ANG
KANG Kasol kaya swasti-swasti
sarwa bhuta kala bokta ya namah
6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.
OM Ghrim wausat ksama sampurna ya namah
7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :
OM I
BA SA TA A
OM YA
WA SI MA NA
OM MANG
UNG ANG
8. PADMASANA RING TOYA :
OM OM
Padmasana ya namah
OM OM
Anantasana ya namah
9. DEWA PRATISTHA :
OM OM
Dewa-Dewi pratistha ya namah
10. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa adhitya ya namah
11. STITI KANG TOYA :
OM SA
BA TA A I
OM NA
MA SI WA YA
OM ANG
UNG MANG
12. SEMBAH SIWA AMRETHA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa-amretha ya
namah
13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.
OM Puspa dhanta ya namah (sekar)
OM Sri
Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)
OM Kung kumara wija ya namah (bija/beras)
OM Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)
14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :
OM Gangga
dewi maha punyam, Gangga salanca medini
Gangga tarangga samyuktam,
Gangga dewi namu namah
OM Sri
Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani
Ongkara Aksara jiwatam,
Tadda-amretha manoharam
OM Utpeti
ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca
Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti
sri wahinam ya namah swaha
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani Ya
namah swaha.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.
MANTRA : OM
ANG Brahma-amretha ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha ya namah
OM MANG
Iswara-amretha ya namah
15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :
MANTRA :
OM Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa
winasa ya
Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha
winasa ya namah
NGREMEKIN
BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari
manise tengen/kanan.
MANTRA : OM Bang
Bamadewa guhya ya namah
OM Bhur
Bwah Swah amretha ya namah
APASANG BIJA :
Ring sirah : OM Ing Isana ya namah
Ring lelata : OM Tang Tatpurusa ya namah
Ring tangkah : OM Ang Aghora ya namah
Ring bahu kanan : OM
Bang Bamadewa ya namah
Ring bahu kiri : OM Sang Sadya ya namah
16. NGASKARA BAJRA :
Sadurunge
ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris
ngaskara.
MANTRA :
OM Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang
karah
Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate
OM Ghanta
sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah
Candra nada bhindu
drestham, Spulingga siwa twam ca
OM Ghantayur
pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu
Warada labdha sandeham,
Wara siddhi nih samsayam
NGASKARA :
OM OM
OM (maklener apisan)
OM ANG
UNG MANG (malih maklener)
OM Ang
Kang Kasolkaya Iswara ya
namah (malih maklener),
tur nglantur
nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah
ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.
17. NGAKSAMA :
OM Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang
karah
Mamoca sarwa
papebhyah, Phalaya swa sadasiwa
OM Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
Trahimam pundari
kaksah, Sambhahya byantara suci
OM Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
Ksantawyo manaso
dosah, Tat pramadat ksama swamam
NUNAS WARANUGRAHA :
OM Anugraha
manoharam, Dewa datta nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah
sarwa nugrahakam
OM Dewa-dewi
maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddhisca dirgahayu,
Nirwighna sukha wredhis ca
OM Anugraha ya namah swaha.
Sesampune
puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk
puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.
18. APSU
DEWA STAWA :
OM Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute
Sarwa klesa winasa
ya, Toyane parisuddhaya te
OM Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam
ewapnuyat
Sarwa petaka
winasa ya, rogha dosa winasa ya
OM Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam
Siwa-lokam maha-yaste,
mantre manah papa-kelah
OM Siddhim
tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar
Siwa-amretha manggalan
ca, Nadinidam namah siwa ya
PANCA-AKSARA STAWA :
OM Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa
nasanam
Papa kotti sahasranam, Aghandam
bhawet sagaram
OM Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa
nasanam
Mantram tam parama-jnanam, Siwa logham
pratisthanam
OM Namah siwa ya etyewam, Param Brahman
atmane wandam
Param sakti panca diwyah, Panca Rsi
bhawed agni
OM A-karas ca
U-karas ca, Ma-karo windu nada kam
Panca-aksara maya proktam, Ongkara
agni mantrake
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA :
OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani
Ya
namah swaha.
Risampune
puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng.
19. GANGGA SINDHU STAWA :
OM Gangga
sindhu saraswati, Suyamuna godhawari
Kaweri sarayu mahendra, Tenaya
carma wati we nuka
OM Badra
netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah
Purnam jalah samudra sahitah,
Kurwantu te manggalam
20. GANGGA DEWI STAWA :
OM Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah
Sarwa wighna
winasyanti, Sarwa rogha winasa ya
21. NGURIPANG TIRTHA :
OM Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang
OM Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,
I BA SA TA A,
Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha
OM Ang
Ing Ung, Wyong Mang Wyang Ping
Neng
OM
OM I A KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
OM
OM A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
22. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha
Sawusan
muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane,
satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.
23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA :
( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami kagenahng
ring tirtha penglukatane.
OM Gangga
muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira selaka,
Tinanceban tunjung petak
Padyusan nira Bhatara
Iswara, Pangilanganing papa klesa
Moksah hilang, OM
SANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira Tembaga,
Tinanceban tunjung bang
Padyusan nira
Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang, OM
BANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira mas,
Tinanceban tunjung jenar
Padyusan nira
Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang, OM
TANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking utara, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira wesi,
Tinanceban tunjung ireng
Padyusan nira
Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang, OM
ANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking madya, Tiningalana telaga noja
Jambangan
nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa,
Pangilanganing dasa mala
Moksah hilang,
OM ING ya namah.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.
MANTRA :
OM Atma-tattwatma
suddha ya mam swaha
OM Pretama suddha, dwitya suddha, tritya
suddha, caturti suddha. Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.
Sesampune
puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.
MANTRA :
OM Atma
tatwa-atma suddha mam swaha
OM OM Ksama sampurna ya namah
OM Sri
Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.
24. ANGLUKAT BEBANTEN :
OM Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani,
Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan
nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa
malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening
ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira
Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha
paripurna.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :
Tirtha sane
ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.
MANTRA :
OM Antiganing
sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa
petaka. OM Bang Bamadewa
OM Dewa
Bayu angiberaken lara rogha wighna
OM Sah
wausat ya namah swaha
OM Sang
bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta
nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna
OM Ksama
sampurna ya namah.
26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Mretyun
ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa
Papa mretyu sangkara,
Sarwa kala kalika syah
OM Wigraha
ngawipada, Susupna durmangala
Papa krodha winasa ya,
Sarwa wighna winasa ya namah
27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha
wighna winasa ya
Sarwa
satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata,
Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi
Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun
hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang
inambian mwang sang inulapan.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
PAKELING :
Sesampune
puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang
ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.
Munggwing pemargin nyane :
Banten Bayakaone ring sor
Banten
Durmangalane ring madya
Banten
Prayascittane ring luhur
Banten
Pangulapane ring luhur-luhur.
Pangilenan nyane :
Kapertama
ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring
Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.
Sesampun
puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun
ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun
puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang
eteh-eteh pangresikane ring sang rare.
29. NGASTAWA
SURYA :
OM OM Padmasana ya namah
OM OM Anantasana ya namah
OM OM Dewa-Dewi pratistha
ya namah
OM Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute
Sweta
pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah
OM Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam
Aditya twam gatir
asi, Aditya caksur ewa ca
OM Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah
Surya rasmir Hrsi kesa, Surya sattwam maha wiryam
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha
30. NGASTAWA SANG HYANG AGNI/ BRAHMA :
OM Namaste
Bhagawan Agni, namaste Bhagawan Hari,
Namaste Bhagawan Isa,
Sarwa bhaksa Utasana.
OM Tri-warno
Bhagawan Agni, Brahma Wisnu Maheswarah,
Santikam paustikam
caiwa, Raksanan ca bhicarukam.
OM Anujnanam
kretam loke, Saubhagyam priya darsanam,
Yat kancit sarwa
karyanam, Siddhir ewa na samsayah.
OM Brahma
Praja-pati srestah, Swayambhur warado guruh,
Padma yoni catur waktro,
Brahma sakalam u-cyate.
OM Rang
Wi-Pataye Praja-pati ya namah,
OM Ang,Ung,
Mang, Parama tri-sakti ya namah.
31. NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA
OM Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu
Halungguh
ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha,
Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep,
Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi
OM OM
Sri Jagat Guru paduka ya namah.
33 ATUR
PIUNING SAHA SEHA
OM Pukulun Bhatara Sang Hyang Tri Agni,
makadi sira Sang Hyang Brahma, manusan nira haneda sih waranugraha ri sira,
apan sira Sang Hyang Utasana masrira sarwa bhaksa wenang angruwat sehananing
sebel kandel, lara rogha wighnaning si bajang bayi, ledang paduka Bhatara
tumedun melingga ring sarining kukus harum, apan si bajang bayi wus awulan
sapta heri mangke, handa sih waranugraha ri sira. Padha kenak hyun paduka
Bhatara kairing antuk dampati, sanak
putunya, anglurahan agung alit, mwah kala sedhahan makabehan, padha anodya,
anyaksinin mwang amukti saturan manusan nira.
OM Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa
winasanam
Prenamya
aditya-siwartham, Bhukti-mukti wara pradam.
34 NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:
f. NGATURAN TOYA :
( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).
Wangsuh
cokor/pada : OM Pang padya argha ya namah
Wangsuh
tangan : OM Ang Argha dwaya namah
Toya kumur : OM Jeng Jihwa suci nirmala ya namah
Toya araup : OM Cang Camani ya namah
Asirat : OM Ghrim ksama sampurna ya namah
g. NGATURAN PASUCIAN :
OM Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca
Hyastu sarwa to dewa-dewanam,
Hyastu dewa maha punyam ya namah
swaha.
h. NGATURAN PUSPA/SEKAR :
OM Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca
Puspantu sarwa to dewa-dewanam
Puspantu dewa maha punyam ya namah
swaha
i.
NGATURAN
TIGASAN :
OM Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca
Tigastu sarwa to dewa-dewanam
Tigastu dewa maha punyam ya namah
swaha
j.
NGATURAN
TOYA :
OM OM
Siwa-amretha ya namah
OM OM
Sadasiwa-amretha ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
35 GASTAWA SANG CATUR SANAK :
OM Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra,
sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan,
makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu
Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir.
Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan
sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.
36 NGASTAWA BAJANG :
OM Sang Korsika, Sang Gharga, Sang Metri,
Sang Kursya, Sang Pretanjala. I
Malipa, I Malipi, pinaka Bapa Bajang Babu Bajang, Bajang Toya, Bajang Dodot, Bajang
Simbuh, Bajang Julit, Bajang Yuyu, Bajang Sapi, Bajang Kebo, Bajang papah,
Bajang Kalong,Bajang Bungseng mwang sakwehing ingaraning Bajang.
Wusing pada amukti mulih
ta kita maring desanira.
Syah, Syah, Syah.
37. NGASTAWA PANGAMBIAN :
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala,
Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika,
Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira
sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu,
urip waras dirghayusa sang inambian.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
38.
NGANTEB BANTEN SOROHAN :
OM Pukulung Sang Siwa Catur Mukha
Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha,
makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang
Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
39. UPASAKSI
YADNYA
OM Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang
Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang
Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang
Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki
Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng,
Nini Panyeneng.
Kajenengana den nira Sang
Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi,
kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha
pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya awulan sapta heri sira si Bajang Bayi.
Ledang paduka bhatara pada
anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun
hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang
langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara
wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira
Hyang Sinuhun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
40. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA
:
OM Parama
Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah
Siwa sya pranato nityam,
Candis ca ya namo”stute
OM Niwedhya
Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram
Sarwa bhakti nala bhatyam,
Sarwa karya prasiddhantam
OM Jayarti
jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti
Siddhi sakala ma pnuyat,
Parama Siwa ya labhatyam.
OM Nama Siwa ya namah swaha
41. NGAYAB
BEBANTEN (ngayab ke luhur).
OM Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca
Bhuktyantu dewas
ca, Bhuktyantu sarwa to dewam
OM Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha
Saganah sapari
warah, Sawarga sada siddhis ca
OM Dewa bhoktya laksana ya namah
OM Dewa treptyantu laksana ya namah
OM Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha
42. NGAYABIN PRAS :
OM Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara
Purwa pras
prasiddha rahayu.
43. PANGILEN :
Sesampun puput, raris dane mangku natabin sang rare banten pangresikan
nyane. Kapertama tatabin banten bayakaone, kaping kalih tatabin banten
durmangalane, kaping tiga tatabin banten prayascittane, kaping empat tatabin
raris banten pangulapane, raris malukat saha eteh-eteh nyane sami kemargiang. Rawuhing
bapa ibunya sareng binresihan, taler ring bajang colong nyane.
44. NGATURAN SEMBAH :
Munggwing dudonan ngaturan sembah,
mangdane manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan
upakara lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli
raris tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara Brhma, picayang ring sang rare.
45. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :
Sesampun puput ngaturan
sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.
WEHANA SESARIK :
Ring muka/rahi : OM
Sri Sri yawe namah
Ring Bahu kanan : OM
Anengenaken bagia phula kreti
Ring Bahu kiwa : OM
Angiwakakna pancabaya lara rogha
Ring Punuk : OM Angungkurana sot papahing wong
Ring Bahong : OM Angarepaken bagya phula kreti pasesangon
Ring Tangkah : OM Anganti-nganti sabdha rahayu
Ring Tangan kalih : OM
Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga
WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :
MANTRAN TETEBUS :
OM Kawelasana den nira sang adi-dumadi
Kawelasana den
nira Sang ngawewehan, sang apiturun
Kawelasana den
nira Bhatara mwang manusa,
Saking lor saking kidul, welas asih ring
ipun sang mawoton
PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring
Siwadwara, ring Karna.
MANTRA :
OM Wehaning raga dirghayusa, langgenganing
angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
46. NGAKSAMA :
Kaping untad
dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane
menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara
masineb.
MANTRAN PANYINEB :
OM
OM Atma-tattwatma suddha mam
swaha.
OM
OM Ksama sampurna ya namah swaha
OM OM Sarwa dewa somya ya namah swaha
TUNTUNAN PEMANGKU DIDALAM MELAKSANAKAN YADNYA.
. YADNYA NIGANG SASIHAN.
Didalam
melaksanakan suatu yadnya/upacara, hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu
mempersiapkan alat-alat atau perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan
seperti :
s. Sebuah Bokoran/nare
t.
Sebuah
Sangku/tempat tirtha
u. Bunga warna-warni secukupnya
v. Beras/wija secukupnya
w. Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian
x. Dhupa secukupnya.
Semua itu sebagai perlengkapan
para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).
Sebelum para Pemangku memulai
suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih
dahulu seperti tahapan dibawah ini :
1. MASILA DEN APNED :
OM OM Padmasana ya namah
OM ANG Prasada sthiti sarira siwa
suci nirmala ya namah
2. MEMBERSIHKAN TANGAN :
KANAN : OM
Suddha mam swaha
KIRI : OM Ati Suddha mam swaha
3. PRANAYAMA :
RING HATI : OM ANG
Brahma ya namah
RING AMPRU : OM
UNG Wisnu ya namah
RING PAPUSUH : OM
MANG Iswara ya namah
4. MENGHATURKAN DHUPA :
OM ANG
Brahma-amretha dhipa ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha dhipa ya namah
OM MANG
Iswara-amretha dhipa ya namah
5. METABUH ARAK/BEREM :
OM ANG
KANG Kasol kaya swasti-swasti
sarwa bhuta kala bokta ya namah
6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.
OM Ghrim wausat ksama sampurna ya namah
7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :
OM I
BA SA TA A
OM YA
WA SI MA NA
OM MANG
UNG ANG
8. PADMASANA RING TOYA :
OM OM
Padmasana ya namah
OM OM
Anantasana ya namah
9. DEWA PRATISTHA :
OM OM
Dewa-Dewi pratistha ya namah
10. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa adhitya ya namah
11. STITI KANG TOYA :
OM SA
BA TA A I
OM NA
MA SI WA YA
OM ANG
UNG MANG
12. SEMBAH SIWA AMRETHA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa-amretha ya
namah
13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.
OM Puspa dhanta ya namah (sekar)
OM Sri
Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)
OM Kung kumara wija ya namah (bija/beras)
OM Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)
14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :
OM Gangga
dewi maha punyam, Gangga salanca medini
Gangga tarangga samyuktam,
Gangga dewi namu namah
OM Sri
Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani
Ongkara Aksara jiwatam, Tadda-amretha
manoharam
OM Utpeti
ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca
Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti
sri wahinam ya namah swaha
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani Ya
namah swaha.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.
MANTRA : OM
ANG Brahma-amretha ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha ya namah
OM MANG
Iswara-amretha ya namah
15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :
MANTRA :
OM Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa
winasa ya
Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha
winasa ya namah
NGREMEKIN
BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari
manise tengen/kanan.
MANTRA : OM Bang
Bamadewa guhya ya namah
OM Bhur
Bwah Swah amretha ya namah
APASANG BIJA :
Ring sirah : OM Ing Isana ya namah
Ring lelata : OM Tang Tatpurusa ya namah
Ring tangkah : OM Ang Aghora ya namah
Ring bahu kanan : OM
Bang Bamadewa ya namah
Ring bahu kiri : OM Sang Sadya ya namah
16. NGASKARA BAJRA :
Sadurunge
ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris
ngaskara.
MANTRA :
OM Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang
karah
Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate
OM Ghanta
sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah
Candra nada bhindu
drestham, Spulingga siwa twam ca
OM Ghantayur
pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu
Warada labdha sandeham,
Wara siddhi nih samsayam
NGASKARA :
OM OM
OM (maklener apisan)
OM ANG
UNG MANG (malih maklener)
OM Ang
Kang Kasolkaya Iswara ya
namah (malih maklener),
tur nglantur
nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah
ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.
17. NGAKSAMA :
OM Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang
karah
Mamoca sarwa
papebhyah, Phalaya swa sadasiwa
OM Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
Trahimam pundari
kaksah, Sambhahya byantara suci
OM Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
Ksantawyo manaso
dosah, Tat pramadat ksama swamam
NUNAS WARANUGRAHA :
OM Anugraha
manoharam, Dewa datta nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah
sarwa nugrahakam
OM Dewa-dewi
maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddhisca dirgahayu,
Nirwighna sukha wredhis ca
OM Anugraha ya namah swaha.
Sesampune
puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk
puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.
18. APSU
DEWA STAWA :
OM Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute
Sarwa klesa winasa
ya, Toyane parisuddhaya te
OM Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat
Sarwa petaka
winasa ya, rogha dosa winasa ya
OM Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam
Siwa-lokam maha-yaste,
mantre manah papa-kelah
OM Siddhim
tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar
Siwa-amretha manggalan
ca, Nadinidam namah siwa ya
PANCA-AKSARA STAWA :
OM Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa
nasanam
Papa kotti sahasranam, Aghandam
bhawet sagaram
OM Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa
nasanam
Mantram tam parama-jnanam, Siwa
logham pratisthanam
OM Namah siwa ya etyewam, Param Brahman
atmane wandam
Param sakti panca diwyah, Panca Rsi
bhawed agni
OM A-karas ca
U-karas ca, Ma-karo windu nada kam
Panca-aksara maya proktam, Ongkara
agni mantrake
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA :
OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani
Ya
namah swaha.
Risampune
puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng.
19. GANGGA SINDHU STAWA :
OM Gangga
sindhu saraswati, Suyamuna godhawari
Kaweri sarayu mahendra, Tenaya
carma wati we nuka
OM Badra
netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah
Purnam jalah samudra sahitah,
Kurwantu te manggalam
20. GANGGA DEWI STAWA :
OM Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah
Sarwa wighna
winasyanti, Sarwa rogha winasa ya
21. NGURIPANG TIRTHA :
OM Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang
OM Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,
I BA SA TA A,
Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha
OM Ang Ing Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng
OM
OM I A KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
OM
OM A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
22. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha
Sawusan
muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane,
satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.
23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA :
( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami
kagenahng ring tirtha penglukatane.
OM Gangga
muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja
Jambangan
nira selaka, Tinanceban tunjung petak
Padyusan nira Bhatara
Iswara, Pangilanganing papa klesa
Moksah hilang, OM
SANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira Tembaga,
Tinanceban tunjung bang
Padyusan nira Bhatara
Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang, OM
BANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira mas,
Tinanceban tunjung jenar
Padyusan nira
Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang, OM
TANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking utara, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira wesi,
Tinanceban tunjung ireng
Padyusan nira
Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang, OM
ANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking madya, Tiningalana telaga noja
Jambangan
nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa,
Pangilanganing dasa mala
Moksah hilang,
OM ING ya namah.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.
MANTRA :
OM Atma-tattwatma
suddha ya mam swaha
OM Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha, caturti suddha.
Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.
Sesampune
puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.
MANTRA :
OM Atma
tatwa-atma suddha mam swaha
OM OM Ksama sampurna ya namah
OM Sri
Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.
24. ANGLUKAT BEBANTEN :
OM Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani,
Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan
nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa
malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening ayam,
kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira Sang
Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha paripurna.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :
Tirtha sane
ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.
MANTRA :
OM Antiganing
sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa
petaka. OM Bang Bamadewa
OM Dewa
Bayu angiberaken lara rogha wighna
OM Sah
wausat ya namah swaha
OM Sang
bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta
nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna
OM Ksama
sampurna ya namah.
26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Mretyun
ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa
Papa mretyu sangkara,
Sarwa kala kalika syah
OM Wigraha
ngawipada, Susupna durmangala
Papa krodha winasa ya,
Sarwa wighna winasa ya namah
27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha
wighna winasa ya
Sarwa
satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata,
Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi
Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun
hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang
inambian mwang sang inulapan.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
PAKELING :
Sesampune
puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang
ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.
Munggwing pemargin nyane :
Banten Bayakaone ring sor
Banten Durmangalane
ring madya
Banten
Prayascittane ring luhur
Banten
Pangulapane ring luhur-luhur.
Pangilenan nyane :
Kapertama
ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring
Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.
Sesampun
puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun
ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun
puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang
eteh-eteh pangresikane ring sang rare.
29. NGASTAWA
SURYA :
OM OM Padmasana ya namah
OM OM Anantasana ya namah
OM OM Dewa-Dewi pratistha
ya namah
OM Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute
Sweta
pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah
OM Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja twam
Aditya twam gatir
asi, Aditya caksur ewa ca
OM Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah
Surya rasmir Hrsi
kesa, Surya sattwam maha wiryam
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha
30. NGASTAWA SANG HYANGTIGA GURU :
OM Dewa-dewi
Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam
Tri Purusa murti dewam,
Sarwa jagat pawitranam
OM Guru
rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam
Guru pantaram dewam,
Guru-dewa suddha-atmakam
OM Brahma
Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri
linggatmakam
Sarwa jagat
pratisthanam, Sarwa rogha winasaya
Sarwa wighna winasa nam.
OM Ang
Ung Mang Paduka Guru bhyo namah swaha.
31. NGASTAWA BHATARA KAWITAN
( Pangastawan Ratu Pasek )
OM Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca
tirtham
Sapta
Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam
OM Ang Gong Gnijaya namah swaha
OM Ang Gnijaya jagat patya namah
OM Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas
ca,
De
Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.
OM OM Panca Rsi Sapta
Rsi paduka Guru bhyo namah swaha.
32 NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA
OM Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu
Halungguh
ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha,
Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep,
Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi
OM OM
Sri Jagat Guru paduka ya namah.
33 NGASTAWAN SANG HYANG KUMARA
OM Namah
Kumara sad-anana ya, Siki dwa jaya prati mayaloke
Sad-kreti kanandakara ya
nityam, Namo”stu tasme dwajawara pujitam
OM Rudra-atma
kaya prati mayaloke, Bramanya dewaya siki dwaja ya
Senapratewa
dahita ya nityam dewyam, Namo”stu
koncadala darana ya
OM Namah
sada-agni ya wiyaka ya, Namo”stu kajrambha kaya jaya nityam
Sasti-praya ya
mala santriyatre, Namah sadakurkuta namo hana ya
OM Ya namo”stu
hanganila ya nityam, Namo”stu widya warada ya loke
Namo”stu
rohika wapiya, Huwah prakase warado
namo”stu te.
OM, Kumara dewa ya namah
swaha.
34 ATUR
PIUNING SAHA SEHA
OM Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru
Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru
Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang
Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang Guru Kamimitan, Hyang Ibu
Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Ledang paduka bhatara
tumudun pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, kairing antuk Dampati
sanak putunnya, widyadara-widyadari, anglurahan agung-alit mwang kala
sedahannya makabehan. Sira sang apiturun sang adi dumadi ri sira si Bajang
Bayi, manusan nira handa sih waranugrahan
pukulun. Manusan nira handa anembah angadakaken yadnya nigang sasihan si bajang
bayi, ri jeng paduka bhatara sinamian, pahenaka hyun paduka bhatara pada
malingga ring rwaning kukus arum.
OM Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa
winasanam
Prenamya aditya-siwartham,
Bhukti-mukti wara pradam.
35 NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:
k. NGATURAN TOYA :
( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).
Wangsuh
cokor/pada : OM Pang padya argha ya namah
Wangsuh
tangan : OM Ang Argha dwaya namah
Toya kumur : OM Jeng Jihwa suci nirmala ya namah
Toya araup : OM Cang Camani ya namah
Asirat : OM Ghrim ksama sampurna ya namah
l.
NGATURAN
PASUCIAN :
OM Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca
Hyastu sarwa to dewa-dewanam,
Hyastu dewa maha punyam ya namah
swaha.
m. NGATURAN PUSPA/SEKAR :
OM Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca
Puspantu sarwa to dewa-dewanam
Puspantu dewa maha punyam ya namah
swaha
n. NGATURAN TIGASAN :
OM Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca
Tigastu sarwa to dewa-dewanam
Tigastu dewa maha punyam ya namah
swaha
o. NGATURAN TOYA :
OM OM
Siwa-amretha ya namah
OM OM
Sadasiwa-amretha ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
36 MAPEKELING SAHA SEHA
OM Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru
Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru
Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang
Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang GuruKamimitan, Hyang Ibu
Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Pada kenak hyun paduka
bhatara pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, manusan nira handa
hangaturaken sarining banten nigang sasihan si bajang bayi. Ledang paduka
bhatara pada amukti sari saturan manusan nira. Minawi ta kirang langkung
saturan ipun den agung ampuranne manusan nira, alit kang sung hangaturaken
agung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Padha kenak hyun paduka bhatara
anodya, hanyaksinin mwang hamukti sari saturan manusan paduka bhatara.
OM Siddhir astu tadastu astu ya namah swaha.
37 NGANTEB
SESAYUT :
OM Sangkepaning pramananta, Negara sya muniwantam
Dewa samsthita
yogante, Brahma Wisnu Maheswaram
OM Pujasya mantrasya, Tri-aksara maha kodratam
Brahmangga
murcage yuktam, Siwangga mantra matmakam
OM Panca bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet
Dewa samsthita
yogante, Brahma Wisnu Maheswaram
OM Atma sarira treptya paripurna ya namah.
OM Bayu premana treptya paripurna yanamah.
38 NGASTAWA SANG CATUR SANAK :
OM Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra,
sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan,
makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu
Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir.
Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan
sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.
39 NGASTAWA BAJANG :
OM Sang Korsika, Sang Gharga, Sang Metri,
Sang Kursya, Sang Pretanjala. I
Malipa, I Malipi, pinaka Bapa Bajang Babu Bajang, Bajang Toya, Bajang Dodot,
Bajang Simbuh, Bajang Julit, Bajang Yuyu, Bajang Sapi, Bajang Kebo, Bajang
papah, Bajang Kalong,Bajang Bungseng mwang sakwehing ingaraning Bajang.
Wusing pada amukti mulih
ta kita maring desanira.
Syah, Syah, Syah.
40. NGASTAWA JEJANGANAN :
OM Pukulung Kaki Hamong, Nini
Hamong, Babu Banglong, Babu Abra, Babu Sinang, Babu Maranak, Babu Anjuroni,
Babu Anungkurat, Babu Wisesa, Babu Dadukun sabhumi, Babu Gedobyah, Babu
Surastri, Babu Suparni. Ingsun handasih kreta nugrahan-nira, handa hanjangani
si bajang bayi. Iki tadah sajin nira,
liwet kacang satingkeb lawan jangan sangiyu. Minawi wenten kirang luput ipun,
den agung ampurane manusan nira, enak ta kita pada amukti sari lawan sanak kira
kabeh. Alit kang sung hangaturaken, agung kang sun haneda. Handa hangluwarana
sakwehing si Bajang lara rogha, sanut sangkala, danda upadrawan ipun, balikakna
wongen dena becik. Sampun sira mebengin, sampun sira hanyetut, sampun sira
hanggites, balikan sira hamongan dena becik, sungana henaking amangan, enaka
aturu, enaka hameng-hamengan. Katekana jejaka, warasa dirghayusa paripurna.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
41. NGASTAWA PANGAMBIAN :
OM Pukulun
Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang
Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira
amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira,
handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
42.
NGASTAWA SAMBUTAN
OM Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut,
tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul,
mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening
prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun
ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.
OM Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang
Yang
Ang Ung Mang
OM.
43.
NGANTEB BANTEN SOROHAN
:
OM Pukulung Sang Siwa Catur Mukha
Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha,
makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang
Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
44. UPASAKSI
YADNYA
OM Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang
Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang
Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang
Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki
Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng,
Nini Panyeneng.
Kajenengana den nira Sang
Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi,
kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha
pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya nigang sasihan sira si Bajang Bayi.
Ledang paduka bhatara pada
anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun
hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang
langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara wehana
waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira Hyang
Sinuhun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
45. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA
:
OM Parama
Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah
Siwa sya pranato nityam,
Candis ca ya namo”stute
OM Niwedhya
Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram
Sarwa bhakti nala bhatyam,
Sarwa karya prasiddhantam
OM Jayarti
jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti
Siddhi sakala ma pnuyat,
Parama Siwa ya labhatyam.
OM Nama Siwa ya namah swaha
46. NGEMARGIANG SESARIK :
Sesampun puput nganteb bebanten ne, raris
margiang sesarik nyane ring Palinggihe sami.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.
47. NGAYAB
BEBANTEN (ngayab ke luhur).
OM Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca
Bhuktyantu dewas
ca, Bhuktyantu sarwa to dewam
OM Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha
Saganah sapari
warah, Sawarga sada siddhis ca
OM Dewa bhoktya laksana ya namah
OM Dewa treptyantu laksana ya namah
OM Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha
48. NGAYABIN PRAS :
OM Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara
Purwa pras
prasiddha rahayu.
49. PANGILEN :
Sesampune
puput ngayab ke luhur, raris kon ibunyane mangda ngambil pusuhe sane ring
ayunan nyane, ibu sang rare kon ngendong/nyuwun pusuhe punika, si bajang
bayi/rare ne kagendong antuk wang lianan saking reramanyane. Sesampuni punika
pada kagemel, tumuli raris ngadeg ring samping lesunge, saha tatabin ikang rare
saha anak-anakan nyane banten ring duwur lesunge punika.
MANTRA :
Ih si Bajang Susila, si Bajang Weking, heling sira
ri tadah sajin nira, apan kita angawe hala-hayu. Hulihakna atmaning janma
manusa ne manih, haja sira mwah maniwastu pukulun siddha rahayu, seger-oger,
urip warasa dirghayusa, tunggunen rahina dalu. Minawi kirang tadahan nira, den
agung ampurane si bajang bayi.
OM Siddhir
astu ya namah swaha.
Sesampun
puput ketatabin, raris tepung tawarin lan siratin tirtha ne sane ring bebanten
punika ring sang rare miwah ring anak-anakan nyane sami. Sesampun puput raris
kon ngilehin lesunge punika maileh ketengen (kanan).
Munggwing
dudonan nyane :
Taluhe ring ajeng,
wus punika anak-anakan ne / pusuhe, wusan punika batu ne, wus punika sang rare
saha makta tungked bungbungan ne.
MANTRA :
Hangiderana sawawu pada sawasu, anak kira si
Tunggul Ametung, putun nira si Kalang Jarak, sira anak-anaking balogo, ingsun
anak-anaking pusuh, sira anak-anaking pusuh, ingsun anak-anaking antelu, sira
anak-anaking antelu, insun anak-anaking watu, sira anak-anaking watu, ingsun
anak-anaking manusa.
Ngiderang
lesung punika maka pralambang proses/sulur kawentenan nyane sang rare. Lesung
saha madaging bun-bunan maka pralambang weteng (perut). Taluh prelambang
seperma. Sesampun seperma punika bertemu/awor, manados mangkin rah (darah),
sasuwen-suwen dados kentel, kaprelambangin antuk batu, suwen-suwen dados marupa
anak alit (manusa) kaprelambangin antuk pusuh. Anak alit sane kari ring
telengin garbha (weteng) kawastanin rare pusuh.
Sesampun
puput ngilehang lesunge, raris lukarin bhusana sang rare tur siraman ring pane
ne, taler rawuhang ring anak-anakan pusuhe punika lukaran bhusanan nyane, taler
siraman ring pane ne. Sesampun puput raris gentosan bhusana sang rare manut
tetagihan nyane.
Sesampun
puput, raris dane mangku natabin sang rare banten pangresikan nyane. Kapertama
tatabin banten bayakaone, kaping kalih tatabin banten durmangalane, kaping tiga
tatabin banten prayascittane, kaping empat tatabin raris banten pangulapane,
saha eteh-eteh nyane sami kemargiang. Sesampune puput raris natab sambutan
nyane sane ring natahe punika.
MANTRA :
OM Pukulun
Kaki Prajapat, Nini Prajapati, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Citragopta,
Nini Citragopta, ingsung handa hanugrahan nira, handa anyambuti si bajang bayi.
Minawi wenten kari pramana mwang atman ipun anganti ring pinggiring samudra
ring telengin udadi mwah ring sangkan paranya, sambut hulihakna maring raga
walunan ne si bajang bayi, siddha pepek paripurna maring awak sariran ipun si
bajang bayi.
Sesampune puput ketatabin, raris ilenin banten
penyambutan nyane punika, ambil sesariknyane lan tatebus nyane, wehing sang
rare.
Sesampune puput pangilene ring natahe, raris kon szang
rare taler bapan-ibunyane munggah ring baleen tumuli raris dane mangku ngalukat
sang rare. Sadurunge jaga ngalukat, elingang linggihang Kala sang Rare ring
cangkem, Atmanyane ring bhrumadhya, Dewan nyane ring Siwadwara, wawu raris
kalukat.
Yan manut lontar anggastya purana, yan ngalukat
wong/manusa, patut ngangge panglukatan PUJA SRAWE, ASTA PUNGKU mwah
PANYUDDHA-MALAN.
50. NGATURAN SEMBAH :
Munggwing dudonan ngaturan sembah, mangdane
manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan upakara
lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli raris
tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara, picayang ring sang rare.
51. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :
Sesampun puput ngaturan
sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.
. NATAB BANTEN SAMBUTAN :
MANTRA :
OM Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut,
tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul,
mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening
prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun
ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.
OM Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang
Yang
Ang Ung Mang
OM.
52.NGEMARGIANG SESARIK LAN TATEBUS
:
Sesampune
puput natab banten sambutan nyane, raris wehing sesarik saha tatebus
nyane.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.
WEHANA SESARIK :
Ring muka/rahi : OM
Sri Sri yawe namah
Ring Bahu kanan : OM
Anengenaken bagia phula kreti
Ring Bahu kiwa : OM
Angiwakakna pancabaya lara rogha
Ring Punuk : OM Angungkurana sot papahing wong
Ring Bahong : OM Angarepaken bagya phula kreti pasesangon
Ring Tangkah : OM Anganti-nganti sabdha rahayu
Ring Tangan kalih : OM
Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga
WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :
MANTRAN TETEBUS :
OM Kawelasana den nira sang adi-dumadi
Kawelasana den
nira Sang ngawewehan, sang apiturun
Kawelasana den
nira Bhatara mwang manusa,
Saking lor saking kidul, welas asih ring
ipun sang mawoton
PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring
Siwadwara, ring Karna.
MANTRA :
OM Wehaning raga dirghayusa, langgenganing
angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
Sesampune
puput ngemargiang pailen-ilen upacara ne ring balene wawu raris upacarane
kemargiang ri Mrajan/Sanggah, munggwing pangilen upacarane ri Mrajan, pateh
sekadi ngilenin dadudonan ring DEWA YADNYA. Sakewanten rikala jaga ngilenin
ring sang rare, mangdane taler ke astawayang kawentenan Sang Catur Sanak Sang
Rare. Maka unteng upacarane ri Mrajan, wantah ngawekasang ring Ida Bhatara
kawentenan sang rare, saha nuwur waranugraha, mangda ledang Ida Bhatara
ngicenin sinar kasucian tur nuntun sang rare ri sajroning kauripane puniki,
dumugi siddha sang rare ngemangguhang kerahayuan, tur prasiddha manut sekadi
pangaptine ring putra susrusa.
53. NGAKSAMA :
Kaping untad
dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane
menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara
masineb.
MANTRAN PANYINEB :
OM
OM Atma-tattwatma suddha mam
swaha.
OM
OM Ksama sampurna ya namah swaha
OM OM Sarwa dewa somya ya namah swaha
GAGLARAN
PAMANGKU RING PANGILEN PAWETONAN.
Didalam melaksanakan suatu yadnya/upacara,
hendaknya seorang Pemangku terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat atau
perlengkapan/sarana untuk melakukan pemujaan seperti :
y. Sebuah Bokoran/nare
z. Sebuah Sangku/tempat tirtha
aa. Bunga warna-warni secukupnya
bb. Beras/wija secukupnya
cc. Sebuah tempat yang berisi wangi-wangian
dd. Dhupa secukupnya.
Semua itu sebagai perlengkapan
para Pemangku didalam melaksanakan upacara atau yadnya ( panca yadnya ).
Sebelum para Pemangku memulai
suatu upacara, hendaknya para Pemangku melakukan pembersihan diri terlebih
dahulu seperti tahapan dibawah ini :
1. MASILA DEN APNED :
OM OM Padmasana ya namah
OM ANG Prasada sthiti sarira siwa
suci nirmala ya namah
2. MEMBERSIHKAN TANGAN :
KANAN : OM
Suddha mam swaha
KIRI : OM Ati Suddha mam swaha
3. PRANAYAMA :
RING HATI : OM ANG
Brahma ya namah
RING AMPRU : OM
UNG Wisnu ya namah
RING PAPUSUH : OM
MANG Iswara ya namah
4. MENGHATURKAN DHUPA :
OM ANG
Brahma-amretha dhipa ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha dhipa ya namah
OM MANG
Iswara-amretha dhipa ya namah
5. METABUH ARAK/BEREM :
OM ANG
KANG Kasol kaya swasti-swasti
sarwa bhuta kala bokta ya namah
6. MERSIHIN ETEH-ETEH UPAKARA : Masarana antuk sekar lan bija.
OM Ghrim wausat ksama sampurna ya namah
7. NGUTPETI TOYA RING SANGKU :
OM I
BA SA TA A
OM YA
WA SI MA NA
OM MANG
UNG ANG
8. PADMASANA RING TOYA :
OM OM
Padmasana ya namah
OM OM
Anantasana ya namah
9. DEWA PRATISTHA :
OM OM
Dewa-Dewi pratistha ya namah
10. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa adhitya ya namah
11. STITI KANG TOYA :
OM SA
BA TA A I
OM NA
MA SI WA YA
OM ANG
UNG MANG
12. SEMBAH SIWA AMRETHA :
OM Hrang
Hring sah parama siwa-amretha ya
namah
13. ATURI KANG TOYA : Puspa, Ghandaksata, Wija lan Dhupa.
OM Puspa dhanta ya namah (sekar)
OM Sri
Ghandeswarya ya namah (miyik-miyikan)
OM Kung kumara wija ya namah (bija/beras)
OM Ang dhupa dipa-astra ya namah (dhupa)
14. NEDUNAN BHATARA TIRTHA :
OM Gangga
dewi maha punyam, Gangga salanca medini
Gangga tarangga samyuktam,
Gangga dewi namu namah
OM Sri
Gangga Mahadewi, Anuksma-amretha jiwani
Ongkara Aksara jiwatam,
Tadda-amretha manoharam
OM Utpeti
ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca
Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti
sri wahinam ya namah swaha
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA : OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani Ya
namah swaha.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng. Tumuli raris masirat ring angga ping tiga.
MANTRA : OM
ANG Brahma-amretha ya namah
OM UNG
Wisnu-amretha ya namah
OM MANG
Iswara-amretha ya namah
15. RARIS DANE MANGKU AKNA BIJA/BASMA :
MANTRA :
OM Idham bhasman param guhyam, Sarwa papa
winasa ya
Sarwa kalusa winasa ya, Sarwa rogha
winasa ya namah
NGREMEKIN
BIJA : Genahang bija ne ring tlapakan tanganne kiwa/kiri, uder antuk jari
manise tengen/kanan.
MANTRA : OM Bang
Bamadewa guhya ya namah
OM Bhur
Bwah Swah amretha ya namah
APASANG BIJA :
Ring sirah : OM Ing Isana ya namah
Ring lelata : OM Tang Tatpurusa ya namah
Ring tangkah : OM Ang Aghora ya namah
Ring bahu kanan : OM
Bang Bamadewa ya namah
Ring bahu kiri : OM Sang Sadya ya namah
16. NGASKARA BAJRA :
Sadurunge
ngaskara bajra, siratin dumun bajrane tirtha, ukupin ring dhupane, wawu raris
ngaskara.
MANTRA :
OM Kara Sadasiwa stham, Jagat Natha hitang karah
Abhiwada wadanyam, Ghanta sabdha prakasyate
OM Ghanta
sabdha mahasrestah, Ongkara parikirtitah
Candra nada bhindu
drestham, Spulingga siwa twam ca
OM Ghantayur
pujyate dewah, Abhawa-bhawa karmesu
Warada labdha sandeham,
Wara siddhi nih samsayam
NGASKARA :
OM OM
OM (maklener apisan)
OM ANG
UNG MANG (malih maklener)
OM Ang
Kang Kasolkaya Iswara ya
namah (malih maklener),
tur nglantur
nywarayang ikang bajra, tumuli rasis siratin toya saha ghandaksata, bija mwah
ukupin ring dhupane ikang bajra, wawu raris genahang.
17. NGAKSAMA :
OM Ksama swamam mahadewa, Sarwa prani hitang
karah
Mamoca sarwa
papebhyah, Phalaya swa sadasiwa
OM Papoham papo karmaham, papa-atma papa sambhahwah
Trahimam pundari
kaksah, Sambhahya byantara suci
OM Ksantawya kayiko dosah, Ksantawyo waciko mama
Ksantawyo manaso
dosah, Tat pramadat ksama swamam
NUNAS WARANUGRAHA :
OM Anugraha
manoharam, Dewa datta nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah
sarwa nugrahakam
OM Dewa-dewi
maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddhisca dirgahayu,
Nirwighna sukha wredhis ca
OM Anugraha ya namah swaha.
Sesampune
puput nunas waranugraha, mawali malih nedunan Bhatara Tirtha, masarana antuk
puspa, sawusan pinuja raris genahang sekare punika ring sangkune.
18. APSU
DEWA STAWA :
OM Apsudewa pawitrani, Gangga dewi namo”stute
Sarwa klesa winasa
ya, Toyane parisuddhaya te
OM Sarwa rogha winasa ya, Sarwa bhogam ewapnuyat
Sarwa petaka
winasa ya, rogha dosa winasa ya
OM Sri kare sa-pahut kare, Rogha dosa winasanam
Siwa-lokam maha-yaste,
mantre manah papa-kelah
OM Siddhim
tri-sandhya sa-pala, Sekala mala malahar
Siwa-amretha manggalan
ca, Nadinidam namah siwa ya
PANCA-AKSARA STAWA :
OM Panca-aksara maha tirtham, Pawitram papa nasanam
Papa kotti sahasranam, Aghandam
bhawet sagaram
OM Panca-aksara parama-jnanam, Pawitram papa
nasanam
Mantram tam parama-jnanam, Siwa
logham pratisthanam
OM Namah siwa ya etyewam, Param Brahman
atmane wandam
Param sakti panca diwyah, Panca Rsi bhawed
agni
OM A-karas ca
U-karas ca, Ma-karo windu nada kam
Panca-aksara maya proktam, Ongkara
agni mantrake
Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng
ning kahyun.
MANTRA :
OM Bhur Bwah Swah swaha
maha ganggayai tirtha pawitrani
Ya namah swaha.
Risampune
puput ngastawa tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng.
19. GANGGA SINDHU STAWA :
OM Gangga
sindhu saraswati, Suyamuna godhawari
Kaweri sarayu mahendra, Tenaya
carma wati we nuka
OM Badra
netrawati maha suranadi, Kyata ca ya ghandaki punyah
Purnam jalah samudra sahitah,
Kurwantu te manggalam
20. GANGGA DEWI STAWA :
OM Gangga dewi namaskaram, Onkara parikirtitah
Sarwa wighna
winasyanti, Sarwa rogha winasa ya
21. NGURIPANG TIRTHA :
OM Hrang Hring Sah ksmung Ang Ung Mang
OM Swasti-swasti ksing-ksring, YA WA SI MA NA,
I BA SA TA A,
Bhutih-bhutih bhur bwah swah swaha
OM Ang Ing Ung, Wyong Mang Wyang Ping Neng
OM
OM I A KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
OM
OM A RA KA SA MA RA LA WA YA UNG
namo namah swaha
22. SEMBAH KUTA MANTRA :
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa-amretha ya namah swaha
Sawusan
muspa, sekare sane kaanggen muspa genahangring sangku genah tirthane,
satwinaluya Ida Bhatara Tirtha malingga ring tirthane.
23. NGASTAWA PANCA GANGGA/PANCA DEWA :
( PANGLUKATAN ) : Sarana puspa ne sane kaanggen ngastawa sami
kagenahng ring tirtha penglukatane.
OM Gangga
muncar saking purwa, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira selaka,
Tinanceban tunjung petak
Padyusan nira Bhatara
Iswara, Pangilanganing papa klesa
Moksah hilang, OM
SANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking daksina, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira Tembaga,
Tinanceban tunjung bang
Padyusan
nira Bhatara Brahma, Pangilanganing sarwa wighna, Moksah hilang, OM
BANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking pascima, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira mas,
Tinanceban tunjung jenar
Padyusan nira
Bhatara Mahadewa, Pangilanganing sarwa petaka, Moksah hilang, OM
TANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking utara, Tiningalana telaga noja
Jambangan nira wesi,
Tinanceban tunjung ireng
Padyusan nira
Bhatara Wisnu, Pangilanganing sarwa satru, Moksah hilang, OM
ANG ya namah.
OM Gangga
muncar saking madya, Tiningalana telaga noja
Jambangan
nira amanca warna, Tinanceban tunjung amanca warna,Padyusan nira Bhatara Siwa,
Pangilanganing dasa mala
Moksah hilang,
OM ING ya namah.
Risampune
puput nedunan tirtha aturi : puspa, ghandaksata, wija lan dhupa sekadi menggah
ring ajeng, raris siratin antuk tirtha ring sangkune.
MANTRA :
OM Atma-tattwatma
suddha ya mam swaha
OM Pretama suddha, dwitya suddha, tritya suddha, caturti suddha.
Suddha, suddha, suddha wari astu ya namah.
Sesampune
puput ngastwa tirtha, raris masirat ring awang-awang ping tiga.
MANTRA :
OM Atma
tatwa-atma suddha mam swaha
OM OM Ksama sampurna ya namah
OM Sri
Pasupatye Hung Phat ya namah swaha.
24. ANGLUKAT BEBANTEN :
OM Pukulun Hyang-Hyang ning prana-prani,
Hyang-Hyang ning sarwa Tumuwuh, pukulun manusan nira handa sih waranugrahan
nira, handa tirtha panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat anglebur dasa
malaning bebanten kabeh. Yan hana kalangkahan dening sona, kaiberan dening
ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira
Sang Hyang Sucinirmala, mekadi Sang Hyang lewihing bebanten, wastu siddha
paripurna.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
25. NGAJUM TIRTHA BAYAKAON :
Tirtha sane
ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha bayakaon ne, raris astawayang.
MANTRA :
OM Antiganing
sawung, pangawak Sang Hyang Galacandu, sagilingan pangilanganing mala papa
petaka. OM Bang Bamadewa
OM Dewa
Bayu angiberaken lara rogha wighna
OM Sah
wausat ya namah swaha
OM Sang
bhuta nampik mala, Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta
nampik rogha,Undurakna sakwehing lara rogha wighna
OM Ksama
sampurna ya namah.
26. NGAJUM TIRTHA DURMANGALA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha durmangala ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Mretyun
ca rakta mara ya, Sarwa rogha upadrawa
Papa mretyu sangkara,
Sarwa kala kalika syah
OM Wigraha
ngawipada, Susupna durmangala
Papa krodha winasa ya,
Sarwa wighna winasa ya namah
27. NGAJUM TIRTHA PRAYASCITTA :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha prayascitta ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Siddhi guru srong sarasat, Sarwa rogha
wighna winasa ya
Sarwa
satru winasa ya, Sarwa klesa winasa ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
28. NGAJUM TIRTHA PANGULAPAN :
Taler tirtha
sane ring sangkune briyokang kedik ring genah tirtha pangulapan ne, raris
astawayang.
MANTRA :
OM Pukulun Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata,
Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi
Sang Hyang Urip, sira amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun
hangeweruhi ri sira, handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang
inambian mwang sang inulapan.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
PAKELING :
Sesampune
puput ingajum tirtha pangresikan sane kabuatan, tumuli raris kon ngemargiang
ring palinggihe sami, tur rawuhang ring upakara/bebantene sami.
Munggwing pemargin nyane :
Banten Bayakaone ring sor
Banten
Durmangalane ring madya
Banten
Prayascittane ring luhur
Banten
Pangulapane ring luhur-luhur.
Pangilenan nyane :
Kapertama
ring tatimpug/kakeplugan, ring Surya, ring Palinggih Pajenengan/Susunan, ring
Palinggihe sami, rawuhang ring sumur lan ring upakara/bebantene sami.
Sesampun
puput kemargiang pangresikane punika, genahang dumun, sampunang margianga dumun
ring sang rare, sadurunge puput ilen-ilen upakarane kemargiang sami, lan sampun
puput ngayab upakara/bebantene keluhur, wawu raris dane mangku ngemargiang
eteh-eteh pangresikane ring sang rare.
29. NGASTAWA
SURYA :
OM OM Padmasana ya namah
OM OM Anantasana ya namah
OM OM Dewa-Dewi pratistha
ya namah
OM Aditya sya param jyotir, Rakto tejo namo”stute
Sweta
pangkaja mandhyaste, Bhaskara dewa ya namo namah
OM Aditya garbha pawana, Aditya dewa raja
twam
Aditya twam gatir
asi, Aditya caksur ewa ca
OM Adityo jata wedasa, Aditya janopa suryah
Surya rasmir Hrsi
kesa, Surya sattwam maha wiryam
OM Hrang Hring Sah Paramasiwa Aditya ya namah swaha
30. NGASTAWA SANG HYANGTIGA GURU :
OM Dewa-dewi
Tri Dewanam, Tri murti tri lingganam
Tri Purusa murti dewam,
Sarwa jagat pawitranam
OM Guru
rupam guru dewam, Guru purwam Guru madyam
Guru pantaram dewam,
Guru-dewa suddha-atmakam
OM Brahma
Wisnu Iswara Dewam, Tri murti tri
linggatmakam
Sarwa jagat
pratisthanam, Sarwa rogha winasaya
Sarwa wighna winasa nam.
OM Ang
Ung Mang Paduka Guru bhyo namah swaha.
31. NGASTAWA BHATARA KAWITAN
( Pangastawan Ratu Pasek )
OM Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca
tirtham
Sapta
Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam
OM Ang Gong Gnijaya namah swaha
OM Ang Gnijaya jagat patya namah
OM Ung Manik Jayas ca, Sumerus ca, sa Ghanas
ca,
De
Kuturan Baradah ca ya namu namah swaha.
OM OM Panca Rsi Sapta Rsi paduka Guru bhyo namah
swaha.
32 NGASTAWA SANG HYANG TIGA WISESA
OM Ang, Sang Hyang Jagat Wisesa, metu ta sira maring bayu
Halungguh
ta sira maring bhungkahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Ung, Sang Hyang Antara Wisesa, metu ta sira maring sabdha,
Halungguh ta sira maring tengahing adnyana sandhi
OM OM Sri Jagat Guru paduka ya namah.
OM Mang Sang Hyang Adnyana Wisesa, metu ta sira maring idhep,
Halungguh ta sira maring tungtunging adnyana sandhi
OM OM
Sri Jagat Guru paduka ya namah.
33 NGASTAWAN SANG HYANG KUMARA
OM Namah
Kumara sad-anana ya, Siki dwa jaya prati mayaloke
Sad-kreti kanandakara ya
nityam, Namo”stu tasme dwajawara pujitam
OM Rudra-atma
kaya prati mayaloke, Bramanya dewaya siki dwaja ya
Senapratewa
dahita ya nityam dewyam, Namo”stu
koncadala darana ya
OM Namah
sada-agni ya wiyaka ya, Namo”stu kajrambha kaya jaya nityam
Sasti-praya ya
mala santriyatre, Namah sadakurkuta namo hana ya
OM Ya
namo”stu hanganila ya nityam, Namo”stu widya warada ya loke
Namo”stu
rohika wapiya, Huwah prakase warado
namo”stu te.
OM, Kumara dewa ya namah
swaha.
34 ATUR
PIUNING SAHA SEHA
OM Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru
Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru
Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang
Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang Guru Kamimitan, Hyang Ibu
Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Ledang paduka bhatara
tumudun pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, kairing antuk Dampati
sanak putunnya, widyadara-widyadari, anglurahan agung-alit mwang kala
sedahannya makabehan. Sira sang apiturun sang adi dumadi ri sira si Bajang
Bayi, manusan nira handa sih
waranugrahan pukulun. Manusan nira handa anembah angadakaken yadnya
nigang sasihan si bajang bayi, ri jeng paduka bhatara sinamian, pahenaka hyun
paduka bhatara pada malingga ring rwaning kukus arum.
OM Prenamya bhaskara dewam, Sarwa klesa
winasanam
Prenamya
aditya-siwartham, Bhukti-mukti wara pradam.
35 NGATURAN TOYA LAN PESUCIAN:
p. NGATURAN TOYA :
( Nganggen tirtha sane ring sangkune ).
Wangsuh
cokor/pada : OM Pang padya argha ya namah
Wangsuh
tangan : OM Ang Argha dwaya namah
Toya kumur : OM Jeng Jihwa suci nirmala ya namah
Toya araup : OM Cang Camani ya namah
Asirat : OM Ghrim ksama sampurna ya namah
q. NGATURAN PASUCIAN :
OM Hyastu dewa maha punyam, Hyastu dewan ca
Hyastu sarwa to dewa-dewanam,
Hyastu dewa maha punyam ya namah
swaha.
r.
NGATURAN
PUSPA/SEKAR :
OM Puspantu dewa astutyam, Puspantu dewan ca
Puspantu sarwa to dewa-dewanam
Puspantu dewa maha punyam ya namah
swaha
s. NGATURAN TIGASAN :
OM Tigastu dewa maha punyam, Tigastu dewan ca
Tigastu sarwa to dewa-dewanam
Tigastu dewa maha punyam ya namah swaha
t.
NGATURAN
TOYA :
OM OM
Siwa-amretha ya namah
OM OM
Sadasiwa-amretha ya namah
OM OM
Paramasiwa-amretha ya namah
36 MAPEKELING SAHA SEHA
OM Pukulun Bhatara Sang Hyang Tiga Guru
Wisesa, Sang Hyang Pramesthi Guru,Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Guru
Rekatenaya,Sang Hyang PangemitTuwuh, Sang Hyang Panunggun Urip, Sang Hyang
Kumara-Kumari, Pakulun Bhatara Kawitan, Hyang GuruKamimitan, Hyang Ibu
Kamimitan, Hyang bhatara-bhatari, Hyang Deweta-Dewati. Pada kenak hyun paduka
bhatara pada malingga-malinggih ring rwaning kukus arum, manusan nira handa
hangaturaken sarining banten nigang sasihan si bajang bayi. Ledang paduka
bhatara pada amukti sari saturan manusan nira. Minawi ta kirang langkung
saturan ipun den agung ampuranne manusan nira, alit kang sung hangaturaken
agung pamilakunya, hamilaku kadirghayusan. Padha kenak hyun paduka bhatara
anodya, hanyaksinin mwang hamukti sari saturan manusan paduka bhatara.
OM Siddhir astu tadastu astu ya namah swaha.
37 NGANTEB
SESAYUT :
OM Sangkepaning pramananta, Negara sya muniwantam
Dewa samsthita
yogante, Brahma Wisnu Maheswaram
OM Pujasya mantrasya, Tri-aksara maha kodratam
Brahmangga
murcage yuktam, Siwangga mantra matmakam
OM Panca bhuwana tattwan ca, Asta dewa dalan bhawet
Dewa samsthita yogante,
Brahma Wisnu Maheswaram
OM Atma sarira treptya paripurna ya namah.
OM Bayu premana treptya paripurna yanamah.
38 NGASTAWA SANG CATUR SANAK :
OM Pukulun Kaki Siwagotra, Nini Siwagotra,
sira hangatag sanak ingsun kabeh, lwirnya: meraga dewa bhuta kala makabehan,
makadi Sang Anggapati, Mrapapati, Bhanaspati, Bhanaspatiraja. Babu Abra, Babu
Lembana, Babu Sugyan, Babu Kakere, mwah I Sair, I Makair, I Mokair, I Selabir.
Hakona metu kabeh. mabresih, alukata, mapeningan, atepung tawar pareng lawan
sanak kira den rahayu. Poma, Poma, Poma.
39 . NGASTAWA JEJANGANAN :
OM Pukulung Kaki Hamong, Nini
Hamong, Babu Banglong, Babu Abra, Babu Sinang, Babu Maranak, Babu Anjuroni,
Babu Anungkurat, Babu Wisesa, Babu Dadukun sabhumi, Babu Gedobyah, Babu Surastri,
Babu Suparni. Ingsun handasih kreta nugrahan-nira, handa hanjangani si bajang
bayi. Iki tadah sajin nira, liwet
kacang satingkeb lawan jangan sangiyu. Minawi wenten kirang luput ipun, den
agung ampurane manusan nira, enak ta kita pada amukti sari lawan sanak kira
kabeh. Alit kang sung hangaturaken, agung kang sun haneda. Handa hangluwarana
sakwehing si Bajang lara rogha, sanut sangkala, danda upadrawan ipun, balikakna
wongen dena becik. Sampun sira mebengin, sampun sira hanyetut, sampun sira
hanggites, balikan sira hamongan dena becik, sungana henaking amangan, enaka
aturu, enaka hameng-hamengan. Katekana jejaka, warasa dirghayusa paripurna.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
41. NGASTAWA PANGAMBIAN :
OM Pukulun
Sang Hyang Sapta Patala, Sang Hyang Sapta Dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang
Hyang Trinadi Pancakosika, Sang Hyang Premana mekadi Sang Hyang Urip, sira
amagehaken ri stanan nira sowang-sowang, pakenaning hulun hangeweruhi ri sira,
handa raksanan den rahayu, urip waras dirghayusa sang inambian.
OM Siddhirastu ya namah swaha.
42.
NGASTAWA SAMBUTAN
OM Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut,
tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul,
mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening
prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun
ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.
OM Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang
Yang
Ang Ung Mang
OM.
43.
NGANTEB BANTEN SOROHAN :
OM Pukulung Sang Siwa Catur Mukha
Dewa bhyuha, sira ta bhagawan Ratangkup, sira ta pukulun angeseng lara rogha,
makadi ipyan hala, sot satagempung muksah hilang tan pasesa, den nira Sang
Hyang Siwa Catur Muka dewa bhyuha.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
44. UPASAKSI
YADNYA
OM Pukulun Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang
Hyang Akasa mwang Sang Hyang Ibu Prethiwi, Sang Hyang Surya Candra Lintang
Tranggana mekadi Sang Hyang Triyo dasa saksi, Sang Hyang Panca Rsi, Sang Hyang
Catur Loka Phala. Kaki Bhegawan Penyarikan, Nini Bhagawan Penyarikan, Kaki
Citragopta, Nini Citragopta, Kaki Samantara, Nini Samantara, Kaki Panyeneng,
Nini Panyeneng.
Kajenengana den nira Sang
Hyang Tiga Guru Wisesa, Kasaksinin den nira Sang Hyang Triyo Dasa Saksi,
kewaranugraha den nira Sang Hyang Wesrawana. Manusan nira handa sih waranugraha
pukulun. Manusan nira hangadakaken yadnya nigang sasihan sira si Bajang Bayi.
Ledang paduka bhatara pada
anodya, anyaksinin mwang hamuputaken yadnyan ipun. Akedik kang sun
hangaturaken, agung pamilakunya hamilaku kadirghayusan. Minawi ta kirang
langkung saturan ipun den agung ampurane manusan nira. Ledang paduka bhatara
wehana waranugraha dumugi tan kakenaning hila-hila mwang upadrawa den nira
Hyang Sinuhun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
45. NGANTEB BANTEN ANTUK TRI BHUWANA STAWA
:
OM Parama
Siwa Twan Guhyam, Siwa tattwa paroyanah
Siwa sya pranato nityam,
Candis ca ya namo”stute
OM Niwedhya
Brahma Wisnus ca, Sarwa Bhoktra Maheswaram
Sarwa bhakti nala bhatyam,
Sarwa karya prasiddhantam
OM Jayarti
jaya ma pnuyat, Yasarti yasa ma pnoti
Siddhi sakala ma pnuyat,
Parama Siwa ya labhatyam.
OM Nama Siwa ya namah swaha
46. NGEMARGIANG SESARIK :
Sesampun puput nganteb bebanten ne, raris
margiang sesarik nyane ring Palinggihe sami.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya namu namah swaha.
47. NGAYAB
BEBANTEN (ngayab ke luhur).
OM Bhuktyantu dewa maha punyam, Bhuktyantu dewan ca
Bhuktyantu
dewas ca, Bhuktyantu sarwa to dewam
OM Bhuktyantu sarwa to dewam, Bhuktyantu Sri Loka Natha
Saganah sapari
warah, Sawarga sada siddhis ca
OM Dewa bhoktya laksana ya namah
OM Dewa treptyantu laksana ya namah
OM Bhukti trepti sarwa banten ya namah swaha
48. NGAYABIN PRAS :
OM Ekawara, Dwiwara, Triwara Caturwara, Pancawara
Purwa pras
prasiddha rahayu.
49. NGATURAN SEMBAH :
Munggwing dudonan ngaturan sembah,
mangdane manut ring dudonan parikramaning sembah, tur taler nginutin kawentenan
upakara lan upacara sane kemargiang. Sesampun puput ngaturan sembah, tumuli
raris tedunan Tirtha Wangsuh Padan Ida Bhatara, picayang ring sang rare.
50. SANG RARE NATAB BANTEN/UPAKARA :
Sesampun puput ngaturan
sembah, raris tatabin tur ilenin sang rare upakara ne.
. NATAB BANTEN SAMBUTAN :
MANTRA :
OM Pukulun Kaki Sambut, Nini Sambut,
tanedanan sambut agung, tanedanan sambut alit. Yan lungha mangetan, mangidul,
mangulon, mangalor, bayu premana mwah atmanya si bajang bayi tinututan dening
prewatek Dewata Nawa Sangha, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, tuntun
ulihakna maring awak sariran sira si bajang bayi.
OM Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang
Yang
Ang Ung Mang
OM.
51. NGEMARGIANG SESARIK LAN TATEBUS
:
Sesampune
puput natab banten sambutan nyane, raris wehing sesarik saha tatebus
nyane.
MANTRAN SESARIK :
OM Purna
candra purna bayu, mangkana paripurnanya
Kadi
langgenganing Surya Candra, Mangkana langgenganya manih ring mrecapada.
OM OM Sri Sriyawe ya nanu namah swaha.
WEHANA SESARIK :
Ring muka/rahi : OM
Sri Sri yawe namah
Ring Bahu kanan : OM
Anengenaken bagia phula kreti
Ring Bahu kiwa : OM
Angiwakakna pancabaya lara rogha
Ring Punuk : OM Angungkurana sot papahing wong
Ring Bahong : OM
Angarepaken bagya phula kreti pasesangon
Ring Tangkah : OM Anganti-nganti sabdha rahayu
Ring Tangan kalih : OM
Ananggapana Sri Sedana phala-bhoga
WAHANA TATEBUS/TATEBUSIN :
MANTRAN TETEBUS :
OM Kawelasana den nira sang adi-dumadi
Kawelasana den
nira Sang ngawewehan, sang apiturun
Kawelasana den
nira Bhatara mwang manusa,
Saking lor saking kidul, welas asih ring
ipun sang mawoton
PANGILEN NYANE : Ring Tangan, ring
Siwadwara, ring Karna.
MANTRA :
OM Wehaning raga dirghayusa, langgenganing
angapusi balung pila-pilu, hangapusi atma jiwatan-ipun.
OM Siddhir astu ya namah swaha.
53. NGAKSAMA :
Kaping untad
dane mangku patut NGAKSAMA malih apisan, manut sekadi puja pangaksama sane
menggah ring ajeng. Sesampune puput raris dane mangku ngaturin Ida Bhatara
masineb.
MANTRAN PANYINEB :
OM
OM Atma-tattwatma suddha mam
swaha.
OM
OM Ksama sampurna ya namah swaha
OM OM Sarwa dewa somya ya namah swaha
PUPULANING
PUJA-STAWA.
Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda
Aditya-stawa: Sebagai Puja-Lingga
kepada Surya.
OM Adityasya param jyotir,
Rakta-teja namo’stu te,
Sweta
– pangkaja-madhyasta, Bhaskaraya namo’stu te.
Terjemahan:
Ya
Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Surya,
Ya kemegahan yang agung putra Aditi,
Ya Dikau dengan
kilauan yang merah, sujud hamba kehadapan Mu.
Dikau yang
berdiri di tengah sekuntum bunga teratai putih.
Sembah sujud
hamba kehadpan Mu, penyebar kesemarakan.
Surya-Stawa: Eka-Cakra:
Aditya twam gatir-asi, Aditya caksur
ewa ca.
Surya-rasmir Hrsi-kesa, Surya-Sattwam
maha-wiryam.
Terjemahan:
Ya
putra Aditi Yang men-sucikan benih-benih kehidupan,
Putra
Aditi, Dikau adalah Raja dari para Dewata.
Putra Aditi, Dikau
adalah tempat berlindung dan juga Matahari yang memberikan kehidupan.
Ya Putra Aditi adalah
Yang Mengetahui segala hal.
Putra Aditi yang tiada
lain adalah Sang Hyang Surya.
Dikau memiliki
sinar-Surya, Wahai Hrsi Kesa.
Intisari, Sang Hyang
Surya, pahlawan yang agung.
Ya Tuhan dalam wujud MU
sebagai Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa Yang Maha Utama hamba bersujud kehadapan MU.
Puja Banten
Suci:
Candra-madhye
bhawet Suklah, Sukla-madhye sthitah Siwah.
Terjemahan:
Sang Hyang Surya berada
di dalam api. Di dalam matahari ada Bulan.
Di dalam Bulan ada
Kesucian.Di dalam Kesucian hadir Sang Hyang Siwa.
Smara-Stawa: Ginelarken
ring Pawiwahan.
Kamo
Dana-wati-patni, madani Madanas tatha.
Kandarpah
Soma-watis ca, Sri-jayani ca Manmathah.
Atanur
Nandini-Patni, Manasi-jas ca Harini.
Terjemahan:
Ya Tuhan, Dia Yang
Tanpa Raga Istri-Nya adalah wanita cantik.
Ratu bunga-bungan,
dengan wanita dihias.
Dewa Cinta- Istri-Nya
adalah wanita Dermawan,
Wanita yang
Membangkitkan gairah suami-Nya,
Dia yang dilahirkan
oleh pikiran (dan Istri-Nya) Wanita nan rupawan,
Dia Yang bendera-Nya
adalah Lumba-lumba dan wanita yang mempesona.
Kandarpa dan adalah
Wanita dari Air kehidupan (sebagai Istri).
Dia Yang Menggerakan
pikiran-pikiran dan Wanita Jaya yang sangat agung.
Dewa Cinta-Istri-Nya
adalah Nafsu,
Wanita putih rupawan
yang gemar beramadhi.
Dia Yang Tanpa Raga dan
Istri-Nya Wanita yang Membahgiakan.
Dia Yang dulahirkan
oleh pikiran dan wanita (seperti) menjangan.
Brahma-Stawa:
OM, Ang, Brahma namas catur-mukham,
Brahma-agni rakta warnan ca.
Sphatika-warn-dewata,
Sarwa-bhusana-raktanam.
Adya-agni Surya-sphatika,
Sarwa-satru-winasa nam,
Phat namah swaha.
Terjemahan:
Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Dewa
Brahma yang memiliki wijaksara ANG,
Sembah
hamba kehadapn Dewa Brahma Yang memiliki empat buah wajah.
Brahma
yang tiada lain adalah Agni, yang berwarna merah menyala.
Dewata
yang memiliki warna dan sinar bagaikan kristal.
Yang
hiasan-Nya semuanya berwarna merah.
Yang
senjata-Nya sangat sakti, yaitu Gada bertangkai penjang,
Yang
melindungi diri, yang hadir dan berada pada pusar,
Api
paling awal. Matahari dengan corak-warna kristal.
Penghancur
semua musuh.
Ya Tuha dalam wujud Mu sebagi Dewa Brahma
hamba bersujud kepada MU.
Mahadewa-Stwa:
Anggen ring pura Panataran.
Pita-warna
Mahadewa, Meru-kancana-bhaswaram.
OM Pascima pratistha lingam, Ratna-tejo
pita-warnam.
Surya-prabham
maha-wiryam, Sarwa-dewati-dewanam.
Bhusanam
sarwa-dewanam, Ratna-kancana-pradiptam.
OM
Terjemahan:
Ya
Dewa dari para Dewa, Yang Maha Agung, Dia yang bertangan empat yang Diri-Nya
adalah Rudra,
Dikau adalah berwarna
kuning, Mahadewa.
Yang termashur bagaikan
emas di atas Gunung Meru.
Tempat tinggal Mu ada
di Barat dan juga Lingga MU.
Dikau memiliki permata
yang berkilauan yang berwarna kuning,
Dikau memiliki pancaran
bagaikan Matahri yang gagah berani.
Dikau adalh seorang
Dewa yang lebih tinggi dari semua para Dewa.
Mahadewa adalah
penguasa tujuh pintu gerbang.
Dan juga adalah
pewujudan dari tujuh suku kata
Bhusana dan perhiasan
semua par Dewata.
Yang bersinar bagikan
permata emas.
Ya Tuhan dalam wujud MU
sebagi Dewa Mahadewa hamba bersujud kehadapan Mu.
Durga-Stawa: Anggen
ngstwa ring Pura Dalem:
Uma
Gangga Saraswati, Gayatri Waisnawi dewi.
Siwa-jagat-pati-dewi,
Durga ma-sarira-dewi.
Durga
bahu-cara-moksanam, Sarwa duhka-wimokanam.
Sarwa-papa-winasanam,
Sarwa pataka-nasanam.
Sarwa-jagat-pratisthanam,
Sarwa-dewa-anugrahakam.
Terjemahan:
Ya Tuha dalam wujud MU
sebagai Putri Dewi Pegunungan,Dewi para Dewa,
Dewi penopang
Dunia-dunia itu, Dewi yang Agung.
Dia adalah Dewi Uma,
Dewi Gangga,dan Dewi Saraswati,
Dewi Gayatri dan istri
Dewa Wisnu, sang Dewi.
Yang suci yang berada
di empat tempat (asrama),
Yang memiliki kekuatn
yang
Ratu/Dewi di dalam empat tingkatan
kehidupan,
Istri Sang Hyang Siwa Ratunya
dunia,
Dewi yang memiliki wujud sebagai
Bhatari Durga.
Dia disembah oleh seluruh dunia,
Menghilangkan semua rintangan di dunia,
Bhatari Durga, Yang menghasilakan keselamatan dari para Bhuta yang akan
mengganggu.
Yang menghancurkan segala
kejahatan, dosa dan kesengsaraan.
Ya Dewi para Dewa, yang memiliki kebijaksanaan agung,
Ratu- Dewinya Dunia, Yang
menghancurkan rintangan-rintangan, penolong bagi seluruh Dunia,
Yang menggabungkan di dalam Diri-Nya, keagungan semua para Dewa.
Iswara-Stawa : Anggen ngastawa
ring Pura Bale Agung.
Sweta-warna
sphatikantah, Sarwa-bhusan-swetanam.
Iswara-prakrti-dewam,
Sarwa-satru-winasanam,Phat swaha.
Terjemahan:
Ya Tuhan dalam
wujud MU sebagi Dewa Iswara, yang memiliki
Dia berwarna
putih dengan kilauan kristal (warna bening),
Dengan semua
perhiasan-Nya berwarna putih.
Yang
senjata-Nya, Petir / Halilintar yang sangat tajam,
Perlindungan
atas Atma (jiwa) bersthana di Kerongkongan,
Sang Hyang
Iswara adalah Dewata yang Utama,
Yang
menghancurkan semua musuh-musuh,
Samudra-Stawa:
Rudraya
Bhuwanesay, Siwa-Warunaya namah.
Rudraya
Bhuwanesaya, Waruna Siwa-sampurnam.
Terjemahan:
Ya Tuhan hamba bersujud dalam wujud Mu sebagai Dewa Siwa, kepada Dewa Sarwa.
Kepada Dewata para Dewa
hamba bersujud,
Kepada Dewa Rudra,
Penguas Dunia,
Hamba bersujud kepada
Dewa Waruna yang tiada lain adalah Dewa Siwa.
Dewa Siwa, Dewa laut,
yang menguasai tujuh samudra,
Dewa laut.tempat
menyimpan air samudra,
Kepada Dewa Rudra, Dewa
penguasa Dunia,
Dewa Waruna, Penjelmaan
Dewa Siwa Yang sempurna..
OM Hrang Hring Sah,
hamba bersujud kepada Sri Guru di Samudra yang patut di muiakan.
Wisnu-Stawa:
Kresna-warnam
sphatikantam, Sarwa-bhusana-nilanam.
Amrtham-jiwano
dewah, Sarwa-satru-winasanam, Phat Namah swaha.
Terjemahan:
Ya Tuhan sembah
sujud hamba kepada Dewa Wisnu dalam wijaksara Ung, Yang mempunyai tiga wajah,
tiga mata dan empat lengan.
Yang
berwarna hitam, dengan kulauan bening bagaikan kristal.
Yang
diperlengkapi dengan hiasan semuanya berwarna hitam.
Senjata-Nya
cakra yang teramat tajam,
Dia
melindungi jiwa-atma, yang bersthana di dalam hati / ampru.
Sang Dewata
Yang memberikan hidup dengan air kehidupan-Nya.
Wisnu-Stawa:
Anggen rikala ring Pura Puseh:
OM Pranamya sirase Wisnum, Tri-loke Brahma
Sawitri,
Iswara
loka-pawitram, Bhayam-nasti kadacanam.
Sambhu
mulya ta suksma, Ripu bhasmi durwinasa.
OM Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para-lingga
tri-sudewa
Bhasmi-bhuta
dur-winasa, Krta-roga dur-winasa.
OM
Rudro tri-nayano dewo, Bhayam
Bhaya-klesa,winasaya,
Bhasmi-klesa tri-kayakah.
OM Siwo Rudro Tri-nayanah, Suksma Surya
amrtani,
Siwas
Candram maha-punyam, Jayam satru-winasanam.
Terjemahan:
Ya Tuhan hamba
bersujud kepada Mu, dalam wujud Mu
sebagai Dewa Wisnu.
Di ketiga Dunia,
Dewa Brahma dan Dewi Sawitri,
Dan Dewa Iswara
pensuci Dunia.
Terdapat bahaya dari
mana-mana.
Dan Dewa Kuwera Yang
memberkahi kesejateraan.
Terwujud dalam si
manusia kesatriya.
Dewa Sambhu, Dia
yang mulia, Dia yang halus.
Yang menghancurkan
kejahatan dan para musuh sampai tak berdaya.
Dewa Sangkara, Dewi
Sri yang suci, Dewa Lingga yang tertinggi,
adalah Dewa agung
di tiga dunia.
Menghancurkan para
bhuta sampai tak berdaya.
Menghancurkan
pembuat keonaran sampai tak berdaya.
Dewa Rudra,Dewata dengan
tiga buah mata.
Bahaya telah
disucikan / dibersihakan jauh-jauh.
Bahaya, kehancuran
dan penderitaan disirnakan.
Menghancurkan
penderitaan di tiga dunia.
Dewa Siwa, Dewa
Rudra, Dia yang memiliki tiga mata.
Ajaib, Dewa
Matahari, Air kehidupan.
Dewa Siwa, Bulan,
kebaikan yang agung.
Kemenangan dan
kehancuran atas para musuh.
OM Sembah sujud kepada Dewa Siwa penganugrah kesucian.
OM Sembah sujud
kepada Dewa Siwa, Yang Diri-Nya adalah air kehidupan.
KUWERA-STAWA (
Rikala Piodalan Bhatara Sadhana).
Wisnu Sangkara
Bhu-pati, Dewa-diwyaya wai namah.
Upayam sadhanam
smrtham, Suci-dewa sri-sadhanam.
Dandopadrawa-sampurnam,
Krta-bhawanam sada-smrtham.
Terjemahan:
Ya
Tuhan dalam wujud Mu sebagai Brahma,Wisnu,Iswara dan Rudra,
Sembah
sujudku kepada Rudra Dewa yang mengerikan.
Dewa
Wisnu dan Dewa Sangkara Ratunya jagat raya.
Semah
sujud kehadapan para Dewata Yang Suci.
OM-kara
adalah wijaksara Sadasiwa.
Dia
disembah oleh seluruh Dunia.
Dia
dikenal sebagi jalan menuju cita-cita.
Dewata
Yang Suci, Dewa kesejahteraan.
Dia
dikenal sebagai penganugrah yang sangat ramah,
Wanita
Yang amat cantik,penitisan kembali dari Siwa.
Hukuman serta malapetak semuanya ditebus.
Dia dikenal
selalu memberikan kesuburan di bhumi.
SAMUDRA-STAWA, (Bharuna-stawa, Apah-Stawa
).
Anggen rikala ring Pelastian.
Gangga
ratnakara-dewi, Brahma-murti tri-bhuwanam.
Bharuna-dewan
ca dewanam, Lembu-Haro Hari-murti.
Sarwa-jagat
pratisthanam, Sarwa-marana sapurnam.
Siwa-amrtha
manggalan ca, Sri-Dewi jagat-pawitram.
OM Namah Siwaya wai namah, Nama
Wisnu-dwareswara,
Prabhu
wibhuh maha-amrtham, Sarwa pataka sapurnam.
Sarwa
Jagat sariranam, Ghora-wibhuh Giri-pati.
Rudra-Kalãgni-prabhan
ca, Sarwa, Marana,bhasmi-cittam.
Terjemahan:
Dewata
penguasa sungai Gangga,yang gagah berani.
Yang
memiliki kekuatan maha besar Dewa Brahma dan Wisnu.
Dewanya
Gangga lambing dari kesejahteraan.
Sebagai
manifestai dari Dewa Brahma penguasa ketiga dunia.
Dia
adalah sumber dari air, penguasa segala air di Dunia,
Bersemayam
di tempat ikan-ikan yang sangat mengerikan.
Waruna
adalah Dewanya para Dewa.
Para
Raksasa laut adalah penjelmaan dari Dewa Hari.
Dia
raja dari segala ular, yang memiliki wujud mengerikan.
Penguasanya
adalah Dewa Bharuna.
Berada
/ bersthana di pusat / pusar dunia.
Yang
menghancurkan semua penyakit yang mengerikan.
Dia
adalah sumber air, yang akan membawa keberuntungan,
Berwujud
semua benda yang ada di alam, Dewa Maha Suci Siwa.
Air
suci keberuntungan dalam kehidupan yang direstui Dewa Siwa.
Dewa
yang patut di muliakan yang mensucikan dunia se isinya.
Sembah
sujud kepada Dewa Siwa.
Sembah
sujud kepada Dewa Wisnu,raja yang menjaga pintu kedamaian.
Yang
bertugas memberikan bimbingan seluas-luasnya,
Wahai
air kehidupan, Yang dapat menghancurkan semua penderitaan.
Waduk
penyimpanan air, yang bertenaga besar,
Dewa
Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Maheswara,
Yang menguasai seluruh dunia ini sebagai
tubuh-Nya,
Sang
Panguasa yang mengerikan, Ratunya pegunungan.
Gunung-Nya
Dewa Indra, yang dijelmakan di dunia,
Penjelmaan
Dewi Gangga, yang memiliki keberanian tiada tanding,
Sang
Hyang Rudra yang bersifat raksasa, yang berkobar dengan kekuatan apiNya,
Yang
menghancurkan semua wabah penyakit sampai menjadi abu.
Ya Tuhan Dalam Wujud Mu sebagai Dewa
Waruna, hamba bersujud kepada Mu.
Brahma-Stawa : Anggen mamuja ring Pura Desa.
Om Isanah
sarwa widyanam, Iswar sarwa bhutanam
Brahmano-adhi-patir
Brahma, Siwo astu Sada-siwa.
Bhawe-bhawe
nadi-bhawe, Bhaja swa mam Bhawodbhawah.
Om Bang
Bama-dewaya namah,
Om Rudraya namah, Om Kalaya namah,
Om Balaya
namah,
Om Sarwa
Bhuta-damanaya namah,
Namah Siwaya Rudraya, Tan no Rudrah
pracodayat.
Sarwatah sarwa-sarwebhyo, Mama
rupebhyo namah swaha.
Terjemahan:
1. Ya Tuhan Ratu semua kebijaksanaan, Penguasa atas semua makhluk,Dia
adalah Brahma, Yang menghanugrahakan kebhagiaan, Ya Sang HyangSiwa yangKekal.
2. Hamba memohon erlindungan kepada-Nya, sembah sujud hamba kepada Dewa
Brahma sebagai pencipta, Dia Yang Ada, Yang ada-Nya tidak mengenal/mengetahui
permulaan-memihak padaku. Ya Dikau Yangasal usul dari yang ada.
3. Sembah sujud kepada Sang Hyang Bamadewa, Dia Yang paling-tua, Sang
Hyang Rudra, Kala, Penghancur Waktu, Kekuatan, Pengganggu, pengendali semua
makhluk, Yang menghantarkan pikiran ke keagunan.
4. Kami bekerja keras untuk Tat-purusa, kami juga bersemadhi untuk Dewata
Yang Agung, sembah sujud kepad Sang Hyang Siwa, Sang Hyang Rudra, semoga
demikianlah Sang Hyang Rudra memberkahi kami.
5. Kepada Dia Yang Menentramkan, Yang juga mengagumkan, Yang lebih
mengagumkan dari pada yang mengagumkan, Yang ada dalam semua rasa hormat
sempurna, Ya Sarwa, sembah kepada semua ciptaan-Mu, Ya Sang Hyang Rudra.
PRAJAPATI-STAWA (panguluning Setra)
Mata
mahas tu hrdaye, pita guhye tathaiwa ca.
Putra
daksina-pade ca, Wama-pade prpautrakah.
Tarpanam
sarwa pujanam, prasiddhantu namah swaha.
SRI-STAWA:
Prajna-wirya
sara-jneyah, cinta-manir- uru-smrta.
Daksina’stu
maha-bhaktya, jnatum wara mama stutim.
Dadasi me sada citram,
saubhagyam loka-pujitam.
Dadasi me maha bhogam,
Sarwa-drawya-hitam-labham.
Dadasi me sukham nityam,
Jiwitam dhatu-kancanam.
Mani-ratnasana-sthita,
sarwa-ratna-gunanwita.
OM Sri
Dhana-dewika ramya, sarwa-rupawati tatha,
Sarwa-jnana manis-caiwa,
Sri Sri-dewi namo’stu te.
Pujan caru Jigramaya (Karang panes):
Ih, Kita Sang Bhuta Jigramaya,
marupa manca warna, kita retuning Bhuta Kala Dhengen, makanak I Pamali Pulung
Raksa, I Undar-andir, ekadasa rowangan-ira, kita anggawe kapanjingan hyang
lalah, kasandering gelap, katiben amuk, kalebon amuk, kasirating rah, salwiring
cuntaka bhayaning pakarangan, kelebur kapunah den nira Sang Bhta Jigramangsa.
Pujan Pamahayu Pakarangan.
Nihan Pujaning Ngruwak utawi Nyapuh.
Ih, Sang Bhuta kala Ngadeg, Sang Bhuta kala Bongol, Sang Bhuta Kala
Pamatang, mwang ta kita Sang Sedhahan sawah/tegal, iki tadah sajin nira,
daksina banjotan, sega ireng iwak bawang jahe, mangke hulun anyapuh ikang sawah
/tegal, haywa sira mamiruddha.
Om, Nini Bhatari Sapuh Jagat, ingsun I Bandesa Wayah, I Kubayan Badung, I
Pasak Pancung, ingsun wus kalugraha de Bhatara Siwa, mangenahaken sawah tegal
palemahan iki, apan ingsun anaking Bhatara Guru, wus ingsun angasahang
palemahan iki, wastu asah sinah,3x. Aja sira mangadakaken gring desthi
pamala-pamali, iki tadah sajin nira sowing-sowang, poma, poma, poma.
Mantran nyapuh Pundukan utawi Baledan.
Om, Nini pamali wates, kaki pamali Wates, tan hana jurang pangkung, tan
hana lemah angr, tan hana bebaledan, tan han tunggak wareng, tan hana lemah
mandeg, aku Ibu Prethiwi anglebur ska lwiring hala. Om, Bhuta teka asih, Dewa
teka purna
Mantra makuh wewangunan.
Mantran Panyapsap wewangunan.
Sarana, payuk
pere misi toya anyar, ambengan 11 katih.
Mantran Angurip-urip wewangunan.
Om, Sa,Ba,Ta,A,I, na,Ma,Si,Wa,Ya, Wiswakarma prayojanam, Bhuwana kreta ya
namah, hayu wreddhi ya namah.
Ngemargiang Pangurip-urip.
Mantra Tirpa
pamlaspas wewanguan.
Om Sang HyangParama Wisesa sura sakti, sira
anguripaken sarwa tumuwuh, anguripaken wewangunan kabeh, purwwa,
ghneyan,daksina, nairiti, pascima, wayabya, uttara, airsanya, sor luhur, sami
padha kauripana den nira Sang Hyang parama Wisesa murti sakti, apupul dadi
sawiji,matemahan Sang Hyang Hayu Narawati, asih, asung amretha jiwa na urip.
Mantran Pamlaspas Wewangunan.
Om, Pukulun ta sira Sang Hyang Surya Candra, manusan
nira angaturaken saji tadah pawitra, lenga wangi buratwangi, kedik denpun
hangaturaken, agung pamilakunya, sira Sang Hyang Besrawana sira uriping taru,
sira jumeneng ring yasa, haywa ka ginggang, haywa ka gingsir, den tegteg pageh
salawasnya.
Ngayab banten Pamlaspas.
Om, Bhumi ginawe suddha, suddha bhumi, suddha taru,
suddha pring, suddha Dewat, suddha papa rogha wighna kang sarwa winangun, mur
hilang haneng swarga, suddha, suddha
wariasti ya namah swaha.
Mantran Lis.
Mantran Lis.
Om, Pukulun mangadeg sira sang Janur kuning, tumurun
Dewa Siwa, angadegaken lis, busung rineka maringgit, winastu den nira Bhatara
Siwa, makaron, sarwaning laluwes, maweh ratna komala winten, ma-wat mas, ya ta
anggoning hulun angilangaken leteh letuh, kaparisuddha den nira Bhatara Siwa, wastu
paripurnna ya namah.
Puja maguru piduhka:
OM Sang Hyang Predhana Purusa,
Sang Hyang Siwaguru, Sang Hyang Surya Candra manusan nira maguru piduhka,
hangaturaken pamahayon, wus katanggapa den nira sang Sedhahan Bhagawan
Panyarikan, henaka Bhagawad Citra Gopta Citra Goptri, manusa nira hanembah wat
tangan karo, handa sinmpura, minawi wenten sabda cacampur, linyok, leps
ucap-ucap, sawuh hatur, sampunta kari hangadakaken sasekerta, manusan nira
handa tirtha amretha ring sarwa Dewata kabeh.
Puja Panyepuhan:
OM
Nama Siwaya, Pukulun Sang Hyang Siwanirmala, Sang Hyang Siwatirtha, Sang Hyang
Surya Cadra Lintang Tranggana, makadi Sang Hyang Mahadewa, manusan nira
hangaturaken panyepuhan mala wighna, papa – pataka, hana weh tirtha-amreth
pamarisuddhaning sarwa kasaputan, karereban, kaletuhan walwyãkena paripurnna.
SARASWATI-STAWA:
Siddharambham karisyami, Siddhir bhawantu me sada.
Rupa-siddhi-prayukta
ya, Saraswati namamya-aham.
Nityam
padmalaya dewi, Sa mam patu saraswati.
Saraswati
samjnayani, Pranayan ya Saraswti.
Kalpa-siddhini
tantrani, Twat-prasadat samrabhet.
PARIKRAMANING
SEMBAH.
Parikramaning
sembah inggih punika ngeniang munggwing pepaletan rikala ngaturan sembah
pangubhakti majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manut sakawentenan yadnya
sane kalaksanayang, turmaning manut pituwas sang Yajmana karya. Malarapan antuk
manah sane suci nirmala galang apadang nyaba jero. Turmaning parikraman ipun
patut kategepin manut kadi dadudonan ipun.
1. ASUCI
LAKSANA:
Saderenge pacang lunga ka pura,
pinih riyin patut nyuciang angga sarira ne, mangdane nenten kaselimutin antuk
pikobet-pikobet ring sajroning pamargi ne pacang ke pura. Turmaning patut taler
iraga matur piuning ring mrajan soang-soang sadurunge jaga memargi ke pura.
2. SEKAR /
SARANA MUSPA:
Ri kalaning jaga pacang ngaturan
bhakti para semeton sinareng sami mangdane sampun sayaga ring kawentenan sarana
sane jaga anggen muspa, minakadi sekar miwah kawangen. Riantukan sekar pinaka
pralambang kasucianing pikahyunan, utsahayang mangdane nganggen sekar sane
miyik/harum, dumugi prasiddha nudut kahyune siddha manguh kasucian. Sampunang nganggen sekar larangan, sekar
sane tan dados anggen muspa/aturan manut daging lontar “Anggatya” Purana
lwirnyane:
a. Sekar sane
uledan.
b. Sekar sane
sampun aas utawi sane ulung tan kea lap.
c. Sekar sane
sampun layu utawi mayang.
d. Sekar sane
sampun surudan utawi layudan.
3.DHUPA / ASEP:
Dhupa utawi Asep minakadi pralambang
Ida Sang Hyang Agni, Ida pinaka dados saksinin Jagatte sami miwah pinaka
saksinin Yadnya, semaliha Ida pinaka pangesengan papa klesa dasamala ne sami.
4. SASANA miwah
LINGGIH:
Rikalaning jaga ngeranjing ka jroan
pura mangdane prasiddha memargi dadab, tat patut iraga jantos masuwug-suwugan,
saling maluwin, yan maka dados mangdane dadab trepti, manut sekadi tatujon ne
pacang tangkil ngaturan bhakti, malarapan antuk pikahyunan suci nirmala. Yan
prade sampun polih genah malinggih, mangdane malinggih sane becik. Elah tur
dangan, nenten saling timpahin, turmaning mangdane prasiddha mapadu arep ring
palinggih genahe pacang muspa. Lwir paetangan ipun, sane istri mangdane
masimpuh/matimpuh sane kewastanin Bajrãsana.
Sane lanang mangdane masila pened, sane kewastanin Padmãsana utawi Sidãsana.
5. PARIKRAMANING
SEMBAH:
Munggwing parikramaning sembah
dudonan nyane kemargiang manut kawentenan upacara utawi yadnya sane
kelaksanayang. Indik dudonan Panca Sembah manut sekadi ring sor punki. Inggih
punika;
a. Masila utawi
matimpuh:
(
Ya Tuhan dalam wujud Mu sebagai Sang Hyang Siwa, hamba Mu telah duduk tenang,
suci da tiada noda).
b. Mresihin tangan: Kanan/tengen;
Kiri /Kiwa ;
(Ya
Tuhan bersihkanlah dan sucikanlah kedua tangan hamba).
c. Ngaturan Dhupa:
(Ya
Tuhan dalam wujud Mu sebagai Brahma, hamba bersujud kepada MU, tajamkanlah
nyala dhupa kami sehingga dapat menyucikan kami seperti sinar-Mu)
d. Ngaturan Tabuh:
e. Sekar/puspa:
(
Ya Tuhan semoga bunga ini suci dan cemerlang).
f. Sembah Puyung:
(Ya
Tuhan dalam wujud Atma atau Jiwa dan Kebenaran, bersihkan dan sucikanlah hamba
Mu ini).
g. Muspa masarana antuk sekar, majeng ring Ida Sang
Hyang Siwãdhitya
OM, Adityasya param jyotir, rakta tejo
namo’stu te,
Sweta angkaja mandhyasta, Bhaskara ya
namo’stu te.
(
Ya Tuhan, Sinar Sang Hyang Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, kami
memuja-Mu, Sang Hyang Surya yang bersthana di tengah-tengah teratai putih, kami
memuja-Mu, yang menciptakan sinar matahari berkilauan).
h. Muspa
masarana antuk Kawangen, majeng ring Ida Bhatara utawi Istadewata sane kapuja
utawi sane keaturan pujawali. Ring Mrajan utawi ring Pura kahyangan Tiga lan
sane siyosan ring dija iraga ngaturan sembah, iriki puja pangastawane
matiyos-tiyoas manut Istadewata sane kapuja. Yan Ring Padmasana:
Padmasana eka pratistha,
Ardhanareswari ya namo namah.
( Ya Tuhan, Istadewata yang
bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Sang Hyang Siwa, yang berada di
mana-mana, kepada Istadewata yang bersemayam pada bunga teratai, kepada
Ardhanareswari hamba memuja-Mu).
Muspa
maserana antuk Kawangen utawi Sekar, majeng ring Ida Bhatara Samodaya nunas
Waranugraha:
OM
Anugraha manoharam, Dewa-datta nugrahakam,
Arcanam
sarwa pujanam, namah sarwãnugrhakam.
Dewa-dewi maha-siddhyam, Jñanan ca nirmalãtmakam.
Laksmi-siddhisca dhirgayuh,
nirwighna sukha-rweddhis ca.
( Ya Tuhan, Pemberi anugrah,
anugrah Dewata, pujaan dari segala pujaan, kami memuja-Mu, sebagai pemberi
anugrah, kemaha siddhian, keberhasilan, karena anugrah-Mu.
Para Dewata dan Dewi berwujud
yadnya pribadi suci, Yang menganugrahkan kebahagiaan, kesempurnaan, panjang
umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rokhani dan jasmani ).
j. Sembah Puyung:
OM Santhi
Santhi Santhi
(
Ya Tuhan, kami memuja-MU Dewata yang tidak terpikirkan, Maha Tinggi dan Maha Gaib. Ya Tuhan,anugrahkanlah kepada kami
semua ciptaan-Mu kedamaian, damai, damai, damai selalu.
Muspa ring Sang Hyang Tiga Guru:
Gurur saksat Param
Brahma, Tasmai Sri Gurawe namah.
( Ya Tuhan, Engkau berwujud
sebagai Tri Murti Guru, Brahma, Wisnu dan Maheswara, Engkau adalah Guru
tertinggi, dan pengasa agung, Tuhan adalah Guru sejati, kepada-Mu hamba menyembah).
Muspa ring Sang Hyang Saraswati:
OM Saraswati namas tubhyam, warade kama
rupini,
Siddharambham
karisyami, Siddhir bhawantu me sada.
OM Pranamya sarwa Dewan ca, Paramãtmanam ewa
ca
Rupa-siddhi
prayuktaya, saraswati namamy-aham.
(
Muspa ring
Pura Dalem:
Om Catur-Dewi Mahadewi, Catur-asrama Bhatari,
Siwa-jagat-pati
Dewi,
(
Ya Tuhan, Sakti-Mu, dipuja oleh catur-asram, Sakti dari Sang Hyang Siwa,
Raja semesta alam, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Durga, Ya Tuhan, hamba
memuja-Mu, anugrahilah sinar suci-Mu.
TIRTHA PUKULUH/tirtha Ida Bhatara: Kawentenan Tirtha Pukuluh utawi tirthan
Wangsuh pada Ida Bhatara, tirtha sane katuwur saking Ida Bhatara majalaran
antuk nunas
Patetibak nyane inggih punika:
Masirat ping tiga, tatuwek nyane
mangdane pikahyunan setata sucinirmala.
Minum ping tiga, tatuwek nyane
nyuciang ring kawentenan bebawosane.
Maraup ping tiga, tatuwek nyane
nyuciang ringkawentenan parilaksanane.
Masirat malih apisan, tatuwek nyane tatuwe
nyane nunas pamasuddhaning Atma miwah angga sarira dumugi setata sucinirmala.
BIJA, Bija/Wija, beras, galih
medagingtoya cendana, beras nyane sane keanggen wija mangdane berase sane
becik/mabulihan. Bija/wija maka pralambang/nyasa bibit kasucian sane mawit
saking pasuecan Ida Bhatara, pangaptine dumadak ja bibit/wija sane katuwur ring
Ida Bhatara prasiddha ngentikang kasucian ring sajroning angga sarirane miwah
ring bayu, sabda miwah idep.
Tatibak Bija:
Ring Siwadwara,
Maka pralambang/nyasa linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dumugi Ida ledang
setata nuntun ring sajroning kauripane.
Ring selaning
Lelata, Maka nyasa/pralambang mangdane pikahyunane setata suci nirmala.
Ring Dada, Maka
pralambang/nyasa, mangdane parilaksanane setata siddha mangguh karahayuan,
prasiddha dados tatuladan ring jagate, ngardi kasutreptyaning manah sang
mangaksi.
Maheled, Mangdane
prasiddha sekancaning bebawosane setata becik tur ngardi kerahajengan.
Inggih amunika prasiddha prasiddha antuk tityang mipil ring kawentenan
buku indik Sukrttaning ning Pamangku miwah Agem-ageman Kapamangkuan, janten
sampun makweh pisan kakirangan-kakirangan nyane ring sajroning daging buku
puniki. kakirangan-kakirangan nyane,
dumugi prasiddha dados jangkep, manut pangaptin iraga umat Hindu sinareng sami.
Maka panguntad hatur tityang tan lali nunas geng rena sinampura majeng ring
para umat Hindu sinareng sami, ring kawentenanan tityange nenten lempas ring
sane kewastaning Citta miwah Klesa. Dumadak ja buku puniki wenten pinkenoh
nyane, majeng ring para Pamangku anggen nyalarang ring sajroning nitenin
pamargin Sang Hyang agama.
Suksma.
OM Santhi Santhi Santhi
Ida
Pandita Mpu Jaya Acharyananda




